Artikel

Ketika pandemi munculkan ide leburnya ATP dan WTA

Oleh Jafar M Sidik

Ketika pandemi munculkan ide leburnya ATP dan WTA

Petenis Swiss Roger Federer membuka perdebatan paling menarik di dunai selama pandemi virus corona dengan menawarkan penyatuan ATP dan WTA. (REUTERS/Eric Gaillard/File Picture)

Jakarta (ANTARA) - Dua bulan tak menjalankan aktivitas biasa dan terus di rumah saja memang amat membosankan, apalagi bagi mereka yang terbiasa melanglang buana, supersibuk, dan agenda hidupnya dipenuhi jadwal yang sudah ditetapkan berbulan-bulan sebelumnya.

Namun waktu selama itu pula membuat orang berkesempatan merenung yang tak jarang menghasilkan ide-ide menggugah atau cemerlang yang tak jarang menentukan di kemudian hari.

Itu pula yang terjadi pada banyak orang selama lockdown akibat pandemi virus corona yang membuat lebih dari separuh penduduk Bumi terkurung di dalam rumah dan tak bisa bergaul dengan sesamanya kecuali secara virtual.

Salah satunya Roger Federer.

"Ingin tahu saja, apakah saya satu-satunya orang yang menganggap kini saatnya tenis putra dan putri dipersatukan?", cuit petenis yang bersama Rafael Nadal dan Novak Djokovic mendominasi arena tenis profesional dalam tahun-tahun belakangan ini

Celotehan Federer itu seketika diamini rekan-rekannya sesama petenis top dunia, baik putra maupun putri, termasuk Nadal dan Djokovic, sampai Andy Murray segala.

"Anda bukan satu-satunya," cuit petenis putri peringkat dua dunia, Simona Halep.

Baca juga: Osaka beradaptasi jadi orang rumahan selama masa pandemi

Tak seperti kebanyakan cabang olah raga individual, dalam tenis ada dua payung besar yang menaungi kepentingan atlet putra dan atlet putri yang mengatur mulai soal hadiah turnamen sampai aturan pertandingan.

Dua besar itu adalah Asosiasi Pemain Tenis Profesional (ATP) yang memayungi tenis putra yang dibentuk September 1972 guna melindungi kepentingan para pemain tenis profesional.

Satunya lagi adalah Asosiasi Tenis Wanita (WTA) yang dibentuk pada Juni 1973 oleh petenis legendaris Billie Jean King dengan tujuan demi masa depan petenis putri yang lebih baik.

Tentu saja ada beberapa organisasi lain yang menaungi tenis, tak sekadar kedua itu, katakanlah Federasi Tenis Internasional (ITF) atau bahkan empat turnamen Grand Slam yang dikelola sendiri-sendiri itu.


Rumit dan butuh lepas ego

Billie Jean King sendiri sejak awal 1970-an menginginkan kesatuan tenis putra dan putri. Tak heran jika dia langsung menyambar gagasan Federer tersebut.

"Saya setuju dilebur. Satu suara, putri dan putri bersatu, sudah sejak lama jadi visi saya untuk tenis. WTA sendiri selalu dinomorduakan," cuit King.

Tidak seperti bulu tangkis misalnya, tenis acap menyapih sebagian turnamennya khusus untuk putri dan lainnya untuk putra. Sekalipun begitu, banyak juga turnamen yang melibatkan putra dan putri, termasuk semua dari empat turnamen Grand Slam.

Baca juga: Wimbledon tahun ini dibatalkan karena pandemi virus corona

Ini membuat tenis kurang berhasil menarik penggemar luas secara utuh karena harus memperhatikan begitu banyak turnamen dengan jadwal berbeda-beda yang itu pun berbenturan dengan event-event lain, misalnya turnamen atau kompetisi sepak bola.

Padahal, tenis adalah cabang olah raga dengan basis penggemar terbanyak kelima di dunia. Khususnya populer di Eropa, Amerika dan Asia, tenis memiliki basis penggemar sampai 1 miliar manusia.

Empat tingkat di atas tenis ada sepak bola yang digemari 3,5 miliar penggemar. Kriket menyusul dengan 2,5 miliar penggemar. Sedangkan bola basket dan hoki menempati urutan ketiga dan keempat masing-masing dengan 2,2 miliar dan 2 miliar penggemar.

Selama ini penonton tenis sering harus memilih turnamen yang kerap disapih antara putra dan putri, selain oleh banyaknya turnamen.

Keadaan ini juga mendorong sponsor dan pemegang hak siar harus menakar bobot audiensi sebuah turnamen karena ini faktor penting bagi mereka yang fundamental bisnis berangkat dari seberapa banyak pemirsa yang bisa digaet dari sebuah event.

Baca juga: ATP dan WTA tangguhkan turnamen hingga 7 Juni terkait corona

Untuk itu, menggabungkan tur yang merupakan kerja rumit dan butuh keberanian dalam melepaskan ego, bisa menciptakan keterpaduan dalam hal sponsor dan hak siar.

Penggabungan juga dapat menawarkan pengalaman yang lebih koheren kepada penggemar yang selama ini biasa berlangganan berbeda macam saluran dan televisi ketika hendak mengikuti semua, atau kalau tidak sebagian besar, pertandingan tenis baik sektor putra maupun putri.

Peleburan ATP dan WTA juga memungkinkan kian rampingnya kalender tenis, sekalipun misalnya turnamen tenis putri dan putra tetap digelar terpisah.

Peleburan juga menghilangkan perbedaan dalam aturan. WTA misalnya, membolehkan pelatih mendampingi pemain di pinggir lapangan saat bertanding, sebaliknya ATP tidak.


Cuma kebagian 1,5 persen

Keterarahan dan kesejahteraan, di samping tentu saja kesetaraan dan tenis yang dinikmati sebanyak mungkin audiens, agaknya yang paling menggejala di balik prakarsa Federer yang bersama Nadal dan Djokovi berinisiatif mendirikan dana guna membantu para petenis peringkat rendah yang menderita karena tak ada turnamen selama pandemi.

Pimpinan ATP dan WTA sendiri dalam beberapa bulan terakhir sudah berusaha menjembatani perbedaan kedua tur, bahkan sebelum krisis ekonomi yang diakibatkan pandemi virus corona.

Pada Australia Open Januari silam, Presiden WTA Micky Lawler bertemu dengan Presiden ATP Andrea Gaudenzi, guna membahas cara-cara mendekatkan hubungan kedua organisasi tenis.

Baca juga: ITF gandeng ATP dan WTA bantu atlet terdampak pandemi COVID-19

Andrea Gaudenzi, mantan petenis Italia yang ditunjuk memimpin ATP Tour Januari lalu di antaranya karena kerap mendorong kerja sama ATP dan WTA yang lebih erat dengan memaparkan keuntungan komersial jika kedua badan ini menjadi kekuatan yang menyatu.

Dia bahkan menginginkan kebersamaan itu juga terjadi pada empat turnamen Grand Slam yang selama ini dikelola sendiri-sendiri.

Sebelum pandemi, Gaudenzi sudah mempresentasikan pandangan-pandangannya ke semua pemimpin tenis yang menjabarkan laporan SportBusiness Consulting bahwa taksiran nilai hak siar media global pada 2018 mencapai 49 miliar dolar AS. Dari angka sebesar itu tenis profesional cuma kebagian 1,5 persennya.

"Kebanyakan olahraga didominasi laki-laki dalam hal audiens," kata Gaudenzi. "Jadi ini keuntungan besar bagi tenis karena di dunia saat ini baik televisi pemegang hak siar maupun sponsor ingin merengkuh baik audiensi putra maupun putri."

Muaranya memang kembali ke finansial ternyata dan kerugian besar finansial yang juga dirasakan semua cabang olah raga selama pandemi virus corona telah mengintensifkan debat global mengenai pentingnya merger WTA dan ATP sekalipun wacana ini sudah ada bahkan hanya beberapa tahun setelah WTA berdiri.

Baca juga: Murray dukung Federer pada wacana peleburan ATP-WTA

Tapi jangan salah juga, penentangan terhadap ide merger ini pun besar, terutama dari para petenis putra yang disebut Murray "seksis". Nick Kyrgios salah satunya.

Kyrgios yakin tour yang saat ini berjalan yang telah mengundang banyak penonton dan banyak hadiah itu harus tetap diadakan sendiri-sendiri.

Lebih buruk lagi, ada keraguan, seperti analisis ESPN, begitu pandemi selesai, semua orang akan kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing dan kemudian melupakan prakarsa Federer ini.

Tetapi Billie Jean King yakin kali ini gaungnya akan lebih mengusik dunia tenis karena disampaikan oleh para raja tenis.

"Jika para petenis seperti Federer dan Nadal turun tangan, segalanya bisa terjadi," kata King.

Baca juga: Federer donasikan 16,5 milyar rupiah untuk keluarga terdampak COVID-19
Baca juga: Rafael Nadal sediakan penampungan bagi petenis muda
Baca juga: Djokovic sumbang satu juta euro ke Serbia untuk perangi virus corona

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Irwan Suhirwandi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tenis Ganda Campuran menjadi penutup yang manis

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar