Menristek: Ventilator produksi Indonesia, sebagian masih uji ketahanan

Menristek: Ventilator produksi Indonesia, sebagian masih uji ketahanan

Karyawan menunjukkan penggunaan Pindad Ventilator Resusitator Manual (VRM) di Bandung, Jawa Barat. Pindad VRM yang dirancang dan dikembangkan bersama tim ahli medis dari RSU Pindad ini merupakan alat bantu pernapasan bagi pasien COVID-19 dan saat ini sedang dalam proses uji coba kelaikan ke Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan. Pindad VRM ini dibandrol hanya dengan harga Rp10 juta per unit. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/wsj/pri.

Sehingga diharapkan pertengahan Mei ini kita sudah bisa melihat ventilator produksi Indonesia yang diproduksi oleh mitra industri
Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang P. S. Brodjonegoro mengatakan sebagian ventilator karya anak bangsa saat ini masih uji ketahanan sebagai tahap akhir sebelum digunakan untuk penanganan COVID-19.

"(Saat ini, red.) di BPFK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan) Kemenkes, sebagian masih melakukan uji 'endurance' (ketahanan)," katanya dalam konferensi pers di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Minggu.

Setelah melalui uji ketahanan, kata dia, ventilator tersebut selanjutnya akan diuji secara klinis dengan perkiraan memakan waktu selama sepekan.

"Sehingga diharapkan pertengahan Mei ini kita sudah bisa melihat ventilator produksi Indonesia yang diproduksi oleh mitra industri," katanya.

Untuk memproduksi ventilator tersebut, Kemenristek bekerja sama dengan beberapa BUMN dan pihak swasta.

Sebanyak empat prototipe ventilator yang saat ini sudah melalui proses pengujian BPFK dan sedang diuji secara klinis adalah prototipe yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta dari salah satu perusahaan swasta, PT. Dharma.

Baca juga: UI siap produksi 1.000 ventilator lokal COVENT-20

Menristek Bambang Brodjonegoro berharap, produksi ventilator tersebut ke depan dapat memenuhi kebutuhan dalam perang melawan COVID-19.

Berdasarkan diskusinya dengan Kemenkes, dibutuhkan sekitar 1.000 ventilator jenis continuous positive airway pressure (CPAP) dan sekitar 668 ventilator jenis Ambu Bag.

"Nah, yang jenis Ambu Bag yang dibuat BPPT misalkan, itu bisa juga dipakai untuk ruang instalasi gawat darurat (IGD) atau ruang 'emergency' (gawat darurat). Jadi sangat membantu pasien yang kebetulan sedang berada dalam kondisi 'emergency'," katanya.

Sebagian dari ventilator lainnya, kata dia, dapat digunakan untuk pasien yang berada di ruang operasi sehingga penanganan pasien COVID-19 diharapkan dapat semakin optimal.

"Ke depan kita akan mengembangkan juga ventilator yang nantinya bisa dipakai di intensive care unit (ICU) yang tentunya butuh waktu beberapa bulan untuk kami mengembangkan sehingga insyaallah satu saat kita akan bisa memproduksi ventilator untuk ICU yang dibuat di Indonesia," kata Bambang.

Baca juga: Kemenperin dukung percepatan produksi ventilator
Baca juga: Menristek: Produksi awal 200 ventilator portabel pada Mei 2020
Baca juga: Erick Thohir coba sinergikan penemu ventilator dan industri pertahanan

Pewarta: Katriana
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menristek dorong alat uji COVID-19 buatan UGM & LIPI

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar