Gelar RDP dengan Kementan, DPR kritisi turunnya harga gabah

Gelar RDP dengan Kementan, DPR kritisi turunnya harga gabah

Ilustrasi. Buruh membersihkan gabah yang baru dipanen di persawahan Blimbingsari, Banyuwangi. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/hp.

Keluhan petani saat ini pada saat panen, mereka tidak bisa menjual gabahnya karena kadar air yang terlalu tinggi
Jakarta (ANTARA) - Komisi IV DPR RI pada Senin menggelar rapat dengar pendapat virtual bersama Kementerian Pertanian, guna membahas finalisasi realokasi anggaran dan refocusing kegiatan dalam rangka percepatan penanganan COVID-19.

Dalam rapat tersebut, Ketua Komisi IV DPR Sudin dari fraksi PDIP turut mengkritisi kondisi petani yang mengalami turunnya harga gabah pada masa panen ini karena kadar air yang tinggi.

"Keluhan petani saat ini pada saat panen, mereka tidak bisa menjual gabahnya karena kadar air yang terlalu tinggi," kata Sudin dalam rapat virtual bersama Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin.

Sudin menjelaskan bahwa pada periode tahun lalu, Kementan berencana mengalokasikan 1.000 unit pengering (dryer) untuk memfasilitasi petani pada masa pascapanen agar kadar kualitas gabah sesuai dengan harga pembelian. Namun demikian, bantuan tersebut belum direalisasikan.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi menilai bahwa seharusnya pandemi COVID-19 ini menjadi berkah bagi petani yang sedang memasuki masa panen.

Namun demikian, dengan curah hujan yang tinggi menjelang masa panen, harga gabah di pasaran menjadi rendah karena kadar air berlebih dalam gabah yang mengakibatkan tidak sesuai harga jual.

"Harga gabah di pasaran rendah dan ini membebani petani karena bobotnya tidak sesuai harapan. Saya mendukung agar ada pengering gabah digital sehingga petani tidak mengalami masalah menumpuknya gabah dengan bobot tinggi tapi basah," kata Dedi.

Dedi menambahkan bahwa petani juga mengalami antrean produksi beras karena mesin penggiling gabah yang umumnya sudah tidak mumpuni atau sehingga menghambat produktivitas.

Ada pun untuk mengantisipasi turunnya gabah, Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah atau Beras.

Dalam ketentuan tersebut, HPP gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik menjadi Rp4.200 per kg dan di penggilingan menjadi Rp4.250 per kg.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian juga mendorong agar penggilingan padi dapat memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian guna mendapatkan modal agar bisa menyerap atau membeli gabah petani, terutama pada masa panen raya ini.

"Mengakselerasi kegiatan penggilingan padi yaitu dengan mengupayakan agar penggilingan padi mendapatkan modal melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp500 juta per penggilingan untuk modal menyerap gabah petani," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Baca juga: Antisipasi harga gabah jatuh, Kementan kaji bantuan selisih harga
Baca juga: Harga gabah di Lampung pada November naik

 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

​​​​​​​Pergeseran puncak panen jadi faktor penurunan pertanian Sumbar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar