Analis catat perubahan perilaku konsumen karena COVID-19

Analis catat perubahan perilaku konsumen karena COVID-19

ilustrasi - Seorang konsumen membuka aplikasi Tokopedia yang berkampanye dukung pedagang lokal di bulan Ramadhan. ANTARA/HO-Tokopedia/am.

Penerapan langkah-langkah social distancing dan gerakan sosial tidak membuat hidup kita berhenti
Jakarta (ANTARA) - ADA, perusahaan analisis data dan kecerdasan buatan (AI), mencatat adanya perubahan drastis pada rutinitas harian masyarakat yang menghasilkan perilaku konsumen baru karena adanya COVID-19.

"Penerapan langkah-langkah social distancing dan gerakan sosial tidak membuat hidup kita berhenti. Banyak konsumen telah beradaptasi dengan cepat dan terus melakukan apa yang telah mereka lakukan, tetapi dengan cara digital. Misalnya bekerja, belajar, melakukan olahraga dan latihan, dan sebagainya," kata Managing Director ADA di Indonesia Kirill Mankovski dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.

Berdasarkan data ADA, pada akhir Februari 2020 hingga minggu ketiga Maret, aktivitas di kawasan pusat bisnis Jakarta mengalami penurunan sebesar 53 persen.

Perubahan perilaku komuter itu juga berakibat pada jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan dan restoran cepat saji. ADA menemukan sejak 15 Maret, kunjungan ke sejumlah mall di Jakarta menurun hingga 50 persen dibandingkan awal tahun 2020.

Hal itu juga mempengaruhi jumlah kunjungan orang ke pusat kebugaran yang berada di dalam mal. Alhasil, banyak individu yang memutuskan untuk melakukan aktivitas kebugaran di rumah, dengan mengandalkan aplikasi kesehatan dan kebugaran demi menjaga fisik dan gaya hidup sehat.

Di sisi lain, ADA mencatat peningkatan penggunaan aplikasi produktivitas, yang naik lebih dari 150 persen pada pertengahan Maret dengan screen record dan aplikasi anti-virus sebagai yang paling banyak digunakan.

Beberapa aplikasi produktivitas lain yang digemari oleh pengguna adalah aplikasi yang dapat menggantikan pertemuan fisik dan mempertahankan interaksi.

Setidaknya ada enam perilaku konsumen baru yang disebut sebagai Crisis Persona (Persona Krisis) teridentifikasi muncul di Indonesia yakni The Adaptive Shopper, The Brave One, The Market Observer, The Bored Homebody, The Health Nut, dan The Yearning Traveler.

"Melalui analisis penggunaan beberapa aplikasi, serta perubahan gerakan fisik, kami mengidentifikasi berbagai karakter berdasarkan reaksi mereka terhadap krisis. Ada beberapa yang telah secara dramatis meningkatkan penggunaan aplikasi keuangan mereka, ada yang semakin giat menggunakan aplikasi hiburan ketika berada di rumah. Ada pula juga beberapa yang terus bepergian ke tempat kerja dan tidak mengubah perilaku online-nya karena tidak semua bisnis berhenti beroperasi, terutama industri-industri vital," kata Kirill.

The Adaptive Shopper adalah mereka yang beradaptasi dengan cara baru untuk memenuhi kebutuhan dengan berbelanja daring. Hal itu dibuktikan dengan penggunaan aplikasi belanja yang meningkat hingga 300 persen.

The Brave One adalah pekerja yang berada di garis terdepan. Sementara The Market Observer adalah mereka yang tetap memonitor kondisi saham dan mata uang untuk melihat implikasi finansial atau peluang pasar.

Selanjutnya, The Bored Homebody adalah mereka yang menghabiskan waktu mencari hiburan dengan bermain games atau menonton.

The Health Nut yakni mereka yang menggunakan aplikasi kesehatan untuk memonitor kondisi fisik dan mental.

Terakhir, The Yearning Traveler adalah mereka yang memikirkan perjalanan yang akan dilakukan setelah krisis berakhir.


Baca juga: Ekonom sarankan UMKM fokus pada kebutuhan konsumen saat pandemi

Baca juga: BPKN keluarkan panduan informasi konsumen darurat pandemi COVID-19

Baca juga: Badan perlindungan konsumen beri saran terkait COVID-19


 

Pewarta: Ade irma Junida
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar