WFH berpotensi picu "baby boom"

WFH berpotensi picu "baby boom"

Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo berbicara dalam acara peluncuran web siapnikah.org yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Senin (4/5/2020). (ANTARA/Katriana)

Biasanya 15 persen di antaranya hamil atau sekitar 400 ribu angka kehamilan
Jakarta (ANTARA) - Bekerja dari rumah (WFH) selama pandemi COVID-19 berpotensi memicu peningkatan angka kelahiran (baby boom) jika pasangan acuh terhadap kontrasepsi.

"Sangat mungkin korelasinya, karena ketika suami-istri jadi satu di rumah dan 'stay at home' tidak dimungkiri kontak seksual akan terjadi dan ini hal lumrah yang manusiawi," kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo melalui sambungan telepon, Rabu siang.

Hasto mengatakan, jika sepuluh persen saja pasangan lalai menggunakan alat kontrasepsi seperti suntik atau susuk, minum pil dan jenis lainnya, akan berisiko tinggi terhadap kehamilan.

Berdasarkan data resmi BKKBN, kata Hasto, jumlah pasangan usia subur di Indonesia mencapai 28 juta pasangan.

"Kalau turun 10 persen saja penggunaan kontrasepsi dari 28 juta pasangan usia subur, maka ada 2,8 juta pasangan yang berpotensi hamil," katanya.

Baca juga: BKKBN sarankan pasangan suami istri tunda kehamilan di masa pandemi

Bila secara biologis suami-istri berhubungan intim dua sampai tiga kali dalam sepekan, maka secara teori sekitar 15 persen di antaranya akan hamil. "Biasanya 15 persen di antaranya hamil atau sekitar 400 ribu angka kehamilan," katanya.

Hasto berpesan kepada masyarakat untuk peduli terhadap penggunaan alat kontrasepsi dalam upaya mencegah "baby boom".

"Itu yang membuat kita perlu sosialisasi dan kerja keras tunda hamil dulu. Jangan sampai terjadi 'baby boom'," katanya.
Baca juga: BKKBN luncurkan gerakan kawal kesiapan nikah generasi milenial

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Fase transisi, aktivitas perkantoran kembali berjalan

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar