Yogyakarta intensifkan pelacakan penularan COVID-19 semua klaster

Yogyakarta intensifkan pelacakan penularan COVID-19 semua klaster

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya (Eka AR)

Kota Yogyakarta dengan luas terbatas dan berbatasan langsung dengan Sleman dan Bantul menjadikan potensi penularan sangat mudah
Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menindaklanjuti terkonfirmasinya sejumlah klaster penularan COVID-19 di DIY dengan mengintensifkan pelacakan kontak dari semua klaster, termasuk potensi penularan dari satu swalayan di Kabupaten Sleman.

“Kota Yogyakarta dengan luas yang terbatas dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman dan Bantul menjadikan potensi penularan sangat mudah. Kami pun terus berkoordinasi dengan seluruh kabupaten di DIY untuk proses tracing,” kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardaya di Yogyakarta, Rabu.

Baca juga: Gugus Tugas: Mulai terjadi transmisi lokal COVID-19 di Yogyakarta

Hingga Selasa (5/5), di Kota Yogyakarta terdapat tambahan enam kasus positif COVID-19 yang seluruhnya berasal dari klaster gereja.

Tambahan kasus tersebut juga tidak terlepas dari hasil pelacakan terhadap pasien positif di Kota Yogyakarta yang kebetulan pernah mengikuti pertemuan gereja di Jakarta yang kemudian berlanjut di Semarang dan di Yogyakarta.

Selain itu, terdapat tambahan lima pasien dalam pengawasan (PDP). Beberapa di antaranya dicurigai terpapar setelah menerima tamu dari berbagai daerah, namun ada juga yang dicurigai terpapar di tempat kerja yaitu di salah satu swalayan di Kabupaten Sleman. Swalayan tersebut kini sudah ditutup dan karyawan menjalani tes cepat.

Baca juga: Yogyakarta terima bantuan Rp2,5 miliar untuk penanganan COVID-19

“Untuk PDP dan warga yang melakukan kontak dekat akan menjalani rapid test. Jika hasilnya reaktif, maka akan dilakukan isolasi dan warga tersebut menjalani uji swab,” katanya.

Tri menambahkan beberapa klaster penularan lain yang sudah muncul di DIY seperti dari jamaah tabligh juga tetap ditelusuri. “Jika ditemukan, maka akan langsung lakukan rapid test,” katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan mobilitas orang keluar masuk ke Kota Yogyakarta sangat terbuka.

Baca juga: Untuk warganya yang tak mudik, Sultan HB X sampaikan terima kasih

“Makanya, tracing harus terus dilakukan dan dilanjutkan dengan rapid test. Tujuannya untuk bisa mendeteksi kondisi penularan virus corona sudah sampai sejauh mana,” katanya.

Ia menyebut tes cepat COVID-19 di Kota Yogyakarta memang lebih banyak ditujukan untuk hasil pelacakan dari kasus-kasus yang sudah muncul dan bukan dilakukan secara terbuka seperti di kabupaten lain.

“Di beberapa klaster, memang tidak ditemukan warga yang berasal dari Kota Yogyakarta, tetapi kelompok-kelompok tersebut pernah menggelar acara di Yogyakarta,” katanya.

Saat ini, Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta menyiapkan sekitar 2.000 tes kit untuk pelaksanaan tes cepat.

Baca juga: Dampak COVID-19 sebanyak 1.488 pekerja di Yogyakarta dirumahkan
​​​​​​​


Pewarta: Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menteri ATR: tanah adat bukan objek tanah telantar

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar