Titimangsa Olahraga

Mengenang 37 tahun laga legendaris Icuk Sugiarto kontra Liem Swie King

Oleh Shofi Ayudiana

Mengenang 37 tahun laga legendaris Icuk Sugiarto kontra Liem Swie King

Kolase Icuk Sugiarto (kiri) dan Liem Swie King (kanan), dua pebulu tangkis yang melakoni pertarungan legendaris dalam All Indonesian Final tunggal putra Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis di Kopenhagen, Denmark, pada 8 Mei 1983. (Arsip Antara)

Jakarta (ANTARA) - Tepat 37 tahun lalu, ribuan penonton yang hadir di Brondby Hallen tak jauh dari ibu kota Denmark Kopenhagen, dipaksa menahan napas kala dua pebulu tangkis Indonesia bertarung sengit dalam partai final Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 1983. Laga berjuluk All Indonesian Final itu menghiasi banyak laporan media asing.

Dalam Kejuaraan Dunia ketiga itu Icuk Sugiarto, seorang pebulu tangkis muda Indonesia sukses menumbangkan seniornya yang jauh lebih berpengalaman dan bertabur prestasi di kancah internasional, Liem Swie King, dengan skor 15-8, 12-15, 17-16.

Kantor Berita Prancis AFP mencatat partai final tersebut sebagai "pertarungan terbesar dalam bulu tangkis dunia."

Surat sabar Singapura The Straits Time menyebutnya sebagai "pertarungan yang akan masuk dalam sejarah bulu tangkis sebagai salah satu pertandingan terbaik yang pernah ada."

Baca juga: Bulu tangkis secepatnya gelar lagi turnamen

All Indonesian Final tersaji setelah Icuk dan King sukses melewati wakil-wakil China, Denmark dan India yang saat itu merupakan kubu-kubu kuat berbagai ajang tepok bulu dunia.

Jagoan Denmark, Morten Frost Hansen, yang kala itu dianggap sebagai pemain terkuat Eropa sukses disingkirkan Icuk di babak perempat final, sementara King menghentikan perlawanan wakil China, Chen Changjie.

Lantas di semifinal Icuk bangkit untuk menaklukkan pebulu tangkis top India, Prakash Padukone, 9-15, 15-7, 15-1, sedangkan Han Jian yang menjadi lambang keperkasaan China saat itu dibuat tak berkutik oleh King 15-9, 15-3.

Sebagian kalangan menganggap laga Icuk vs King sebagai sebuah antiklimaks lantaran kedua kompatriot itu tampak bermain lebih santai tak seganas di babak-babak sebelumnya.

Baca juga: Susy Susanti: ada tiga sektor yang jadi kekuatan Indonesia di WJC 2020

Kendati demikian, anggapan itu patut dibuang ke keranjang sampah, sebab tak ada yang santai dari bertarung selama satu jam 33 menit, memecahkan rekor durasi, untuk menentukan pemenang sebuah pertandingan satu lawan satu. Durasi yang panjang itu tidak lepas dari penggunaan format lama berupa sistem skor 15, best of three dan deuce at 13 and 14.

Halaman selanjutnya: King mengambil poin...

Oleh Shofi Ayudiana
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar