Riset vaksin COVID-19 jadi fokus utama program kerja sama EU dan ASEAN

Riset vaksin COVID-19 jadi fokus utama program kerja sama EU dan ASEAN

Tangkapan layar: Duta Besar EU untuk ASEAN Igor Driesmans dalam telekonferensi dengan wartawan, Jumat (8/5/2020). (ANTARA/Suwanti)

Jakarta (ANTARA) - Duta Besar EU untuk ASEAN Igor Driesmans menyatakan bahwa riset menjadi fokus utama dalam kerja sama antara kedua blok kawasan, khususnya yang mengarah pada penemuan vaksin di tengah situasi pandemi COVID-19.

"Kita tahu betapa pentingnya penemuan vaksin saat ini, karena tidak akan tercapai keselamatan jangka panjang tanpa vaksin. Dan riset harus terlibat untuk itu," ujar Driesmans dalam telekonferensi dengan wartawan, Jumat.

Dia menjelaskan bahwa pada 4 Mei lalu Komisi Eropa sudah meluncurkan konferensi riset global sekaligus mengucurkan dana senilai 7,4 miliar euro (setara Rp120 triliun) khusus untuk proyek riset vaksin di seluruh dunia.

"Namun yang lebih penting daripada dana itu adalah bahwa kami ingin melakukan riset dalam langkah kolaborasi, yakni dengan saling berbagi data melalui platform yang terhubung antar-organisasi keilmuan dan universitas," kata Driesmans menambahkan.

Kolaborasi merupakan jalan yang harus diambil saat ini, mengingat bahwa pandemi COVID-19 adalah krisis global, dan bukan waktunya untuk berkompetisi ataupun saling menyalahkan.

Kepada ASEAN sendiri, EU telah mengajukan sebanyak 18 proyek ilmiah dalam EU Horizon 2020, di mana lembaga keilmiahan dan universitas dari kedua kawasan ini bekerja sama, misalnya dengan membuat pemodelan dalam riset yang dianggap banyak ilmuwan sebagai langkah baik untuk menyelesaikan pandemi.

Di samping itu, EU dan ASEAN juga akan terus melanjutkan kerja sama dalam bidang pendanaan, "karena sebagaimana diketahui, krisis wabah ini memukul keras EU dan ASEAN sehingga kita perlu menjalin solidaritas."

EU menyalurkan dana bantuan sejumlah lebih dari 350 juta euro (sekitar Rp5,7 triliun) kepada negara-negara anggota ASEAN. Indonesia, misalnya mendapat alokasi dana sebesar 6 juta euro (setara Rp97 miliar) untuk lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada isu kesehatan masyarakat, konseling psikososial, dan penyalur alat kesehatan bagi masyarakat rentan.

Kemudian contoh lainnya di Myanmar, dana sebanyak 5 juta euro (sekitar Rp81 triliun) disalurkan untuk menjamin keberlangsungan hidup dan pemulihan para pekerja garmen perempuan yang diberhentikan.

Baca juga: Lewat siaran virtual, Misi EU untuk ASEAN luncurkan "Blue Book 2020"
Baca juga: EU kucurkan 10 juta Euro tingkatkan kapasitas atasi bencana ASEAN

 

Pewarta: Suwanti
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Terima EU-ASEAN Business Council, Jokowi: jangan diskriminasi sawit!

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar