Gugus Tugas: Bantul sudah habiskan 2.800 alat "rapid test" COVID-19

Gugus Tugas: Bantul sudah habiskan 2.800 alat "rapid test" COVID-19

Pelaksanaan "rapid test" COVID-19 secara massal yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul, DIY, Sabtu (9/5/2020). (FOTO ANTARA/Hery Sidik)

Sampai saat ini pelaksanaan "rapid test" di Bantul telah menghabiskan 2.800 alat, melalui pemeriksaan itu ditemukan sekitar 30 orang menunjukkan hasil reaktif atau positif melalui "rapid test"
Bantul, DIY (ANTARA) - Gugus Tugas Percepatan, Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga kini telah menghabiskan sebanyak 2.800 alat rapid diagnostic test (RDT) guna melakukan pemeriksaan terhadap warga yang rentan terpapar virus corona jenis baru penyebab COVID-19.

"Sampai saat ini pelaksanaan 'rapid test' di Bantul telah menghabiskan 2.800 alat, melalui pemeriksaan itu ditemukan sekitar 30 orang menunjukkan hasil reaktif atau positif 'rapid test'," kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Bantul dr Sri Wahyu Joko Santoso di Bantul, Sabtu.

Warga yang disebut rentan terpapar COVID-19 tersebut di antaranya tenaga kesehatan yang langsung berhadapan dengan pasien positif, pelaku perjalanan dari daerah terjangkit khususnya epidemi tinggi seperti Jakarta dan sekitarnya serta warga kontak erat dengan Orang Tanpa Gejala (OTG) positif.

Sri Wahyu yang juga Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul itu mengatakan, meski puluhan orang menunjukkan hasil reaktif dalam rapid test, tetapi belum bisa disimpulkan bahwa yang bersangkutan terinfeksi virus COVID-19.

Menurut dia, sebab pemeriksaan rapid test hanya untuk mendeteksi dini munculnya antibodi pada tubuh manusia terhadap penyakit tertentu. Sementara untuk memastikan positif terjangkit COVID-19, masih harus dilakukan pemeriksaan lanjutan yakni tes "swab" polymerase chain reaction (PCR).

"Rapid test untuk deteksi dini terhadap munculnya antibodi tubuh terhadap penyakit tertentu. Dan untuk penegasan diagnosa virus corona 19 -SARS -COV-2 dilakukan dengan swab diperiksa dengan PCR," kata pria yang akrab disapa dokter Oky itu.

Menurut dia, untuk sementara ini hasil dari penegakan diagnosa tes PCR diketahui ada salah seorang tenaga kesehatan pada salah satu puskesmas di Bantul menunjukkan positif COVID-19, sementara sisanya hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Kemenkes.

Sementara itu, data kasus COVID-19 di Bantul yang tercatat secara akumulasi hingga 8 Mei pukul 19.00 WIB totalnya berjumlah 36 orang positif, dari pasien itu 13 orang dinyatakan sembuh, dua meninggal, sehingga pasien positif yang masih rawat inap sebanyak 21 orang.

"Kami laporkan per 8 Mei jam 19.00 data pasien yang sedang rawat inap, yaitu pasien konfirmasi positif 21 orang, pasien dalam pengawasan (PDP) ada 26 orang, kemudian pasien kategori orang dalam pemantauan (ODP) ada lima orang," demikian Sri Wahyu Joko Santoso ​​​​​​.

Baca juga: Dua warga Bantul positif COVID-19 usai pulang kerja dari Dubai dan USA

Baca juga: Pasien positif "rapid test" bisa dirawat di RSLK COVID-19 Bantul-DIY

Baca juga: Tiga warga Bantul positif COVID-19 usai perjalanan dari luar daerah

Baca juga: Bantul siapkan rumah isolasi warga yang mudik dari luar daerah

Pewarta: Hery Sidik
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Menaker pantau tes cepat COVID-19 pekerja hotel Bali

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar