Enam orang di Afghanistan tewas dalam aksi protes bantuan COVID-19

Enam orang di Afghanistan tewas dalam aksi protes bantuan COVID-19

Seorang petugas kesehatan memeriksa suhu tubuh tahanan di sebuah penjara provinsi di Distrik Dushi, Baghlan, Afghanistan, Senin (30/3/2020). Otoritas Afghanistan membebaskan gelombang pertama dari 10.000 tawanan sesuai dengan arahan presiden dengan tujuan untuk mencegah penyebaran infeksi COVID-19. ANTARA FOTO/Xinhua/Elaha Sahel/pras.

Kabul (ANTARA) - Sedikitnya enam orang tewas ketika para pemrotes, yang marah karena menganggap pembagian bantuan makanan tak adil selama pandemi COVID-19, bentrok dengan polisi di Provinsi Ghor, Afghanistan, Sabtu (9/5), menurut pejabat.

Empat warga sipil dan dua petugas polisi tewas dalam insiden tersebut, menurut juru bicara Kementerian Dalam Negeri Tariq Arian.

"Tim dari Kabul akan diterjunkan untuk menyelidiki insiden hari ini secara komprehensif," katanya. Ia menambahkan bahwa sepuluh petugas polisi dan sembilan warga sipil terluka.

Anggota parlemen asal Ghor, Gulzaman Nayeb, mengatakan bahwa tujuh orang tewas dan belasan orang lainnya mengalami luka akibat bentrokan, yang dipicu oleh ketidakpuasan soal pembagian bantuan yang diduga menguntungkan orang-orang dengan koneksi politik.

Polisi melepaskan tembakan, setelah sekitar 300 pemrotes melempar batu, mulai menembakkan senjata dan berupaya menerobos kediaman gubernur, kata juru bicara gubernur Provinsi Ghor, Mohammad Arif Aber.

Baca juga: Tolak "di rumah saja", 2.500 orang di Washington turun ke jalan

Menurutnya, dua orang tewas dan lima lainnya terluka. Ia membantah bantuan tersebut dibagikan secara tak merata.

Salah satu korban tewas adalah Ahmad Naveed Khan, relawan penyiar radio yang sedang duduk di dekat toko miliknya dan terkena peluru di bagian kepala, menurut Direktur Eksekutif Pusat Jurnalis Afghanistan, Ahmad Quraishi.

Komisi HAM Independen Afghanistan (AIHRC) sedang menyelidiki "laporan mengerikan tentang polisi yang menembaki demonstran," kata ketua Shaharzad Akbar di Twitter.

Kelompok Amnesty International juga menyerukan penyelidikan independen terhadap penggunaan kekuatan oleh polisi.

Pemerintah sedang membagikan bantuan makanan di seluruh wilayah saat pembatasan yang diberlakukan akibat pandemi COVID-19 menyebabkan banyak kehilangan pekerjaan dan kenaikan harga sembako.

Baca juga: Dokter di Pakistan wafat, tenaga medis protes alat pelindung kurang

Akbar mengatakan kepada Reuters pekan ini bahwa komisi tersebut dibanjiri aduan masyarakat, yang mengatakan bantuan dibagikan secara tak adil.

"Kami banyak mendengar komplain dari masyarakat bahwa orang-orang yang menerima bantuan terbatas adalah orang-orang yang sangat tidak layak untuk mendapatkannya, mereka memiliki koneksi dengan otoritas setempat atau pejabat setempat," katanya.

Hingga kini, Afghanistan telah melaporkan 4.033 kasus COVID-19 dengan 115 kematian.

Sumber: Reuters

Baca juga: Menteri kesehatan Afghanistan tertular virus corona

Baca juga: Afghanistan, Taliban mulai pertukaran tawanan di tengah "lockdown"


 

Mensos koordinasi bansos hingga tingkat RT

Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar