Resensi buku

Romantisme Betawi di Telkom Landmark Tower

Oleh Dyah Sulistyorini *)

Romantisme Betawi di Telkom Landmark Tower

Cover buku "Nurhayadi Anak Betawi di Puncak Telkom Landmark Tower". (ANTARA/Dyah Sulistyorini)

Jakarta (ANTARA) - Mungkin ada semacam romantisme bila terbit buku yang berkisah tentang anak Betawi, etnis yang telah eksis dan secara linguistis-historis memiliki bahasa sendiri di tengah kepungan geografis etnis lain.

Etnis Betawi adalah penduduk asli kota Jakarta dengan kelengkapan kebudayaan serta kehidupan yang berbeda dengan suku-suku lain dalam bingkai keragaman Indonesia Raya.

Terbitnya sebuah buku berjudul Nurhayadi Anak Betawi, di puncak Telkom Landmark Tower (2020) mungkin dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin belajar tentang upaya meraih kesuksesan dan kebahagiaan.

Meskipun definisi tentang kesuksesan sangat beragam dan memantik ruang diskusi namun setidaknya apabila diukur dengan aspek-aspek fisiologis artinya dari sisi sandang, pangan, papan, maka Nurhayadi telah melampauinya. Semua hal terkait pernak-pernik kisah dan upaya meraih sukses terdokumentasi dalam buku yang ditulis oleh Lahyanto Nadie, wartawan yang 32 tahun berkiprah di Bisnis Indonesia Group itu.

Lahyanto Nadie saat ini adalah Anggota Kelompok Kerja Pendidikan Dewan Pers, penguji kompetensi wartawan di LPDS, pengajar di Kwik Kian Gie School of Business dan Polimedia Jakarta. Lahyanto berharap agar buku ini mampu menjadi inspirasi bagi pembacanya.

Pada bagian awal buku tertera kalimat: Ini adalah sepenggal kisah meraih cita-cita dalam upaya mengubah hobi menjadi bisnis (Nurhayadi).

Bertindak selaku editor buku adalah Ahmad Djauhar yang pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia dan mantan anggota Dewan Pers.

Buku berjumlah 165 halaman ini diawali prolog, dilanjutkan dengan kisah tentang masa kecil dan remaja Nurhayadi. Selanjutnya adalah bab tentang masa sekolah dan kuliah.

Baca juga: "Martabak Isi Senja", pahit getir hidup dan romantika dalam cerita

Baca juga: Mari bersikap masa bodo bersama Mark Manson


Pada bab tiga ditulis tentang masa berkarir, bab empat tentang kehidupan keluarga dan bab lima berisi kesan dari para sahabat yang ditutup dengan Prolog.

Nurhayadi digambarkan memegang nilai-nilai kehidupan 4R yakni olah ratio, olah raga, olah rasa dan olah ruh yang menjadi bekalnya sebagai profesional di Telkom Landmark Tower.

Mungkin banyak orang belum kenal siapa sebenarnya Nurhayadi. Terlihat penekanan buku ini bukan semata-mata berisi tentang siapa dirinya namun tulisan ini mengarah pada apa yang dilakukan anak Betawi itu. Seolah-olah buku tersebut menegaskan “ooh ternyata masih ada loh anak Betawi yang pinter, yang berhasil lepas dari stereotipe anak Betawi yang kuat hanya di otot saja”.

Buku ini mungkin bisa menjadi bacaan untuk mengetahui bagaimana kegigihan dan sikap hidup Nurhayadi. Nurhayadi digambarkan telah paripurna menjalankan tiga prinsip yang secara umum ditaati etnis Betawi yakni bisa ngaji, bisa beladiri dan bisa pergi haji.

Memang dalam konteks buku ini istilah tentang “bisa beladiri” barangkali dapat dianalogikan sebagai kegiatan olahraga yang ditekuninya yakni catur, bulutangkis, sepakbola, golf dan lainnya yang mendorong sikap-sikap sportif menjalani kehidupan.

Meskipun demikian, sebagai pembaca kita tentu bebas berkomentar tentang isi buku. Memang pembaca memiliki kemerdekaan untuk memilih alat ukur kesuksesan. Dan memang spektrum kesuksesan sangat luas. Kita berhak menilai bahwa tingkat kesuksesan selayaknya ditinjau dari aspek yang paling fisik yakni pemenuhan kebutuhan fisiologis, ataupun kita bebas pula melepaskan atribut itu lalu merangkak pada kebutuhan akan rasa aman, kasih sayang, penghargaan hingga aktualisasi diri.

Sungguh pembaca dapat belajar dari banyak hal dan dari banyak sisi untuk menentukan formula terbaik yang dapat diadopsi untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang esensinya adalah mencapai kebahagiaan.

Kita memang tidak menemukan penggambaran hiruk pikuk kondisi Jakarta tahun 1980-an dalam buku itu sebagaimana yang tertera dalam buku warna-warni berjudul Jakarta dari The Times Travel Library (1987) yang menulis dengan cantik kondisi Jakarta telah sibuk sejak sebelum matahari terbit.

Terbitnya buku tentang kisah anak Betawi seolah memicu romantisme akan kejayaan tokoh Betawi hebat masa silam seperti Ismail Marzuki, “Beethoven-nya” Indonesia, Mohammad Husni Thamrin sang politisi, K.H. Noer Alie sang mubaligh, dan Benyamin Sueb.

Namun setidaknya kehadiran buku ini patut diapresiasi. Buku ini melengkapi dokumentasi deretan tokoh Betawi yang tertera dalam buku Database orang Betawi karya Sylviana Murni, sekarang anggota DPD Dapil DKI Jakarta. Buku Database orang Betawi ini berisi 485 tokoh penting atau pelaku sejarah ke Betawian. Disebutkan dalam buku itu bahwa Betawi merupakan entitas asli dari peradaban sosial di kota Jakarta yang sangat heterogen secara struktur.

Dokumentasi terhadap tokoh-tokoh Betawi mungkin menyadarkan urgensi kaderisasi sumberdaya manusia untuk mendukung program mewujudkan insan Betawi yang bermartabat dan bermanfaat.

Peran pentingnya sumberdaya manusia juga telah lama disinggung oleh seorang pensiunan Lektor Kepala di bidang linguistik dari Universitas Negeri Jakarta, Abdul Chaer.

Abdul Chaer yang telah menulis Folklor Betawi, kebudayaan dan kehidupan orang Betawi. (2012) menyebutkan bahwa Betawi yang berada di pusat kekuasaan sejak berabad-abad silam memang memiliki keberuntungan sekaligus ketidakberuntungan.

Abdul Chaer yang juga menulis Kamus dialek Jakarta (edisi pertama 1976, edisi kedua 2009) menyebut keberuntungannya antara lain adalah kenal dengan etnis-etnis pendatang dari suku lain maupun dari ras asing serta menjadi saksi dalam peristiwa pergolakan politik. Kekhawatiran pada sisi sebaliknya adalah bahwa dalam sejarah linguistik manapun apabila sebuah bahasa sudah tidak ada lagi penuturnya maka bahasa itu akan punah.

Kritik tajam Abdul Chaer itu patut menjadi renungan. Abdul Chaer menulis sebagai berikut: Namun, kalau kebudayaan itu diartikan sebatas tari-tarian, musik dan seni lakon saja, bagaimana dengan adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Betawi. Apakah masih bisa dilestarikan kalau orang Betawinya sudah tidak ada, sudah berganti dengan “orang Jakarta?” (halaman vii)

Betapapun Jakarta berubah, kebudayaan dan kehidupan telah beralih rupa akibat silang budaya namun Betawi masih berwujud, masih ada romantisme di sana.

Keberadaan buku Nurhayadi anak Betawi, seolah menjawab bahwa anak Betawi itu masih eksis.

*) Dyah Sulistyorini adalah Magister Ilmu Komunikasi dari Paramadina Graduate School of Communication, Jakarta

Baca juga: Buku Ilham Bintang berisi kumpulan artikelnya sepanjang tahun

Oleh Dyah Sulistyorini *)
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mendorong ‘Making Indonesia 4.0’ melalui Lab Komunitas TIP

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar