Gadis bujuk keluarga ke Suriah mengaku korban penipuan ISIS di medsos

Gadis bujuk keluarga ke Suriah mengaku korban penipuan ISIS di medsos

Tangkapan layar Youtube saat Gadis korban paparan ISIS yang bujuk keluarganya hijrah ke Suriah Nurshadrina Khaira Dhania (bawah) berbagi kisahnya melalui video telekonferensi Zoom dalam web seminar berjudul Illution of Islamic State, di Jakarta, Selasa (12/5/2020). (ANTARA/ Abdu Faisal)

...kehidupan ISIS sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, pada kenyataannya mereka sangat bertentangan..
Jakarta (ANTARA) - Gadis yang bujuk keluarganya hijrah ke Suriah, Nurshadrina Khaira Dhania, mengaku menjadi korban tipu daya partisan ISIS di media sosial.

"Kenapa alasan saya pada waktu itu, saya ceritakan saja kepada teman-teman, saya waktu itu masih berumur sekitar 15-16 tahun, masih kategori labil ya. Mungkin gampang dibegoin, dikasih ini-itu, karena masih proses mencari jati diri," kata Dhania dalam seminar daring yang dilangsungkan, di Jakarta, Selasa.

Dhania mengatakan, saat itu, ia terbuai dengan pesan-pesan yang aktif disebarkan oleh partisan ISIS melalui media sosial.

"Hadits mengenai bumi Syam yang diberkahi, ini nih yang selalu digaungkan oleh mereka. Hadits-hadits akhir zaman, lalu hadits yang dimana katanya malaikat menaungi bumi Syam itu dengan sayap-sayap mereka," kata Dhania lagi.
Baca juga: BNPT akui kesulitan verifikasi WNI eks-ISIS


Dhania mengatakan para partisan ISIS sangat aktif di media sosial untuk menggaet mereka-mereka yang ingin lebih mendalami agama seperti dirinya, dengan testimoni dan propaganda dari mereka.

"Kehidupan yang sejahtera, dan sebagainya. Secara perekonomian pokoknya dari A sampai Z kayaknya sempurna banget deh, begitu. Kita bakal dapat surga dunia dan akhirat," kata Dhania.

Namun, kata Dhania, seandainya saja saat itu ia memiliki sosok yang dapat dijadikan tempat bertanya mengenai agama lebih dalam, maka mungkin ceritanya berbeda.

Dhania mengatakan saat itu keluarganya terlalu sibuk, sehingga ketika ayahnya menasihati Dhania agar tidak pergi ke Suriah, Dhania menganggap sepele ayahnya.

"Ayah saya coba menasihati saya, emosional banget saat itu, tapi saya kemudian berpikir, tahu apa sih ayah soal agama," kata Dhania.
​​​​​​​
Akhirnya, Dhania pun mengancam keluarganya akan pergi sendiri jika tidak diberi izin, sehingga keluarganya pun luluh dengan anak perempuannya itu.

"Karena melihat anaknya ini bonek, bocah nekat maksudnya. Mereka takut saya pergi sendiri entah ke mana. Ya sudah akhirnya mereka ikut demi untuk menjaga keluarganya," ujar Dhania.

Sesampainya di Suriah, Dhania menyadari apa yang dipropagandakan selama ini berkebalikan dengan kenyataan.
Baca juga: Soal anak eks ISIS, Mahfud: Percayakan pada pemerintah


Dalam propaganda ISIS disebutkan mereka hidup dengan bersih, namun pada kenyataannya tempat mereka tidur kotor.

"Kami tidur di asrama, bertemu dengan beberapa perempuan. Berurusan dengan mereka, para penegak hukum di sana, banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang mereka sampaikan," kata Dhania lagi.
​​​​​​​
Dhania juga merasa jika selama ini diklaim bahwa kehidupan ISIS sesuai dengan Al Quran dan Sunnah, pada kenyataannya mereka sangat bertentangan dengan kedua sumber itu.

Akhirnya, Dhania beserta keluarganya bersepakat akan mencari jalan keluar dari ISIS pada 2016 untuk kembali ke Tanah Air, namun baru pada 2017 mereka akhirnya bisa keluar dari ISIS dengan selamat.

Namun, itu juga karena mereka harus masuk ke kamp pengungsian milik UNHCR di wilayah Kurdi selama dua bulan, sebelum kemudian dijemput oleh perwakilan Pemerintah Indonesia di sana.
Baca juga: DPR pertanyakan soal kombatan ISIS eks-WNI pada Yasonna Laoly

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar