Jateng dorong perumahan berbasis komunitas kurangi "backlog" hunian

Jateng dorong perumahan berbasis komunitas kurangi "backlog" hunian

Seorang pengunjung mengamati sebuah miniatur rumah saat pameran perumahan Real Estate Indonesia (REI) di Semarang, Jawa Tengah, Senin (20/2). REI Jawa Tengah menyambut baik kebijakan mengenai penyederhanaan izin pembangunan perumahan yang dikeluarkan pemerintah, dari 44 langkah menjadi 11 langkah sehingga target pembangunan 10.000 unit rumah oleh REI Jateng pada tahun 2017 diharapkan dapat terealisasi. ANTARA FOTO/R Rekotomo/kye/pri.

Saat ini tercatat masih ada 720.000 'backlog' dari sisi kepemilikan dan 530.000 dari sisi kepenghunian yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jateng.
Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong pembangunan perumahan berbasis komunitas untuk mengurangi "backlog" hunian atau kesenjangan antara jumlah rumah terbangun dengan jumlah warga yang membutuhkan rumah.

"Saat ini tercatat masih ada 720.000 'backlog' dari sisi kepemilikan dan 530.000 dari sisi kepenghunian yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Jateng," kata Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko di Semarang, Kamis.

Menurut dia, faktor utama masih tingginya angka "backlog" itu adalah faktor ekonomi.

"Ini menjadi tantangan buat semua apakah akan diselesaikan seluruhnya dalam waktu dekat atau apakah perlu dilakukan prioritas," ujarnya.

Baca juga: Kementerian PUPR siapkan strategi sosialisasi Program Sejuta Rumah

Oleh karena itu, Pemprov Jateng mendorong penyediaan rumah untuk masyarakat Jawa Tengah dengan berbasis komunitas.

Ia menyebut program ini akan mulai dilakukan pada 2020 ini, namun demikian hingga kini masih terkendala pandemi COVID-19.

Menurutnya pembangunan rumah tidak hanya tanggung jawab pemerintah semata, tapi juga kalangan swasta dan masyarakat.

"Yang kami bantu masyarakat miskin yang memiliki lahan dan mereka berkomitmen untuk melakukan pembangunan bersama. Nanti kami beri bantuan sosialnya berupa material," katanya.

Terkait dengan itu, BNI Syariah mendukung pemerintah dalam Program Satu Juta Rumah dengan menyelenggarakan Program Tunjuk Rumah yang ditujukan bagi calon nasabah terutama generasi milenial yang ingin mempunyai rumah idaman yang sesuai keinginan.

Kalangan milenial hanya perlu menunjuk salah satu rumah atau apartemen yang tersedia pada pihak pengembang yang sudah bekerja sama dengan BNI Syariah.

Kelebihan Program Tunjuk Rumah dibandingkan dengan program lain yaitu adanya harga spesial atau tarif khusus, cicilan tetap sampai akhir cicilan, serta kemudahan lainnya yaitu bebas biaya administrasi, bebas biaya KPR, bebas biaya transaksi, dan bebas denda.

Baca juga: Perumnas gandeng sejumlah BUMN kurangi "backlog" rumah

Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah Iwan Abdi berharap Program Tunjuk Rumah ini dapat mempermudah calon nasabah terutama kalangan milenial dalam memiliki rumah serta dapat meningkatkan kinerja pembiayaan terutama BNI Griya iB Hasanah.

Program Tunjuk Rumah 2020 diluncurkan pada 20 Januari 2020 dan berjalan hingga 30 Juni 2020 dengan target karyawan perusahaan yang mempunyai "fix income".

Untuk saat ini ada sekitar 1.000 pengembang perumahan aktif yang bekerja sama dengan BNI Syariah dan hingga 9 April 2020, perolehan pembiayaan BNI Griya iB Hasanah melalui Program Tunjuk Rumah mencapai Rp766,7 miliar.

Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Jawa Tengah waspadai potensi bencana saat kemarau

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar