RSUD Gambiran Kediri gunakan alat PCR mekanis deteksi COVID-19

RSUD Gambiran Kediri gunakan alat PCR mekanis deteksi COVID-19

Petugas medis di laboratorium RSUD Gambiran Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (14/5/2020). ANTARA Jatim/ istimewa

Kediri (ANTARA) - Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran Kota Kediri, Jawa Timur, menggunakan peralatan secara mekanis (bukan manual) guna melakukan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) yang bisa mendeteksi virus corona dalam waktu 45 menit.

Dr Qoirida Vinahari, Sp.PK yang bertugas di ruang Laboratorium RSUD Gambiran Kota Kediri, Kamis, mengemukakan peralatan PCR yang dimiliki tersebut telah beroperasi secara mekanis (bukan manual). Satu unit mesin PCR bisa mengerjakan empat spesimen sekaligus, sehingga jika mesin bekerja dalam enam jam akan mampu mengerjakan 20 spesimen COVID-19 dengan akurat.

Petugas medis di laboratorium dalam waktu cepat bisa mendeteksi apakah seseorang ada virus atau tidak dalam waktu 45 menit. Dengan itu, bisa menentukan status ODP/PDP terkonfirmasi COVID-19 atau tidak pada pasien.

"Makin cepat kita memeriksa spesimen pasien akan makin baik. Karena usia spesimen untuk layak diperiksa hanya 1–2 pekan, tergantung kondisi virusnya. Jika antrean pemeriksaannya lebih dari itu dikhawatirkan mempengaruhi akurasi hasilnya," kata Qoirida di Kediri.

Baca juga: RSUD Gambiran Kediri mampu lakukan tes PCR COVID-19

Baca juga: Seorang pasien COVID-19 asal Kabupaten Kediri sembuh


Dokter spesialis patologi klinik ini juga menambahkan pemeriksaan swab di laboratoriumnya menggunakan spesimen yang diambil dari rongga hidung (Nashofaring).

Diketahui virus COVID-19 paling banyak berdiam di rongga hidung mencapai 89 persen daripada rongga bawah, sehingga tingkat akurasinya sangat tinggi.

Sampel lendir yang diambil dengan metode swab ini selanjutnya diperiksa menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil akhir dari pemeriksaan ini akan benar-benar memperlihatkan keberadaan virus SARS-COV2 yang menyebabkan COVID-19 di tubuh seseorang.

Cara kerja ini berbeda dengan rapid test yang memeriksa antibodi IgG dan IgM dalam darah. Antibodi itu akan terbentuk di dalam tubuh ketika mengalami infeksi virus.

"Jika ada, hasil rapid test dinyatakan positif terjadi infeksi," kata dia.

Namun, dirinya menegaskan bahwa hasil dari rapid test tersebut bukanlah diagnosis yang menggambarkan infeksi COVID-19. Karena itu orang dengan hasil rapid test positif (reaktif) akan dianjurkan menjalani pemeriksaan lanjutan dengan swab tenggorokan atau hidung.

"Pemeriksaan ini diprioritaskan kepada ODP atau PDP dengan risiko tinggi," ujar Qoirida.

Dengan kemampuan laboratorium ini, RSUD Gambiran Kota Kediri kini menjadi salah satu rumah sakit rujukan pemerintah daerah yang memiliki pelayanan penanganan COVID-19 paling lengkap di Jawa Timur.

Selama ini pemeriksaan swab di Jawa Timur hanya dilakukan di tiga laboratorium, yakni Institute of Tropical Disease (ITD) Unair, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Surabaya, dan Rumah Sakit Universitas Brawijaya Malang.(*)

Baca juga: Pasar Banjaran Kediri ditutup tiga hari cegah penyebaran corona

Baca juga: Pemkot Kediri buka lowongan tenaga relawan COVID-19

Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar