Pedagang daging sapi di Kupang mengaku ditolak RS jalani "rapid test"

Pedagang daging sapi di Kupang mengaku ditolak RS jalani "rapid test"

Sejumlah lapak tempat berjualan daging sapi tampak kosong oleh para pedagang yang berjualan di Pasar Kasih Naikoten, Kota Kupang, NTT, Kamis (14/5/2020). Aktivitas di Pasar Inpres itu sepi setelah salah seorang pedagang daging sapi dinyatakan positif COVID-19 dan meninggal pada Selasa (12/5/). (FOTO ANTARA/Kornelis Kaha).

Yang bernama Ari dan Agus Pelun Doo sudah tiga hari terakhir datang ke RSUD untuk minta dilakukan rapid test, tetapi justru disuruh pulang dulu, nanti akan ditelepon sama pihak rumah sakit
Kupang (ANTARA) - Sebanyak tujuh pedagang daging sapi di Pasar Kasih Naikoten Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kontak langsung dengan pasien positif COVID-19 yang sudah meninggal mengaku ditolak oleh petugas kesehatan di RSUD Johannes Kupang saat menawarkan diri untuk melakukan "rapid test".

"Yang bernama Ari dan Agus Pelun Doo sudah tiga hari terakhir datang ke RSUD untuk minta dilakukan rapid test, tetapi justru disuruh pulang dulu, nanti akan ditelepon sama pihak rumah sakit," kata Daud Dean, salah seorang pedagang daging sapi yang dituakan di Pasar Inpres itu kepada ANTARA di Kupang, Jumat.

Ia mengatakan bahwa tujuh pedagang daging sapi yang kontak langsung dengan pasien positif COVID-19 yang sudah meninggal itu nama-namanya sudah dilaporkan ke  Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID di Kota Kupang.

Bahkan Dean mengaku bahwa sudah meminta agar mereka dikarantina khusus sehingga tidak berkeliaran di mana-mana untuk menghindari menyebarnya virus corona jenis baru penyebab COVID-19 di kota itu mengingat kasus ini adalah transmisi lokal.

"Mereka, tujuh pedagang daging sapi itu malah disuruh sama petugas kesehatan di RSUD Johannes untuk menjalani rapit test berbayar di RS Siloam yang per kepala harganya Rp500 ribu," katanya.

Ia mengatakan dari mana mereka bisa medapatkan uang sebanyak Rp500 ribu padahal ekonomi para pedagang daging sapi di Pasar Inpres itu tidak seberapa.

Daud juga membandingkan Gugus Tugas yang ada di Kota Kupang dan Gugus Tugas di provinsi lain yang selalu sigap menanggapi jika ada pasien yang positif COVID-19.

Ia mengatakan bahwa selama ini belum pernah ada petugas dari Gugus Tugas penanganan COVID-19 yang melakukan sosialisasi terkait pencegahan penyebaran COVID-19.

Sementara itu, menanggapi adanya laporan soal penolakan rapit test tersebut Wakil Direktur Pelayanan RSUD Johannes Kupang dr Stef Soka Dhe mengatakan bahwa informasi itu tidak benar.

"Itu tidak benar informasinya," katanya.


Baca juga: Gugus Tugas: Kasus transmisi lokal positif COVID-19 ditemukan di NTT

Baca juga: Ratusan sampel 'swab' di NTT segera diperiksa di RSUD Prof. Johannes

Baca juga: Pasien positif COVID-19 di NTT tersebar di Manggarai Barat dan Kupang

Baca juga: Pasar Kasih Naikoten Kupang terbakar

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tertahan di Pelabuhan Lembar,  puluhan penumpang asal NTT berharap bisa segera pulang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar