Tarian iringi pemakaman ketua suku Amazon yang meninggal karena corona

Tarian iringi pemakaman ketua suku Amazon yang meninggal karena corona

Seorang perempuan penduduk asli Amazon menggunakan masker penutup wajah yang bertuliskan "Kehidupan Pribumi itu Penting", terlihat menghadiri pemakaman Kepala Suku Kokama, Messias Kokama (53), meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19) di Parque das Tribos, Manaus, Brazil, (14/5/2020). REUTERS/Bruno Kelly/aa.

Manaus (ANTARA) - Kepala suku Kokama, Messias Kokama (53 tahun), meninggal dunia di Kota Manaus, wilayah Amazon, Brazil, pada Rabu (13/5) akibat komplikasi serta gangguan pernapasan yang disebabkan virus corona jenis baru atau COVID-19.

Messias, dalam wasiatnya, meminta masyarakat untuk bernyanyi dan menari di pemakamannya sebagai bentuk ucapan selamat tinggal.

Masyarakat suku Kokama dan pelayat yang menghadiri pemakaman menyanyikan lagu kebangsaan Brazil dengan Tikuna, salah satu dari 14 bahasa asli yang dipakai masyarakat pinggiran Manaus.

Manaus merupakan tempat tinggal bagi 2.500 keturunan dari 35 suku di Amazon, termasuk suku Kokama.

“Kami kehilangan seorang kepala suku pemberani yang berjuang untuk membentuk model masyarakat adat dengan pendidikan dan layanan berkualitas, yang tidak kami dapatkan,” kata Vanderlecia Ortega, seorang perawat pribumi yang sempat membantu merawat Messias hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit.

Lonjakan jumlah kasus virus corona menyebabkan rumah sakit-rumah sakit di Manaus dibanjiri pasien positif COVID-19.

Pasien yang meninggal karena COVID-19 dimakamkan di kuburan khusus secara massal. Hanya dua kerabat yang diizinkan untuk menghadiri proses pemakaman pasien COVID-19.

Namun, otoritas kota membuat pengecualian agar suku Kokama bisa berkumpul untuk memberi penghormatan terakhir kepada Messias.  

Jenazah dan peti mati Messias disemayamkan terlebih dulu di sebuah sekolah yang belum selesai dibangun.

Semasa hidupnya, Messias terus memperjuangkan agar sekolah itu dibangun untuk sarana pendidikan bagi anak-anak suku Kokama.

Setelah selesai dibangun, sekolah itu akan diberi nama Messias Kokama sebagai bentuk penghormatan.

Suku Kokama mendiami hutan hujan yang tersebar di Peru, Kolombia, dan Brazil. Sebagian anggota suku telah berpindah ke Manaus untuk mencari kehidupan yang lebih, seperti yang dilakukan Messias Kokama pada 22 tahun silam.

Tetapi, sebagian besar akhirnya hidup dalam kemiskinan di pinggiran Kota Manaus dan tidak banyak mendapatkan akses perawatan kesehatan publik.

"Terima kasih kepada Messias Kokama. Berkat dia, kita dapat mempertahankan budaya kita di sini," ujar perawat Vanda.

"Kami akan terus berjuang untuk mewujudkan mimpinya."

Sumber : Reuters

Baca juga: Perangi COVID-19, kelompok pribumi Amazon minta sumbangan

Baca juga: Dokter di pedalaman Amazon idap corona

Baca juga: Brazil luncurkan operasi militer di hutan Amazon



 

Ritual Tiwah, cara Suku Dayak menghargai kematian

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar