Yogyakarta Dirikan Pusat Deteksi Gempa

Yogyakarta Dirikan Pusat Deteksi Gempa

Yogyakarta (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bekerja sama dengan "International Academic of Science" Austria mendirikan pusat penelitian deteksi dini kejadian gempa di Kota Yogyakarta.

"Alat deteksi gempa diharapkan bermanfaat memberi ramalan terjadinya gempa," kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan peluncuran alat deteksi gempa "atropatena" yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Tri Harjun Asmadi di Yogyakarta, Senin malam.

Sultan mengharapkan penelitian gempa dengan menggunakan alat pendeteksi dini akan membuahkan hasil membanggakan, sehingga melahirkan ilmu pengetahuan baru tentang deteksi dini peristiwa gempa bumi yang akurat.

"Semoga alat deteksi gempa memberikan manfaat, terutama untuk upaya keselamatan umat manusia pada masa mendatang," katanya.

"Vice President of International Academy of Science" Austria, Prof Dr Elchin Khalilof mengatakan, alat pendeteksi gempa ini memiliki keakuratan prediksi mencapai 90 persen. Alat itu dapat mendeteksi kekuatan gempa, lokasi pusat gempa, dan kapan gempa akan terjadi.

"Alat ini masih dalam tahap penelitian, atropatena dibangun di tiga tempat di seluruh dunia, yaitu di Azerbaijan, Pakistan, dan Yogyakarta," katanya.

Ia menjelaskan, alat deteksi gempa dibuat atas dasar teori medan gravitasi. Penyimpangan atau anomali gravitasi bumi saat akan terjadi gempa bumi dapat diteksi dengan alat pendeteksi gempa yang diberi nama atropatena .

"Secara empiris, alat ini akan mendeteksi kejadian gempa bumi dengan waktu satu minggu hingga dua hari sebelum kejadian," katanya.

Ia mengatakan, alat pendeteksi gempa dipasang di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

"Alasan pemasangan atropotema di Yogyakarta, karena wilayah DIY masih memiliki aktivitas gempa aktif dan Kota Yogyakarta merupakan kota pendidikan yang banyak ditempati kaum terdidik maupun ilmuwan sehingga mampu mengembangkan alat atropatena," katanya.

Menurut dia, pembuatan alat tersebut menelan biaya 2 juta dolar AS. "Saya berharap dengan penempatan alat pendeteksi gempa di Yogyakarta akan membuat alat deteksi gempa lebih sempurna, karena para ilmuwan di Yogyakarta akan melakukan serangkaian riset penyempurnaan" katanya.

"Alat ini masih digunakan untuk penelitian, kami berharap penelitian mengenai deteksi gempa akan membuahkan hasil yang menggembirakan, sehingga akan mampu mengurangi dampak kejadian gempa pada masa mendatang," katanya.
(*)

Pewarta: surya
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2009

Gempa di Pakistan selatan tewaskan puluhan orang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar