Menperin optimistis indeks PMI manufaktur Indonesia kembali tinggi

Menperin optimistis indeks PMI manufaktur Indonesia kembali tinggi

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasamita. ANTARA/HO-Kemenperin/am.

Kemenperin optimistis industri manufaktur nasional dapat pulih lebih cepat atau cepat ketika nanti beroperasi secara normal, atau bahkan pada kondisi ’new normal".
Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis bahwa Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia akan kembali meningkat saat industri manufaktur nasional kembali beroperasi.

“Kemenperin optimistis industri manufaktur nasional dapat pulih lebih cepat atau cepat ketika nanti beroperasi secara normal, atau bahkan pada kondisi ’new normal’,” kata Menperin saat menghadiri konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa.

Baca juga: Ini strategi Kemenperin dongkrak PMI manufaktur Indonesia

Harapannya, lanjut Agus, dalam waktu tiga bulan setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berakhir, Kemenperin membidik PMI manufaktur Indonesia dapat kembali ke angka 51,9, seperti pada Februari 2020.

“Kami menargetkan PMI kita tadinya 25,7 pada April 2020 atau berada pada titik terendah, nanti dalam tiga bulan kami akan mendorong dengan berbagai macam strategi dan kebijakan agar kembali pada level 51,9, di mana level tersebut terjadi pada Februari,” ujar Menperin.

Politisi Partai Golongan Karya ini mengatakan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat untuk menggulirkan kebangkitan manufaktur Indonesia, karena selama tiga bulan terakhir atau sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, manfaktur belajar untuk lebih efektif dan efisien.

Baca juga: PMI Indonesia turun, Menperin: Manufaktur bergantung konsumsi domestik

Selain itu, industri manufaktur juga dipacu untuk berinovasi, salah satunya adalah dalam memproduksi ventilator, di mana beberapa industri yang menggandeng akademisi berhasil menciptakan ventilator yang sebelumnya belum pernah diproduksi industri di tanah air.

“Sejak zaman penjajahan, tidak ada satu pabrik pun yang memproduksi ventilator. Sekarang, dalam waktu tiga bulan, beberapa kampus yang dikawinkan dengan industri, berhasil menghasilkan ventilator,” ujar Agus.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar