Penyandang disabilitas membuat masker transparan bagi tunarungu

Penyandang disabilitas membuat masker transparan bagi tunarungu

Suami istri penyandang disabilitas sensorik bernama Agus Sutanto dan Heti (duduk dan berdiri) membuat masker transparan untum tunarungu. (ANTARA/HO-Humas Pemprov Jawa Tengah)

Selain bahasa isyarat, teman tunarungu biasanya melihat gerak bibir untuk berkomunikasi dengan orang lain sehingga kami membuat masker transparan ini
Semarang (ANTARA) - Suami istri penyandang disabilitas sensorik di Kota Semarang, Jawa Tengah, bernama Agus Sutanto dan Heti membuat masker transparan khusus bagi para penyandang tunarungu agar bisa tetap berkomunikasi saat pandemi COVID-19.

"Saya belajar menjahit saat menjadi siswa SLB di Wonosobo jurusan tata busana," kata Agus dengan sedikit terbata saat ditemui di Semarang, Selasa.

Ia mengaku berinovasi dengan membuat masker transparan pada bagian mulut agar para penyandang tunarungu bisa berkomunikasi dengan melihat gerakan bibir.

Saat ini, masker ramah bagi penyandang tunarungu itu diproduksi di rumah Yuktiasih Proborini selaku Eksekutif Direktur Sejiwa Foundation di Jalan Kanfer Raya Blok O-15 Banyumanik, Kota Semarang.

Selain untuk penyandang tunarungu, masker tersebut akan dijual bebas untuk warga.

Kemampuan Agus Sutanto itu kemudian menginisiasi bersama Sejiwa Foundation untuk membuat masker yang ramah penyandang tunarungu.

"Untuk satu minggu, kita bisa menghasilkan sekitar 300 masker seperti ini," ujarnya.

Baca juga: Ganjar borong 3 juta masker kain, produksi UMKM di Jawa Tengah

Eksekutif Direktur Sejiwa Foundation Yuktiasih Proborini menambahkan masker transparan tersebut penting bagi masyarakat, terutama penyandang tunarungu.

Selain itu, dimaksudkan untuk pelayan masyarakat seperti tenaga medis dan pejabat pemerintahan.

"Selain bahasa isyarat, teman tunarungu biasanya melihat gerak bibir untuk berkomunikasi dengan orang lain sehingga kami membuat masker transparan ini," katanya.

Ketua Gerakan Kesejahteraan Untuk Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin) Kota Semarang Mahendra Teguh Priswanto menambahkan anggotanya saat ini sekitar 100 orang, mulai usia 17 hingga lebih dari 50 tahun.

"Dari sini kami juga peduli kepada tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan COVID-19. Kami ada simbol atau bahasa tubuh untuk mengucapkan terima kasih dan semangat kepada tenaga medis," ujarnya.

Baca juga: Presiden Jokowi beli masker kain produksi Semarang
Baca juga: 65 industri kecil dan menengah Jakbar dikerahkan produksi masker kain

Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar