Epidemiolog: masyarakat mulai tak patuh PSBB di bulan Ramadhan

Epidemiolog: masyarakat mulai tak patuh PSBB di bulan Ramadhan

Dokumen - Petugas kepolisian memeriksa pengendara motor yang berpenumpang saat penerapan PSBB di perbatasan Jakarta - Depok, Depok, Jawa Barat, Rabu (15/4/2020). . ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/aww. (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA)

Jakarta (ANTARA) - Ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dr Pandu Riono MPH, Ph.D mengemukakan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sudah mulai dipatuhi oleh masyarakat di Indonesia pada Maret dan April, namun data menunjukkan penduduk mulai tidak patuh dengan kembali keluar rumah pada bulan Ramadhan.

Pandu dalam keterangannya pada telekonferensi melalui video mengenai evaluasi PSBB di Jakarta, Rabu memaparkan data dari Google Mobility Index menunjukkan pergerakan penduduk mulai berkurang sejak diterapkannya kebijakan PSBB dan kampanye di rumah saja.

Dia menyebut pergerakan penduduk masih terlihat banyak pada Februari dan mulai berkurang sedikit pada Maret 2020. Pergerakan penduduk kemudian jauh berkurang pada April 2020 di Pulau Jawa dan mulai kembali bertambah pada periode 1-10 Mei 2020.

"Di bulan puasa penduduk tidak lagi patuh, keluar mencari takjil, belanja di bulan Ramadhan, kembali terjadi kenaikan. Tapi ini titik krusialnya," katanya.

Pandu kemudian memperingatkan bahwa pada Hari Raya Idul Fitri menjadi titik yang harus ditingkatkan kewaspadaannya karena pergerakan penduduk tidak bisa dikendalikan saat orang-orang berlebaran.

Dia bersama tim epidemiolog FKM UI memanfaatkan data Google Mobility Index untuk mengorelasikan jumlah orang positif COVID-19 dengan pergerakan masyarakat yang dipantau dari fitur lokasi pada ponsel. Pandu menjelaskan pihaknya menggunakan data dari Google karena tidak ada indikator yang jelas untuk memantau keberhasilan PSBB di lapangan.

Menurut dia, dengan membandingkan data pergerakan penduduk menggunakan Google Mobility Index dengan laporan kasus harian yang disampaikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menunjukkan penurunan kasus di DKI Jakarta.

Pandu menyebut sebanyak 60 persen warga DKI mengikuti anjuran diam di rumah dan hal tersebut berkorelasi dengan penurunan jumlah kasus di Ibu Kota. Akan tetapi, jika melihat data secara nasional di seluruh Indonesia tidak mengalami penurunan dikarenakan hanya 50 persen penduduk yang membatasi pergerakannya.

Dia menyimpulkan bahwa dampak penurunan kasus bisa terjadi apabila penduduk yang mematuhi aturan PSBB dengan diam di rumah lebih dari 60 persen.

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Epidemiolog ingatkan potensi klaster COVID-19 di pesantren

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar