Artikel

Asa dan kritik pengguna untuk Kartu Prakerja

Oleh Prisca Triferna Violleta

Asa dan kritik pengguna untuk Kartu Prakerja

Petugas mendampingi warga yang melakukan pendaftaran calon peserta Kartu Prakerja di LTSA-UPT P2TK di Surabaya, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). ANTARA FOTO/Moch Asim/wsj. (ANTARA FOTO/Moch Asim)

yang sangat membutuhkan yaitu orang yang di-PHK dan belum bekerja
Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan tapi juga tenaga kerja dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 1,7 juta pekerja dirumahkan atau terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sampai dengan awal Mei 2020.

Melihat potensi masalah tersebut, pemerintah akhirnya memodifikasi program pelatihan Kartu Prakerja yang merupakan perwujudan janji kampanye Presiden Joko Widodo disesuaikan dengan kondisi akibat dampak pandemi.

Setelah diluncurkan pada akhir Maret 2020, pendaftaran program itu resmi dibuka pada April 2020.

Menyesuaikan dengan kondisi saat ini, pemanfaat Kartu Prakerja akan mendapat Rp3.550.000 selama pandemi COVID-19 dengan rincian bantuan pelatihan Rp1.000.000, insentif penuntasan pelatihan Rp600.000 per bulan untuk empat bulan serta insentif survei kebekerjaan Rp150.000.

Insentif tersebut menarik perhatian banyak orang dengan 10.4 juta orang telah mendaftar dengan 680.000 orang resmi menjadi pemanfaat sampai pertengahan Mei 2020, menurut data Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja.

Resianitha adalah satu dari ratusan ribu orang yang berhasil mendapatkan Kartu Prakerja. Staf di sebuah agen travel di Jakarta itu dirumahkan sejak Maret, saat sektor pariwisata menjadi "korban" pertama terdampak COVID-19.

Hal itu tentu saja berdampak kepada penghasilannya. Di saat itulah, pihak kantor Resianitha memberikan informasi tentang program pemerintah yang bertujuan membantu pekerja. Pendaftarannya diterima di gelombang awal dan setelah melewati rangkaian proses, dana pelatihan pun kemudian turun.

Nitha melihat pelatihan yang diberikan pemerintah itu bukan hanya sebagai pemenuhan syarat untuk mendapatkan insentif, dia melihat itu sebagai batu pijakan untuk memperdalam kemampuannya.

"Yang aku ambil (pelatihan) berhubungan dengan apa yang aku butuhkan. Yang aku ambil tentang bagaimana sukses berjualan lewat sosial media, karena itu mendukung pekerjaanku," kata dia.

Nitha merasa puas dengan pelatihan tersebut karena modul yang dia ambil disampaikan rinci dan menyeluruh dan memperkaya pengetahuannya yang dapat digunakan ketika kembali bekerja setelah pandemi.

Kesempatan pelatihan gratis itu, menurut dia, tidak akan dihabiskan langsung dalam satu kali kesempatan. Nitha menyisihkan saldo Kartu Prakerja untuk digunakan dalam pelatihan bahasa asing secara offline.

"Ini kesempatan sekali, les bahasa kan mahal ya. Jadi nanti selesai corona, sisa uang pelatihan itu aku rencanakan buat pelatihan bahasa yang offline," kata dia.

Hal serupa dinyatakan oleh Yohanes, seorang pelaku UMKM makanan yang harus banting setir menjadi pegawai penuh di sebuah yayasan karena kebutuhan ekonomi.

Bagi dia selain mendapatkan pelatihan di bidang yang ia geluti yaitu kuliner dan fotografi, dia juga mendapatkan insentif yang berguna bagi rencananya usai pandemi.

"Rencananya setelah pandemi saya mau buka usaha lagi, UMKM di bidang makanan dengan modal dari insentif ini semoga bisa membantu rencana saya," kata Yohanes.

Baca juga: Program Kartu Prakerja harus dorong kreativitas pekerja migran

Baca juga: Pengguna Kartu Prakerja lihat insentif sebagai faktor penarik utama



Kritik Prakerja

Meski menuai berbagai pujian, bukan berarti program ini bebas dari kritik mulai dari permasalahan sistem sampai dengan isi pelatihan yang kurang beragam.

Adalah Venny, seorang karyawan swasta yang terkena PHK dari sebuah perusahaan tambang skala kecil di Jakarta pada akhir Maret.

Meski merasakan manfaatnya untuk menambah ilmu, dia merasa masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki oleh manajemen seperti ketiadaan variasi pelatihan yang spesifik dalam bidang tertentu seperti geologi yang ditekuninya. Tidak hanya itu, dia juga mempertanyakan manajemen yang meloloskan pekerja yang masih memiliki mata pencaharian.

"Yang kita butuhkan itu bekal, baik untuk memulai usaha atau bekerja. Jadi harusnya lebih tepat sasaran yang sangat membutuhkan yaitu orang yang di-PHK dan belum bekerja, bukannya justru meloloskan yang sudah bekerja," ujar dia.

Permasalahan konten Kartu Prakerja sudah menjadi sorotan berbagai pihak, yang menyebut banyak isi modul pelatihannya bisa ditemukan secara gratis di situs berbagi video seperti YouTube.

Bahkan, sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah muncul situs prakerja.org yang dibuat sebagai tandingan. Situs itu menegaskan akan memberi pelatihan gratis tanpa mengurangi kualitas pelatihannya.

Dalam manifestonya di laman Twitter @PRAKERJAorg, pendiri situs itu mengkritik Rp5,6 triliun dari Rp20 triliun yang dianggarkan untuk Kartu Prakerja akan diterima oleh 8 penyedia platform untuk konten yang banyak ditemukan secara gratis.

Terdapat juga kritikan karena keterlibatan Ruang Guru sebagai salah satu platform dari Kartu Prakerja, mengingat Adamas Belva Syah Devara yang merupakan pendiri dan CEO perusahaan startup yang berfokus pada pendidikan itu juga menjabat sebagai staf khusus Presiden Joko Widodo.

Belva sendiri akhirnya mundur sebagai staf khusus Presiden pada 17 April 2020, mengatakan bahwa dia ingin mengakhiri polemik di masyarakat.

Menanggapi berbagai kritikan tersebut, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Denni P. Purbasari menegaskan bahwa dalam permasalahan pemilihan penerima manfaat, yang melakukannya adalah mesin yang menyortir pendaftar.

Denni mengakui masih banyak yang belum terakomodir sebagai pemanfaat tapi menegaskan bahwa gelombang penerimaan Kartu Prakerja masih akan dibuka hingga November 2020.

Terkait dalam permasalahan konten, Denni menegaskan bahwa tidak hanya konten berbayar, banyak pelatihan di Kartu Prakerja yang juga tersedia secara gratis tanpa menggunakan dana pelatihan.

Dia menegaskan bahwa Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja terbuka dengan berbagai usulan dan mengajak segala pihak yang ingin memajukan program itu untuk bekerja sama dengan manajemen.

Bahkan, dia mengajak berbagai pihak yang dapat meluangkan waktu untuk menyusun modul untuk bergabung dengan ekosistem Kartu Prakerja demi membantu pekerja yang terdampak COVID-19.

"Kita tidak perlu, katakanlah, bersitegang tapi kita bisa berkolaborasi bersama-sama bisa memberikan sesuatu yang bernilai buat saudara-saudara kita yang terdampak COVID-19 ini," kata Denni.

Baca juga: Anggota DPR soroti antusiasme tinggi terhadap Kartu Prakerja

Baca juga: Hipmi minta ada penghentian sementara dan evaluasi Kartu Prakerja

 

Oleh Prisca Triferna Violleta
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pendaftar kartu prakerja sudah mencapai 10,4 juta orang

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar