Artikel

Idul Fitri dan bayang-bayang PHK

Oleh Indriani

Idul Fitri dan bayang-bayang PHK

Para pedagang musiman yang menjual peci dan busana muslim di jalan DI Panjaiatan, diakui selama pandemi covid, omzetnya menurun drastis hingga 100 persen dibanding tahun lalu. (Foto ANTARA/Azis Senong)

Jakarta (ANTARA) - Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1441 H kali ini terasa berbeda, setidaknya bagi Agus Budiarto (40), mantan buruh pabrik onderdil sepeda motor di kawasan Tangerang, Banten.

"Untuk pertama kalinya, anak saya tidak beli baju lebaran dan untuk pertama kalinya pula saya memiliki status baru, jadi pengangguran," kata Agus sambil tertawa getir, di Tangerang, Minggu.

Awal Mei, Agus dan puluhan buruh lainnya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Alasannya perusahaan tempatnya bekerja itu mengalami kerugian besar akibat terdampak pandemi COVID-19.

Padahal, ia sudah mengabdi di pabrikan asal Jepang tersebut sejak 13 tahun yang lalu. Ia pun sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Agus tak pernah mengira, dirinya akan terkena PHK pada saat situasi sulit seperti saat ini.

Sejak itu pula, ia lebih banyak di rumah. Usaha sampingannya, yakni berjualan sepatu di pasar kaget pun terpaksa terhenti sementara, karena pasar kaget ditiadakan selama diterapkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Tangerang. PSBB itu dengan alasan untuk mencegah atau menekan penyebaran viru corona jenis baru atau COVID-19.

"Ya berat sih, apalagi sekarang istri baru melahirkan anak kedua. Cuma mau bagaimana lagi, mungkin ini sudah takdir," katanya lirih.

Dengan sisa tabungan yang dimilikinya, ia berusaha mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ia berharap pandemi COVID-19 segera berakhir, sehingga ia bisa kembali mencari nafkah. Entah itu kembali menjadi buruh pabrik, ataupun berjualan di pasar kaget.

"Saya berharap kondisi kembali normal seperti sebelum adanya pandemi," ucap Agus.

Lain Agus, lain lagi Nica (35). Perempuan yang berprofesi sebagai karyawan swasta tersebut, merasakan beratnya melalui bulan Ramadhan pada tahun ini.

"Suaminya sejak satu bulan terakhir tidak lagi bekerja. Sementara perusahaan tempat saya bekerja sudah mulai goyang. Sudah banyak karyawan yang diberhentikan," kata Nica.

Nica mengaku was-was, jika ia diberhentikan. Jika itu terjadi maka tidak ada lagi yang memiliki penghasilan tetap di rumahnya. Padahal kebutuhan hidup semakin bertambah dari hari- ke hari.

"Apalagi bulan puasa dan Lebaran, kebutuhan semakin bertambah," ucapnya.

Ia juga terpaksa mengubah banyak hal yang sudah dirancang sejak jauh-jauh hari. Contohnya, rencana ingin memasukkan anaknya yang akan sekolah SD pada tahun ini, di sekolah swasta terpadu. Namun rencana itu terpaksa buyar. Ia harus memendam keinginannya dan harus merelakan anaknya bersekolah di sekolah negeri.

"Mungkin untuk sementara di sekolah negeri dulu. Kalau keuangan sudah stabil, mungkin baru bisa mindahin anak ke sekolah swasta yang bagus. Sekarang yang penting anak sekolah dulu," kata Nica.

Pandemi COVID-19 memiliki dampak pada keuangan rumah tangganya. Bahkan uang pesangon suaminya pun harus benar-benar disimpan dan pengeluaran pun turut dikurangi.

"Kita kan tidak tahu pandemi COVID-19 kapan berakhirnya dan tidak ada yang bisa menjamin akan mudah mendapatkan pekerjaan saat ini," terang dia.


Bayang-bayang PHK

Karyawan swasta lainnya, Dewi (37), mengatakan tidak pernah menyangka akan melewati bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri ditengah pandemi COVID-19 seorang diri di Jakarta.

"Ya cukup kesepian, lebaran cuma bersama teman-teman kos. Biasanya merayakan Lebaran bersama keluarga di Yogyakarta bertemu orang tua, adik-adik, maupun sanak saudara," ujar Dewi.

Hal yang membuat kesepian juga dikarenakan pembatasan jarak fisik, sehingga tidak bisa bertemu teman maupun sahabat yang disayangi.

"Cuma mau bagaimana lagi, kita harus menerima kondisi ini dengan ikhlas dan tabah agar tidak sedih. Apalagi sampai depresi," imbuh Dewi.

Menurut dia, pandemi COVID-19 memiliki hikmah tersendiri yakni dijadikan kesempatan untuk belajar dan lebih mencintai diri sendiri dan tidak menggantungkan kebahagiaan kepada keluarga, teman, maupun orang lain. Kebahagiaan tersebut, hendaknya diciptakan oleh diri sendiri.

"Lebaran tahun ini memang beda. Tidak hanya kita diminta untuk menjaga jarak fisik maupun tetap di rumah, tapi juga dibayang-bayangi PHK di tempat kerja. Hal itu membuat karyawan tidak tenang dalam bekerja," terang Dewi.

Dewi mengatakan perusahaan tempatnya mengabdi pun mulai goyang dan terpaksa memberhentikan sejumlah karyawan. Perusahaan otomotif besar dunia, kata dia, seperti Roll Royce pun akan memangkas 9.000 karyawan di Inggris dan total memangkas 52.000 pegawainya secara global. Apalagi perusahaan nasional tempatnya bekerja yang menggantungkan pendapatan dari biaya iklan.

"Makanya sekarang saya semakin rajin bekerja. Harus bersyukur masih bisa bekerja dan makan pada era pandemi ini," ucapnya.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan hingga 4 Mei 2020, sebanyak 1.722.956 warga kehilangan pekerjaan yang terdiri dari 1.032.960 buruh yang dirumahkan, 375.165 buruh yang di PHK dan 314.833 warga di sektor informal yang pekerjaannya tersendat karena pandemi.

Wakil Ketua Umum Kadin, Suryani SF Motik, memperkirakan pengangguran akibat pandemi COVID-19 semakin bertambah yang diakibatkan terganggunya aktivitas perekonomian di Tanah Air.

Tingkat pengangguran tertinggi berasal dari industri tekstil. Kemudian penyumbang angka pengangguran baru juga berasal dari sektor pariwisata, restoran, hotel maupun Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). ***3***
Baca juga: Jatuh bangun pekerja Indonesia di masa pandemi COVID-19
Baca juga: Warga Solo korban PHK mudik jalan kaki
Baca juga: BPJAMSOSTEK antisipasi lonjakan klaim JHT akibat gelombang PHK
Baca juga: Pekerja terdampak COVID-19 rayakan Lebaran di balai Kemensos

Oleh Indriani
Editor: Tunggul Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bantuan paket sembako bagi buruh yang dirumahkan dan di-PHK

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar