Tekan mobilitas masyarakat ampuh turunkan laju COVID-19, sebut riset

Tekan mobilitas masyarakat ampuh turunkan laju COVID-19, sebut riset

Warga mengenakan masker saat beraktivitas di kawasan Jalan Kendal, Jakarta, Senin (6/4/2020). Pemerintah meminta seluruh masyarakat untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah seiring dengan imbauan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengurangi risiko penyebaran virus corona (COVID-19) serta tetap melakukan jaga jarak aman atau physical distancing. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

Kebijakan yang dilakukan di Indonesia yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanya sekitar 40 persen menekan pergerakan masyarakat
Jakarta (ANTARA) - Sebuah riset yang dilakukan "Lifepal" menyimpulkan bahwa menekan mobilitas masyarakat lebih dari 70 persen terbukti ampuh menurunkan laju penyebaran COVID-19 di berbagai negara dunia.

Berdasarkan data dari riset marketplace asuransi kesehatan itu yang dihimpun ANTARA di Jakarta, Rabu, menyebutkan kebijakan yang dilakukan di Indonesia yaitu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hanya sekitar 40 persen menekan pergerakan masyarakat.

Penurunan mobilitas ini tentunya diharapkan akan menurunkan penambahan kasus positif COVID-19. Namun, faktanya belum terlihat adanya tren penurunan pada grafik kurva jumlah kasus positif COVID-19 harian.

Misalnya saja pada 20 Mei, di mana Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melaporkan adanya tambahan sebanyak 693 kasus terkonfirmasi positif COVID-19.

Angka tersebut tidak lebih sedikit dari angka yang dicatat tepat sebulan sebelumnya, pada 20 April, di mana ditemukan 185 kasus terkonfirmasi positif. Artinya, alih-alih turun, tren yang ditunjukkan justru cenderung naik.

Fakta menarik bisa dilihat dari sejumlah negara di Eropa yang memberlakukan pembatasan sosial dalam bentuk kebijakan lockdown. Spanyol, Italia, dan Prancis sukses menekan mobilitas masyarakat hingga lebih dari 70 persen.

Contohnya saja seperti di Italia, di mana pada tanggal 19 Mei hanya ada penambahan 451 kasus baru. Angka ini jauh menurun dari penambahan kasus sebulan sebelumnya, pada tanggal 19 April, yang tercatat sebanyak 3.491 kasus baru.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang penurunan mobilitasnya belum mampu menurunkan tren penambahan jumlah kasus harian. Amerika Serikat misalnya, hanya mencatat penurunan mobilitas sebanyak 36 persen. Kurva penambahan kasus harian di Negara Paman Sam pun cenderung naik turun, belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Hal yang serupa juga ditunjukkan pada kurva kasus harian di Inggris, Swedia, dan Kanada. Penurunan mobilitas masyarakat yang hanya di level 20 persen hingga 50 persen tidak mampu menurunkan penambahan jumlah kasus yang berarti.

Jika ingin menekan penyebaran COVID-19, yang kemudian menurunkan jumlah kasus positif harian, tampaknya Indonesia harus belajar dari Spanyol, Italia, dan Prancis.

Pelonggaran, seperti di Italia, dilakukan secara bertahap. Mulai 4 Mei lalu, pemerintah memperbolehkan masyarakat berkunjung ke rumah kerabat mereka di satu daerah, mengizinkan kafe dan restoran untuk memberikan layanan "take away".

Namun, semua harus dilakukan dengan protokol kesehatan ketat, seperti memakai masker dan menerapkan "physical distancing".

Tahap dua, mulai 18 Mei, peribadatan mulai diperbolehkan dilakukan di rumah ibadah, tetap dengan protokol kesehatan ketat. Jika semua berjalan lancar, pembukaan pusat kebugaran dan kolam renang akan dilakukan pada 25 Mei.

Baca juga: WHO sebut karantina wilayah tidak cukup untuk kalahkan virus corona

Baca juga: Riset: Mayoritas pasien corona miliki antibodi tapi belum pasti kebal

Baca juga: EU berupaya cegah AS ambil alih perusahaan riset vaksin corona

Baca juga: Riset: Jakarta, Jabar, dan Banten paling rentan terhadap COVID-19


Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Gugus Tugas: Kenakan masker yang nyaman di wajah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar