Apkasindo tegaskan petani sawit masih bisa bertahan di tengah pandemi

Apkasindo tegaskan petani sawit masih bisa bertahan di tengah pandemi

Sejumlah petani lokal mengangkut hasil panen kelapa sawit kedalam truk untuk dibawa ke pabrik di Kawasan perkebunan Batang Serangan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (5/9/2015). ANTARA FOTO/Septianda Perdana/pd/aa.

Bisa bertahan, karena industri sawit masih terus beroperasi sejak awal pandemi COVID-19
Medan (ANTARA) - Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumatera Utara Gus Dalhari Harahap menegaskan, petani sawit hingga saat ini masih bisa bertahan dari dampak pandemi COVID-19.

"Bisa bertahan, karena industri sawit masih terus beroperasi sejak awal pandemi COVID-19," ujarnya di Medan, Minggu.

Meski, katanya, harga tandan buah segar (TBS) sudah agak turun dampak banyak faktor.

Harga TBS, Rabu lalu (27/5), misalnya berkisar Rp800 - Rp1.200 per kg.

Dengan industri kelapa sawit masih terus beroperasi, ujar Gus Dalhari, petani tetap bisa memanen sawit dan ménjual ke pedagang/pabrik kelapa sawit.

Kalaupun ada yang terganggu, secara persentase, ujar Gus Dalhari, paling tinggi hanya sekitar 20 persen.

"Jadi saat COVID-19 ini, petani sawit tidak terlalu mengalami kesulitan," ujarnya.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Derom Bangun, mengakui, industri sawit memang tidak terlalu terdampak dengan pandemi COVID -19.

Pabrikan, katanya, masih beroperasi, meski ekspor terganggu.

"Produksi TBS memang belum terlalu banyak sehingga pabrikan masih tetap bisa menampung/mengolah TBS maupun CPO," katanya.

Baca juga: Apkasindo : 18 juta petani sawit bergantung operasional pabrik

Baca juga: Dinilai berhasil, asosiasi petani sawit minta pola PIR dipertahankan

Baca juga: Pemerintah harus kawal penetapan harga TBS di tingkat petani

 

Pewarta: Evalisa Siregar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2020

RI-Belanda kerja sama pemberdayaan petani sawit

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar