Guru Besar UGM: Pandemi COVID-19 momentum tepat berhenti merokok

Guru Besar UGM: Pandemi COVID-19 momentum tepat berhenti merokok

Dokumentasi - Siswa SMK Kriya Sahid mengenakan masker dan membawa poster himbauan berhenti merokok saat melakukan aksi Hari Anti Tembakau Sedunia di Jalan Veteran, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (30/5/2013). ANTARA FOTO/Herka Yanis Pangaribowo/Spt/aa.

Yogyakarta (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM Prof Yayi Suryo Prabandari menyebutkan pandemi COVID-19 merupakan momentum yang tepat bagi masyarakat Indonesia, khususnya para perokok untuk berhenti merokok.

"Mari jadikan pandemi COVID-19 sebagai momentum untuk berhenti merokok," kata Yayi melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Minggu.

Dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau yang diperingati masyarakat dunia setiap 31 Mei ini, Yayi mengatakan pandemi COVID-19 dapat menjadi langkah awal bagi para perokok untuk memantapkan niat berhenti merokok.

Sebab, kata dia, merokok dapat meningkatkan risiko penularan virus corona baru yang akan memperberat komplikasi penyakit akibat COVID-19.

Baca juga: Pemerintah diminta imbau masyarakat berhenti merokok cegah COVID-19

Baca juga: Peneliti: Pengurangan risiko alternatif berhenti merokok


Menurut dia, aktivitas merokok rentan menjadi wahana penularan COVID-19 karena melibatkan kontak jari yang mungkin terkontaminasi dengan mulut secara intens. Hal tersebut memberikan peluang bagi virus dari jari tangan berpindah ke mulut dan masuk ke dalam tubuh.

Perokok tidak hanya lebih rentan terhadap virus corona. Apabila perokok terinfeksi virus ini, akan memperberat kondisi tubuhnya.

Dosen Departemen Perilaku, Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM ini menjelaskan untuk berhenti merokok bukanlah sesuatu yang gampang dilakukan. Sebab, selain telah menjadi kebiasaan, rokok bersifat adiktif.

Namun demikian, lanjut dia, bukan berarti perokok tidak dapat berhenti merokok. Terdapat beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebiasaan merokok.

Baca juga: Surabaya sediakan klinik berhenti merokok di puskesmas

"Yang utama adalah ada niat untuk berhenti merokok kalau bisa benar-benar berhenti," kata Koordinator Quit Tobacco Indonesia ini.

Apabila tidak bisa sepenuhnya berhenti merokok, bisa dengan mulai mengurangi jumlah konsumsi rokok per batang setiap hari. Selanjutnya, memetakan waktu yang biasanya digunakan untuk merokok. Waktu yang biasanya digunakan untuk merokok dialihkan untuk melakukan hobi yang positif, seperti otomotif, bercocok tanam, olahraga, dan lainnya.

Dia mengatakan jika hasrat merokok benar-benar kuat upayakan kembali mengingat niat awal berhenti merokok.

Banyak dampak atau efek negatif merokok, tak hanya bagi kesehatan diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan sekitar. Dengan berhenti merokok akan diperoleh beragam manfaat bagi kesehatan tubuh dan lingkungan.

Baca juga: Melly Goeslaw: lebih mudah berhenti merokok daripada tak makan nasi

Baca juga: Lima cara untuk berhenti merokok


"Biasanya kalau perokok terus tidak merokok mulutnya akan terasa masam, rasa ini bisa dialihkan dengan banyak minum air putih, makan buah, atau mengunyah permen rendah gula," kata dia.

Membatasi diri untuk tidak berkumpul dengan lingkungan yang mendorong kembali aktivitas merokok juga menjadi salah satu cara yang dapat mendukung niatan berhenti merokok. "Dukungan keluarga sangat berperan penting dalam menghentikan kebiasaan merokok ini," katanya.

Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kisah Tukiyat, 30 tahun menjaga hutan Wanagama

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar