Manila kembali bergeliat sekalipun ancaman virus tetap membayang

Manila kembali bergeliat sekalipun ancaman virus tetap membayang

Warga berbagi halaman untuk mandi, memasak dan berkumpul di luar rumah gubuknya di tengah karantina wilayah akibat merebaknya COVID-19 di sebuah kawasan kumuh di Kota Manila, Filipina, Rabu (6/5/2020). Foto diambil 6 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Eloisa Lopez/wsj.

Seperti yang Anda tahu, penerapan (pelonggaran aturan) sangat menantang. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar dapat menerapkan jarak sosial dan kewajiban penggunaan masker
Manila (ANTARA) - Jutaan orang kembali bekerja di ibu kota Filipina pada Senin ketika salah satu karantina wilayah paling ketat dan terpanjang di dunia dilonggarkan untuk membantu memulihkan kembali ekonomi yang telah terpukul oleh penutupan tersebut.

Transportasi umum seperti kereta api dan bus antar-jemput diizinkan beroperasi di Manila tetapi dalam skala terbatas, yang memaksa para penumpang untuk menunggu dalam antrian berjam-jam, dan membuat ratusan pekerja terdampar.

"Saya harus kembali bekerja," kata Steven John Cabusao, yang berjalan beberapa kilometer pada hari pertamanya masuk kerja setelah dikurung di rumahnya selama 11 minggu.

Cabusao, 24, yang bekerja sebagai perencana pemeliharaan di sebuah perusahaan penerbangan, mengatakan bahwa kebutuhannya untuk mencari nafkah jauh melebihi ketakutannya terhadap virus corona. "Rasa takut tertular virus akan selalu ada."

Dengan jumlah kasus virus corona tertinggi ketiga dan angka kematian resmi tertinggi kedua di Asia Tenggara, Filipina juga mengizinkan pembukaan kembali lebih banyak kegiatan ekonomi bisnis. Warga sekarang juga dapat meninggalkan rumah tanpa izin pemerintah.

Langkah-langkah yang dilalukan Manila adalah di antara yang paling sulit di dunia, setara dengan Kota Wuhan di China, tempat wabah virus corona pertama kali muncul, dan lebih ketat daripada pembatasan di puncak penularan wabah di Italia dan di Spanyol, yang membuat ekonomi berhenti tiba-tiba.

Dalam melonggarkan langkah-langkah tersebut, Presiden Filipina Rodrigo Duterte berusaha untuk melewati garis tipis antara melindungi lebih dari 107 juta orang di negara itu dari COVID-19 sambil menghidupkan kembali ekonomi yang menghadapi kontraksi terbesar dalam lebih dari tiga dekade.

"Ini pertaruhan terbesarnya karena apa pun yang terjadi, itu tergantung pada dirinya," kata Profesor Ilmu Politik Universitas Santo Tomas Dennis Coronacion kepada ABS-CBN News.

Keputusan untuk melonggarkan aturan pembatasan terjadi setelah negara itu melihat lonjakan jumlah kasus virus corona harian, yang oleh para pejabat kesehatan dikaitkan dengan peningkatan pengujian.

Filipina telah melaporkan total 18.086 infeksi yang dikonfirmasi, yang 957 di antaranya menyebabkan kematian.

Juru bicara kepresidenan Harry Roque mengatakan tingkat infeksi positif negara itu, atau proporsi tes yang kembali positif, telah berkurang setengahnya menjadi 6,5% pada akhir Mei dari 13,4% pada April, yang menunjukkan bahwa negara itu sedang dalam perjalanan untuk mengelola pandemi.

Para pejabat kesehatan juga mengatakan bahwa kuncian itu memperlambat penyebaran infeksi virus corona di negara itu dari tiga atau empat orang menjadi satu orang yang terinfeksi oleh satu penderita.

Tetapi Dr. Jose Santiago, Presiden Asosiasi Medis Filipina, mengatakan kunci keberhasilan transisi ke apa yang disebut normal baru adalah implementasi.

"Seperti yang Anda tahu, penerapan (pelonggaran aturan) sangat menantang. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar dapat menerapkan jarak sosial dan kewajiban penggunaan masker".

Sumber: Reuters

Baca juga: Filipina perbarui data COVID-19, yakni 539 kasus tambahan

Baca juga: Satgas COVID-19 Filipina sarankan pelonggaran karantina di Manila

Penerjemah: Gusti Nur Cahya Aryani
Editor: Fardah Assegaf
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Gempa magnitudo 5,3 Guncang Maluku Utara

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar