Pemerintah terus pantau perkembangan epidemologi dan kesehatan daerah

Pemerintah terus pantau perkembangan epidemologi dan kesehatan daerah

Sejumlah warga bermain skateboard di Jakarta, Minggu (31/5/2020). Juru bicara pemerintah khusus penanganan virus Corona, Achmad Yurianto menyatakan pentingnya edukasi dan simulasi sebelum penerapan tatanan normal baru. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/aww.

ada beberapa kabupaten dan kota di Tanah Air yang tidak terdampak COVID-19
Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan perkembangan epidemologi, sistem kesehatan serta surveillance atau sistem pengawasan kesehatan daerah-daerah yang menerapkan normal baru dalam pandemi COVID-19 akan terus dipantau.

"Sepanjang penerapan tatanan kehidupan baru ini akan dilakukan pemantauan terkait perkembangan epidemologi daerah, sistem kesehatannya dan sistem surveillance kesehatannya," kata dia dalam jumpa pers di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan beberapa hal terkait bagaimana menerapkan normal baru secara keseluruhan dalam sistem masyarakat di Tanah Air untuk kehidupan yang baru akan sangat ditentukan oleh kondisi wilayah itu sendiri.

Baca juga: Bertambah 329 orang pasien sembuh dari COVID-19
Baca juga: Pemerintah: Sistem di Wisma Atlet berjalan sesuai prosedur


Menurut dia, sejak awal, gugus tugas penanganan COVID-19 memberikan masukan kepada pemerintah daerah, kemudian dilakukan kajian epidemologi tentang penyakit di wilayah-wilayah tersebut. Selain itu juga disampaikan data-data tentang sistem kesehatan yang ada di daerah termasuk sistem surveillance kesehatan.

"Atas dasar inilah maka kita bisa melihat bahwa memang ada beberapa kabupaten dan kota di Tanah Air yang tidak terdampak COVID-19," ujarnya.

Ia mengatakan, pada daerah itu semestinya sudah bisa melaksanakan tata kehidupan yang baru, yang keputusannya diambil pemerintah daerah bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan serta tokoh yang ada di kabupaten dan kota.

Baca juga: Penularan COVID-19 terjadi bersamaan dengan pergerakan manusia
Baca juga: Disperindag Jabar: 23 mal di Kota Bandung ajukan kesiapan "new normal"


Menurut dia, tahapan selanjutnya  ialah harus menciptakan kondisi serta upaya prakondisi yang diberikan dan disampaikan pada masyarakat agar mereka memahami betul apa yang harus dilakukan.

Bahkan, tidak hanya berupa sosialisasi melainkan juga edukasi pada semua aspek kehidupan. Selanjutnya dilakukan simulasi di berbagai tempat termasuk fasilitas umum dengan tatanan hidup yang baru.

"Bagaimana mengimplementasikan tatanan hidup yang baru misalnya di pasar dan sekolah," ujarnya.

Untuk sekolah tentunya juga perlu diperhatikan stratanya yakni bagaimana di tingkat perguruan tinggi, SMA, SMP serta SD. Hal tersebut harus benar-benar dipahami oleh masyarakat agar meyakini bahwa mereka mampu melaksanakan normal baru dengan baik.

Ia berharap dengan adanya pemantauan atas perkembangan epidemologi serta sistem kesehatan tiap-tiap daerah, maka akan terlihat bahwa peran yang paling menentukan adalah masyarakat dan diharapkan mereka menyikapinya dengan benar.

"Inilah yang kita harapkan tatanan baru dalam kehidupan kita bisa menjadi cara bagi kita untuk menjaga aman dari COVID-19," katanya.

Baca juga: Pengamat: Pemberlakuan "new normal" harus melalui kajian
Baca juga: Penerapan normal baru diprediksi jadi sentimen positif pekan depan
Baca juga: Akademisi: Sektor pariwisata perlu standar baru hadapi "New Normal"

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Angka kesembuhan naik, rumah sakit dan masyarakat dinilai kian tanggap

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar