Anggota DPR: Butuh kesadaran kolektif hadapi Normal Baru

Anggota DPR: Butuh kesadaran kolektif hadapi Normal Baru

Anggota Komisi XI DPR, Mukhammad Misbakhun. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar Mukhamad Misbakhun menilai butuh kesadaran kolektif masyarakat untuk bersiap menghadapi era Normal Baru atau "new normal" secara bersama-sama.

Dia menegaskan bahwa era Normal Baru bukan usaha kerja pemerintah saja karena kebijakan itu membutuhkan kerja sama dari kalangan swasta dan seluruh elemen masyarakat.

"Potensi penguatan ekonomi tersebut harus juga disertai dengan kesadaran kolektif masyarakat untuk bersiap menghadapi Normal Baru secara bersama-sama," kata Misbakhun di Jakarta, Rabu.

Dia meyakini fase Normal Baru pada masa pandemi COVID-19 akan kembali menggerakkan perekonomian Indonesia dan melalui kebijakan tersebut akan ada reaktivasi perekonomian.

Politisi Golkar itu mengaku sudah melihat tanda-tanda positif dari fase Normal Baru yang masih dalam tahap persiapan.

"Era Normal Baru sudah disambut baik dengan menguatnya rupiah di mata dunia dan sentimen investasi yang terus tumbuh pada IHSG," ujarnya.

Baca juga: Luhut dorong penyusunan protokol usaha di era normal baru

Menurut dia, beberapa waktu lalu Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil jajak pendapat tentang 158 wilayah yang bisa kembali melakukan aktivitas kerja pada masa pandemi COVID-19.

Dia mengatakan dari hasil jajak pendapat itu, DKI Jakarta yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pun diyakini sebagai daerah yang bisa melakukan aktivitas kerja lagi.

"Pemerintah mulai menyosialisasikan kebijakan Normal Baru karena pandemi COVID-19 diperkirakan akan berlangsung lama. Di sisi lain, kehidupan perekonomian masyarakat tidak boleh dibiarkan terlalu lama terhambat," katanya.

Misbakhun lalu menyampaikan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I (Q1) 2020 yang hanya mencapai 2,97 persen. Menurut dia, capaian tersebut jauh dari target kuartal I 2020 yang diharapkan mencapai kisaran 4,5-4,6 persen.

Dia mengatakan selama Q1 2020, pertumbuhan konsumsi hanya 2,84 persen, padahal biasanya masih di kisaran 5 persen dan yang patut dicatat adalah konsumsi berkontribusi sekitar hampir 57 persen pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Karena itu kebijakan Normal Baru diharapkan dapat memulihkan kembali perekonomian Indonesia dari pandemi COVID-19," ujarnya.

Dia menilai dengan kembalinya aktivitas masyarakat maka penerapan pola kehidupan Normal Baru akan menjadi kunci kebangkitan ekonomi Indonesia.

Baca juga: Pemerintah segera finalisasi protokol normal baru

Baca juga: KSP: Pendidikan jarak jauh solusi di era normal baru

Baca juga: Rumah ibadah dan pesantren disebut butuh sarana pendukung normal baru

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Ketua Komisi VIII minta Menag perhatikan pesantren

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar