Enam mahasiswa Kepri di Sudan butuh bantuan

Enam mahasiswa Kepri di Sudan butuh bantuan

Mahasiswa asal Provinsi Kepulauan Riau, Muhammad Syarif Hidayatullah Alhasmyi (kiri) berfoto dengan salah seorang mahasiswa di Khartum, Sudan. ANTARA/dokumen pribadi

Tanjungpinang (ANTARA) - Sebanyak enam mahasiswa asal Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang kuliah di International University of Africa di Sudan berharap bantuan dari Pemprov Kepri dalam menghadapi pandemi COVID-19 yang masih melanda negara yang terletak di timur laut benua Afrika tersebut.

Keenam mahasiswa itu adalah M. Syarif Hidayatullah Alhasymi (Kabupaten Bintan), Nur Paizil Bahri asal (Kabupaten Anambas), Zaki Taufiqurahman (Batam), M.Kholid Ja'far (Batam), Erik Jailani (Batam), Riska Nur Latifa (Kabupaten Natuna).

Mereka merupakan mahasiswa beruntung yang mendapatkan program beasiswa pendidikan dan tempat tinggal berupa asrama di wilayah Khartum, ibu kota Sudan.

"Kami datang ke Sudan melalui jalur yang berbeda, ada yang dari Kemenag, MOU dan melalui perantara Syekh asal Sudan. Namun, kami tidak mendapatkan uang bulanan dari pihak kampus. Sehingga untuk kebutuhan bulanan kami tanggung sendiri," kata Muhammad Syarif Hidayatullah Alhasmyi melalui pesan WhatsApp yang diterima ANTARA, Rabu.

Baca juga: Pemprov bantu 837 mahasiswa yang menimba ilmu di luar Aceh

Baca juga: Beasiswa luar negeri mahasiswa Papua Barat segera ditransfer


Syarif bercerita, sejak bulan Ramadhan kemarin dia dan lima mahasiswa Provinsi Kepri lainnya sangat membutuhkan perhatian dan bantuan dari pihak Pemerintah Daerah, terutama Pemprov Kepri.

Bahkan, mereka telah mengajukan proposal kepada Plt Gubernur Provinsi Kepri Isdianto dengan dilengkapi surat rekomendasi dari KBRI Khartum di Sudan pada bulan Mei 2020 kemarin.

Dalam proposal tersebut, mereka mengharapkan bantuan moril dan materil. Juga memohon peralatan dan obat-obatan yang diperlukan guna menjaga kesehatan selama pandemi di Sudan.

"Namun, untuk saat ini pengiriman ke Sudan berupa barang sangat sulit dilakukan. Dan bantuan yang memungkinkan ialah berupa uang," ungkapnya.

Apalagi kondisi terkini, kata dia, Komite Tinggi Darurat Kesehatan Sudan telah mengumumkan perpanjangan masa PSBB di wilayah Khartum selama dua pekan, yakni 1-18 Juni 2020.

"Hingga saat ini kegiatan di kampus juga masih dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan, dikarenakan pandemi COVID-19 belum reda," tutur dia.

Kendati demikian, pria yang akrab disapa Dayat itu pun tak menampik, kalau beberapa waktu belakangan ini sejumlah pihak/donatur mulai memberikan dukungan dan perhatian kepada mahasiswa dari Provinsi Kepri ini.

Kata dia, tiga orang di antara mereka yang berada di bawah naungan Serumpun Mahasiswa Riau Sudan (SEMARI) sudah menerima bantuan dari Gubernur Provinsi Riau, Syamsuatir berupa uang sebesar Rp2 juta.

Sementara tiga orang lainnya yang tidak tergabung ke dalamnya, belum ada mendapatkan bantuan.

Bantuan juga datang dari pihak KBRI Sudan, PPI Sudan dan LazsiMu Sudan serta para donatur lainnya.

"Meski demikian, saat ini perhatian dari Pemrov Kepri memang kami harapkan. Begitu pula do'a dari seluruh masyarakat untuk kelancaran studi kami di sini," ujar Dayat.*

Baca juga: 95 mahasiswa Papua Barat di luar negeri dalam kondisi sehat

Pewarta: Ogen
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Mahasiswa Kepri deklarasi Papua damai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar