Family farming, inovasi Balitbangtan wujudkan ketahanan pangan

Family farming, inovasi Balitbangtan wujudkan ketahanan pangan

Budidaya padi secara hidroganik dikembangkan Balitbangtan di BB Padi Sukamandi, Subang Jawa Barat (Antara/Badan Litbang Pertanian)

Program ini bentuk implementasi pembangunan pertanian masa kini dan masa depan dengan berbagai permasalahan yang semakin kompleks
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) memperkenalkan program family farming
guna mewujudkan ketahanan pangan sekaligus sebagai peluang usaha kreatif untuk masyarakat .

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry mengatakan, program family farming yang dikembangkan berdasarkan konsep pertanian perkotaan atau urban farming itu dirancang untuk memenuhi kecukupan pangan keluarga dan dioptimalkan sebagai produksi pangan rumah tangga.

"Program ini bentuk implementasi pembangunan pertanian masa kini dan masa depan dengan berbagai permasalahan yang semakin kompleks," ujarnya di Jakarta, Jumat.

Program family farming yang meliputi tanaman pangan, hortikultura, ternak, pengomposan sampah, dan tanaman hias itu saat ini diterapkan di kawasan Taman Sains dan Teknologi padi di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) Sukamandi, Subang Jawa Barat.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Priatna Sasmita, menambahkan pihaknya merekomendasikan model pertanaman padi secara hidroponik, pasalnya, model pertanaman ini sangat cocok untuk lahan terbatas, sekaligus untuk kebutuhan estetika.

"Tentunya agar dapat menyediakan kecukupan pangan masyarakat pada kondisi lahan terbatas seiring peningkatan konsumsi," ujarnya.

Pertanaman padi secara hidroponik awalnya diperkenalkan oleh komunitas Bengkel Mimpi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang memperkenalkan secara masif Budidaya Padi dengan konsep Hidroganik.

Konsep hidroganik merupakan usaha padi organik dengan dengan memadukan pola budidaya padi dan ikan secara terpadu dan menggunakan pendekatan organik untuk manajemen haranya hanya dari pakan ikan.

Peneliti sekaligus penanggungjawab tim family farming Taman Sains dan Teknologi Padi Nur Wulan Agustiani menjelaskan, pihaknya memodifikasi konsep hidroganik tersebut dari segi manajemen hara.

"Nutrisi yang disediakan tidak hanya berasal dari pakan ikan namun dengan tetap menambahkan kebutuhan hara makro (N, P, dan K) untuk mengontrol kestabilan pH dalam air," jelasnya.

Keragaan pertanaman hidroponik padi tersebut cukup menggembirakan, lanjutnya, anakan produktif terbentuk optimal dengan vigor yang menarik. Selain itu dilakukan penggunaan pestisida nabati untuk penanggulangan hama dan penyakit untuk mengurangi aplikasi kimiawi pada metode budidaya ini.

"Saat ini menjelang panen, kami masih menunggu data analisa laboratorium tanaman untuk memberikan data perbandingan komponen hasil varietas Inpari 32 yang kami gunakan pada metode budidaya hidroponik dan budidaya di lahan sawah pada umumnya," katanya.

Baca juga: Diminati pasar, Balitbangtan terus kembangkan varietas unggul krisan
Baca juga: Balitbangtan terapkan konservasi hutan sosial, tekan laju erosi

Pewarta: Subagyo
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Inovasi Atabela demi regenerasi petani tak terhenti

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar