BW: Nurhadi pintu masuk bongkar mafia peradilan

BW: Nurhadi pintu masuk bongkar mafia peradilan

Mantan pimpinan KPK Bambang Widjojanto berbicara pada diskusi publik Gerakan Antikorupsi Masyarakat, di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (21/12/2017). Diskusi membahas tentang berbagai persoalan korupsi pada era reformasi, termasuk masalah upaya pelemahan serta kriminalisasi terhadap KPK dan para pembelanya. (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

Jakarta (ANTARA) - Komisioner KPK 2011-2015 Bambang Widjojanto (BW) mengatakan kasus mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi merupakan pintu masuk untuk membongkar mafia peradilan di Indonesia

"Selama ini saat bicara mafia peradilan, tokohnya adalah hakim tapi dalam kasus Nurhadi dalam posisi sebagai Sekjen MA adalah pintu masuk untuk seluruh kekuasaan bertemu dan mencari keadilan, semua orang datang ke dia (Nurhadi), kasus apapun harganya jadi mahal," kata Bambang Widjodjanto dalam diskusi di laman Facebook Indonesia Corruption Watch (ICW) di Jakarta, Jumat.

Diskusi virtual berjudul "Akhir Pelarian Nurhadi: Apa yang Harus KPK Lakukan?" tersebut diisi Komisioner KPK 2011-2015 Bambang Widjojanto, Direktur Kantor Hukum dan HAM Lokataru Haris Azhar, peneliti ICW Lalola Easter dan Kurnia Ramadhana.

Baca juga: Bambang Widjojanto kritik lamanya Nurhadi tertangkap

Nurhadi ditangkap bersama menantunya Rezky Herbiyono di sebuah rumah di Jalan Simprug Golf 17 No 1, Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada 1 Juni 2020. Nurhadi dan Rezky masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 14 Februari 2020.

Pintu masuk untuk membongkar mafia peradilan tersebut, menurut Bambang, juga tampak dari keikutsertaan keluarga Nurhadi dalam perkara korupsi ini, yaitu keterlibatan istrinya Tin Zuraida dan menantunya Rezky Herbiyono.

Tin Zuraida bahkan pernah tercatat sebagai Staf Ahli bidang Politik dan Hukum Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB).

"Ini adalah 'family corrupt', kejahatan dilakukan suami, istri, anak dan menantu, suatu kejahatan sempurna yang dilakukan bersama-sama. Istri Nurhadi yaitu Tin Zuraida sepanjang 2004-2009 profil keuangannya juga tidak sesuai dengan penghasilannya karena ada uang keluar masuk sebanyak Rp1 miliar per bulan dan pada 2010-2011 transaksi-transaksinya meningkat lagi," tambah Bambang.

Baca juga: Firli Bahuri: KPK fokus pada pokok perkara Nurhadi

Bambang pun mendorong agar KPK menerapkan sangkaan tindak pidana pencucian uang kepada Nurhadi dan Rezky.

"Tin Zuraida juga dapat menjadi pintu masuk ke sangkaan lain. Kasus ini tidak berdiri sendiri, lebih dari 100 hari Nurhadi dapat pergi ke mana-mana padahal dia kan mantan ASN biasa, apakah dia punya kemampuan menyelinap luar biasa? Atau ada pihak lain yang membantu pelariannya ini harus diseldiki tapi apakah KPK berani?" ungkap Bambang.

Bila pimpinan KPK saat ini tidak berani membongkar perkara Nurhadi lebih dalam termasuk alur pelariannya, Bambang meminta agar pimpinan 2019-2023 menyerahkan jabatannya.

"Feeling saya tidak akan diselidiki, kalau KPK tidak mengungkap relasi-relasi Nurhadi, maka KPK sudah tidak bisa dipercaya lagi sebagai lembaga penegak hukum. Bila pimpinan KPK saat ini tidak ada nyali untuk membongkar, letakkan saja jabatan itu dan serahkan kepada lain," tambah Bambang.

Bambang juga meminta agar pimpinan KPK tidak mengganti tim satuan tugas (satgas) yang menangani perkara Nurhadi.

"Pertanyaannya siapa yang akan jadi satgas kasus ini? Kalau sampai nanti satgas kasus ini diganti dan diberikan kepada penyidik yang tidak punya pengalamanan dan baru, tandanya pimpinan kpk mau melindungi Nurhadi," ungkap Bambang.

Baca juga: KPK menahan Nurhadi dan menantunya

Diketahui, tim satgas yang menangkap Nurhadi dan Rezky dalam pelariannya adalah tim Novel Baswedan.

Senawa dengan BW, menurut Haris Azhar terhadap sejumlah aset Nurhadi yang diatasnamakan keluarganya.

"Nama Tin Zuraida digunakan untuk penggelapan aset dan juga aset-aset atas nama Rezky Herdiono, ada mobil-mobil mahal seperti Ferrari dan Mustang, bahkan menurut saya harus diperiksa showroom-showroom mobil mewah apakah memang ada kerja sama dengan Rezky untuk pengalihan aset Nurhadi melalui Rezki? Hal ini bisa dilakukan pararel dengan penetapan Nurhadi dan Rezky sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang," kata Haris.

Dalam penelusuran Haris, ditemukan sejumlah aset kepemilikan Nurhadi dan Rezky Herbiyono yaitu 7 aset tanah dan bangunan dengan nilai ratusan miliar rupiah, 4 lahan usaha kelapa sawit, 8 badan hukum dalam berbagai jenis baik PT hingga UD, 12 mobil mewah dengan harga puluhan miliar rupiah dan 12 jam tangan mewah dengan nilai puluhan miliar rupiah.

"Yang saya khawatirkan, pimpinan dan struktural KPK tidak mengembangkan kasus ini ke pihak lain tapi fokus ke kasus Rp46 mliar sehingga Nurhadi dapat bebas atau dihukum serendah-rendahnya dengan hanya memeriksa saksi-saksi yang lemah. Kalau mau membongkar mafia peradilan, bongkarlah kasus Nurhadi ini, ini babonnya," ungkap Haris.

KPK telah menetapkan Nurhadi bersama menantunya Rezky Herbiyono dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto sebagai tersangka pada 16 Desember 2019.

Nurhadi dan Rezky ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi senilai Rp46 miliar terkait pengurusan sejumlah perkara di Mahkamah Agung sedangkan Hiendra ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap.

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Joko Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar