Pasien COVID-19 di Sulsel bertambah 64 menjadi 1.840 kasus

Pasien COVID-19 di Sulsel bertambah 64 menjadi 1.840 kasus

Petugas medis menujukkan alat rapid tes saat rapid tes massal di pasar tradisional beberapa waktu lalu di Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir.

Makassar (ANTARA) - Pasien positif COVID-19 di Provinsi Sulawesi Selatan kembali bertambah 64 hari ini dengan total sebanyak 1.840 orang.

Data yang diterima, Sabtu, dari laporan media harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Pusat, untuk Provinsi Sulsel penambahan pasien tercatat 64 orang dengan jumlah 1.840 orang pasien.

Pasien sembuh hari ini nihil sesuai jumlah data kemarin 673 orang dan kematian bertambah satu kasus menjadi 94 orang.

Saat ini provinsi Sulsel berada di peringkat empat dari sejumlah daerah tertinggi terinfeksi Corona di atas seribuan pasien terkonfimasi positif.

Baca juga: IDI minta masyarakat bijak hadapi status pasien COVID-19

Baca juga: Sulsel dan Hiroshima Jepang lakukan webinar bahas penanganan COVID-19


Diperingkat pertama DKI Jakarta 7.870 kasus, disusul Jawa Timur 5.835 kasus, Jawa Barat, 2.376 kasus, Sulsel 1.840 kasus, Jawa Tengah 1.564 kasus, Sumatera Selatan 1.104 dan Papua 1.005 kasus. Total dari 34 provinsi di Indonesia dilaporkan sebanyak 30.514 kasus.

Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah mengatakan sejauh ini pihaknya telah berupaya menekan angka penambahan dengan memaksimalkan kemampuan daerah dalam menangani pandemi Corona di Sulsel.

Selain itu, guna memutus mata rantai penyebarannya, pemerintah daerah telah melaksanakan rapid tes massal serta menerapkan protokol kesehatan di daerah yang paling banyak terjangkit salah satunya Kota Makassar sebagai upaya pencegahan, bahkan untuk hasil tes swab diminta dipercepat.

"Saya minta (kemarin) itu kepada rumah sakit, mereka masuk langsung swab. Kita juga minta laboratorium prioritaskan semua yang terbaring di rumah sakit. Jangan dicampur OTG dan lain sebagainya, jangan. Jadi ada jalur khusus yang sudah terbaring supaya pagi di swab sore sudah ada hasil," kata Nurdin.

Hal ini menanggapi adanya persoalan penentuan status seperti Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan Orang Tanpa Gejala (OTG), sebab beberapa kasus pasien berstatus PDP setelah meninggal dan di makamkan di pekuburan khusus Macanda, belakangan diketahui hasil pemeriksaan swab keluar negatif.

"Makanya kita berharap mulai hari ini tidak ada lagi seperti itu, supaya masyarakat juga ada kepastian. Saya sudah berkali-kali ingatkan rumah sakit langsung swab, jangan cuman tanda tangan sudah aman, bukan," tutur Nurdin.

"Seperti di Wahidin, masuk pagi, sorenya hasil sudah keluar, tidak usah ditunggu berhari-hari, karena itu menjadi dilema bagi kita gugus tugas," harapnya.

Data yang dilansir di situs covid19.sulselprov.go.id, 5 Juni 2020, tercatat jumlah pasien positif 1.774 orang, 674 orang dinyatakan sembuh, isolasi mandiri 525 orang, dirawat di rumah sakit 479 orang, meninggal dunia 96 orang. Tersisa sebanyak 1.004 orang.

Untuk PDP sebanyak 1.920 orang, sembuh 1.420 orang, dalam pengawasan 333 dan meninggal dunia 167 orang, sedangkan ODP total 5.650 orang, selesai dipantau 4.568 orang dan masih dipantau 1.082 orang.*

Baca juga: RSUKD Sulsel akui video viral soal pengambilan paksa jenazah PDP

Baca juga: KPU Makassar siapkan sosialisasi virtual di tengah pandemi COVID-19

Pewarta: M Darwin Fatir
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Tak pakai masker di Jabar bisa didenda Rp150 ribu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar