Tren pemesanan hotel jelang normal baru, durasi menginap makin panjang

Tren pemesanan hotel jelang normal baru, durasi menginap makin panjang

Ilustrasi - Pekerja hotel menggunakan alat pelindung diri saat menyiapkan kamar di Hotel Inaya Putri Bali, Nusa Dua, Badung, Bal. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/pras/pri.

Jakarta (ANTARA) - Industri hospitality merupakan salah satu yang terdampak paling besar karena pandemi COVID-19, menyusul berbagai kebijakan pergerakan masyarakat, pembatasan sosial dan penutupan akses perjalanan yang membuat okupansi mengalami penurunan signifikan.

Hal ini rupanya mengubah tren pemesanan kamar hotel, yang menunjukkan durasi menginap yang lebih lama, sebagaimana dikutip dari data internal OYO Rooms yang diterima ANTARA, Senin.

Jika sebelumnya tren pemesanan didominasi oleh penginapan untuk jangka pendek-menengah dengan rata-rata durasi menginap 1-3 hari, kini dalam satu bulan terakhir, terdapat lebih banyak pemesanan kamar yang dilakukan untuk jangka panjang dengan rata-rata durasi menginap 7-14 hari.

Tren ini diperkirakan juga didukung adanya imbauan untuk melakukan isolasi mandiri setidaknya selama 14 hari, dan didominasi oleh mereka yang tidak dapat bekerja dari rumah, seperti para tenaga medis dan pekerja di sektor vital (perbankan dan logistik).

Baca juga: Jepang kembali buka museum Nasional dan Istana Kekaisaran

Baca juga: Menyongsong normal baru, agen wisata tawarkan aneka promosi


Beradaptasi
Riset dari Deloitte bertajuk "Hospitality Impact of COVID-19" merekomendasikan beberapa langkah yang dapat diambil oleh pelaku industri hospitality dalam menghadapi fase pasca pandemi COVID-19.

Seperti memperhatikan dampak terhadap okupansi dan tingkat pendapatan sembari membuat rencana mitigasi darurat, dan beradaptasi dan berinovasi secara berkala terhadap situasi yang terus berubah.

Sebagai salah satu pelaku industri, OYO mengatakan juga beradaptasi terhadap kondisi dan bersiap menghadapi fase normal baru, guna menjaga keberlangsungan bisnis.

"Dengan menerapkan standar operasional yang sesuai dengan protokol kesehatan, serta rekomendasi strategi bisnis yang relevan dengan situasi pandemi ini,"kata Country Head Emerging Business OYO Indonesia, Eko Bramantyo.

"Selain itu, sektor perhotelan di Indonesia yang tetap diperbolehkan untuk beroperasi di tengah pandemi ini, membuat OYO berkomitmen untuk memaksimalkan segala kesempatan yang ada walau di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan," ujarnya melanjutkan.

Baca juga: Siap "traveling" dengan pesawat, perhatikan 8 hal ini

Baca juga: Nusa Dua Bali jadi proyek percontohan destinasi wisata normal baru

Baca juga: Nikmati udara segar lewat "kamar hotel" di alam terbuka Swiss

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Bapenda Kota Malang dorong e-Tax dari pengusaha hotel & restoran

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar