Bambang Soesatyo: Ekonomi-kesehatan jadi perhatian dalam normal baru

Bambang Soesatyo: Ekonomi-kesehatan jadi perhatian dalam normal baru

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Bambang Soesatyo. ANTARA/HO-Dok MPR RI

COVID-19 adalah krisis yang berkepanjangan
Jakarta (ANTARA) - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan sektor ekonomi dan kesehatan harus tetap menjadi fokus perhatian utama di tengah pandemi COVID-19 khususnya dalam gaya hidup normal baru, karena keduanya saling berkaitan satu sama lain.

"Indonesia tidak sedang memilih antara mementingkan sektor ekonomi atau kesehatan dalam menerapkan gaya hidup baru atau 'new normal'," kata Bambang Soesatyo atau Bamsoet  saat halal bi halal secara virtual dengan pengurus dan kader Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) se-Indonesia, dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Senin.

Bamsoet mengatakan mulai kembalinya para pekerja ke kantor, pabrik, maupun tempat usaha lainnya yang menandakan mulai aktifnya aktiftas perekonomian, bukan berarti Indonesia mengorbankan faktor kesehatan yang masih dibayangi pandemi COVID-19.

Baca juga: Kemenperin siapkan aparatur industri hadapi normal baru
Baca juga: Pemerintah ajak pelaku pasar tradisional-ritel mulai kebiasaan baru


Menurut dia, protokol kesehatan wajib dipertahankan agar upaya menggeliatkan ekonomi justru tidak membuat penyebaran COVID-19 semakin tinggi.

"Kita tidak bisa menunggu, COVID-19 adalah krisis yang berkepanjangan hingga vaksinnya ditemukan. Kita harus mewaspadai setidaknya terhadap 4 tahapan suatu negara dalam menghadapi wabah atau pandemi," ujarnya.

Tahap pertama menurut dia, krisis kesehatan yang sekarang secara serentak melanda dunia termasuk Indonesia. Dia mengatakan tahapan kedua adalah krisis ekonomi, beberapa negara sudah mulai masuk ke tahap ini dan tahap ketiga adalah krisis sosial.

"Amerika Serikat tampaknya sudah masuk dalam tahap ketiga ini yang dipicu tewasnya warga negara AS kulit hitam oleh Polisi yang menjadi pemicu mencuatnya isu pertikaian ras dan kerusuhan di hampir semua negara bagian AS. Tahap berikutnya atau tahap ke empat adalah krisis politik," katanya.

Bamsoet menilai SOKSI telah menunda pelaksanaan Musyawarah Nasional yang sedianya akan dilakukan pada 20 Mei 2020 sebagai bentuk dukungan mencegah penyebaran COVID-19.

Menurut dia, tidak bisa menyelenggarakan munas secara normal seperti sebelumnya, SOKSI akan melakukan terobosan sekaligus mempelopori penyelenggaraan munas secara virtual.

"Kesuksesan SOKSI menyelenggarakan munas secara virtual dengan didukung para kader dan pengurus dari berbagai daerah, diharapkan juga akan menginspirasi organisasi lainnya melakukan hal serupa sehingga pandemi tidak menjadi penghambat bagi kita untuk tetap melaksanakan kerja-kerja politik," katanya.

Dia meyakini SOKSI, sebagai organisasi kemasyarakatan yang punya pengaruh besar di masyarakat, akan menjadi penggerak kesadaran kolektif agar para pekerja yang sudah kembali beraktifitas bisa tetap mempertahankan disiplin memakai masker dan menjaga jarak.

Baca juga: Pondok pesantren wajib terapkan protokol kesehatan untuk para santri
Baca juga: Tiga sektor ini diklaim paling siap dibuka untuk normal baru


Menurut dia, manajemen gedung perkantoran, pabrik, dan tempat usaha lainnya juga harus menyiapkan pencegahan penyebaran COVID-19 di tempat kerja, menyesuaikan ketentuan yang ditetapkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 serta protokol kesehatan yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

"Misalnya dengan mengukur suhu tubuh menggunakan 'thermo gun' sebelum orang-orang masuk ke tempat kerja, pengaturan waktu kerja yang efektif, menyediakan lebih banyak sarana cuci tangan, hingga memastikan seluruh area kerja bersih dengan melakukan pembersihan secara berkala menggunakan pembersih dan desinfektan," ujarnya.

Bamsoet juga kembali mengingatkan peringatan yang disampaikan Organisasi kesehatan dunia (WHO) bahwa perang terhadap COVID-19 masih akan berjalan lama, minimal hingga dua tahun ke depan dan skenario terburuknya, virus tersebut tidak akan pernah hilang dari muka bumi.

Karena itu dia menilai manusia tidak boleh sekadar berpasrah diri menghadapi pandemi COVID-19 namun perlu mengubah perilaku atau gaya hidup.

"Saya lebih suka menyebut gaya hidup baru ketimbang menggunakan istilah new normal. Dari mulai gaya hidup yang lebih sehat, sampai gaya hidup yang lebih melek digital dalam bekerja," katanya.

Baca juga: Tren pemesanan hotel jelang normal baru, durasi menginap makin panjang
Baca juga: Waskita Beton Precast siapkan protokol bekerja hadapi normal baru


Menurut dia, yang harus disadari adalah pergerakan masyarakat ke depan akan menjadi terbatas, hubungan antar negara yang akan lebih mementingkan kebutuhan dalam negerinya, dan kerja sama serta kemitraan antar-negara akan semakin terkoreksi.

Dia optimis bahwa Indonesia tidak akan tumbang, jika pemerintah, parlemen, rakyat dan seluruh elemen bangsa sadar dan paham apa yang sedang dipertahuhkan bangsa ini.

Turut hadir dalam acara halal bi halal secara virtual SOKSI tersebut antara lain PLT Ketua Umum SOKSI Bobby Suhardiman, Ketua Harian Fatahilah Ramli, Wakil Ketua Umum SOKSI Ahmadi Noor Supit, para tokoh senior SOKSI antara lain Fredy Latumahina dan Bomer Pasaribu.

Selain itu ikut serta secara virtual para pengurus Dewan Pimpinan Daerah SOKSI dari berbagai daerah antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kalimantan Timur.

Baca juga: Hari ini masyarakat umum sudah bisa naik KA luar biasa
Baca juga: KPAI: Normal baru harus tetap berdasarkan pelindungan anak

Pewarta: Imam Budilaksono
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Wakil Ketua MPR RI ajak saling peduli di tengah pandemi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar