Generasi Sasando Terakhir dari Pulau Rote

Jakarta (ANTARA News) - Jika harpa, piano, dan gitar plastis menjadi temuan paling bersejarah dan berarti dalam dunia musik, maka sasando dari Pulau Rote layak mendapat penghargaan lebih.

Alat musik tradisional masyarakat Rote itu telah ada sejak puluhan tahun lalu dan menghasilkan suara kombinasi dari tiga alat musik; harpa, piano, dan gitar plastis.

Sasando bukan sekadar harpa, piano, atau gitar tetapi tiga alat musik dalam satu rytm, melodi, dan bass. Jadi meskipun merupakan alat musik tradisional, universalitasnya sasando berlaku menyeluruh.

Alat musik masyarakat Rote itu tergolong cordophone yang dimainkan dengan cara petik pada dawai yang terbuat dari kawat halus. Resonator sasando terbuat dari daun lontar yang bentuknya mirip wadah penampung air berlekuk-lekuk.

Susunan notasinya bukan beraturan seperti alat musik pada umumnya melainkan memiliki notasi yang tidak beraturan dan tidak terlihat karena terbungkus resonator.

Sasando dimainkan dengan dua tangan dari arah berlawanan, kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri berfungsi memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan bertugas memainkan accord.

Sasando di tangan pemain ahlinya dapat menjadi harmoni yang unik. Sebab hanya dari satu alat musik, sebuah arkestra dapat diperdengarkan.

Mari mainkan lagu khas NTT, Bo Lele Bo, Sasando akan perdengarkan yang terbaik. Di satu kesempatan, coba petik sasando untuk mendendang Heal The World milik Michael Jackson, maka bagi alat musik itu bukan menjadi sesuatu yang sulit.

Sayang, sasando ibarat masterpiece maestro yang terpendam dan nyaris punah. Alat musik luar biasa itu terancam tinggal cerita manakala di tempat asalnya sendiri telah menjadi sesuatu yang asing.

Sasando memang menyimpan kisah haru. Alat musik ciptaan dua pendeta asal Pulau Rote itu kini hanya dapat dipetik oleh delapan orang yang menjadi generasi terakhirnya.

Jacko H.A. Bullan boleh jadi merupakan salah satu generasi terakhir pewaris sasando Rote.

Anak pertama dari dua bersaudara itu tergugah untuk sadar dan bertahan memperpanjang umur sasando agar dapat terus mengalun di telinga generasi mendatang.

"Orang yang bisa memainkan sasando saat ini tinggal delapan orang termasuk saya," kata pria yang akrab disapa Jack itu.

Dari jumlah itu, tiga orang di antaranya telah berusia di atas 30 tahun. Dan di NTT sendiri saat ini sudah tak ada satu pun yang bisa memainkan sasando.

"Orang terakhir yang bisa memainkan sasando di kampungnya sudah meninggal pada tahun 1997," kata Jack.

Penyelamat Sasando
Jack tidak akan pernah menyangka bahwa pengabdiannya menjadi penyelamat sasando berbuah manis.

Kelahiran Kupang 29 Juli 1969 itu saat kecil dilarang menekuni sasando oleh orang tuanya yang khawatir anak pertamanya sulit memperoleh penghidupan yang layak.

"Berhenti main musik, pergilah ke kebun jadi petani. Begitu perintah bapak saya, tapi saya menolak," katanya.

Awalnya ia pun berpikir tak mungkin bisa hidup dari sasando tapi toh pada kenyataannya dia hidup dari alat musik itu.

Kini, dalam satu pekan ia manggung paling sedikit tiga kali dan rutin menjadi pengisi acara di sebuah rumah makan ternama di Kota Bandung. Jadwal itu belum termasuk kegiatannya menjadi guru musik sasando di rumahnya.

"Untuk lebih menyosialisasikan sasando , saya pindah ke Jakarta," kata Jack yang kini tinggal di bilangan Jakarta Timur itu.

Tidak hanya memainkan dan mengajar, Jack memperluas profesi sebagai pembuat sasando. "Harganya berkisar Rp5 juta sampai Rp15 juta," katanya.

Ketika pamor sasando kian menjulang, order manggung Jack semakin padat. Sejumlah negara pun pernah ia sambangi untuk pentas mulai dari Malaysia, Jepang, hingga Spanyol.

Sayang tidak semua putera daerah Rote mau bersusah payah seperti Jack.

"Sudah jarang sekali anak muda di Rote yang mau belajar sasando," kata pria yang mulai menekuni sasando sejak 1984 itu.

Jack mengaku prihatin dengan kondisi itu terlebih saat harus menelan fakta pahit bahwa orang tua-orang tua yang demikian bangga memainkan sasando dalam berbagai upacara adat, lengkap dengan topi tilangga, pakaian, dan tarian adat, sebagian besar telah meninggal dunia.

Mereka tidak meninggalkan warisan berupa buku atau sekolah yang bisa memandu generasi muda menjadi penerusnya.

"Kini kita sampai pada satu titik di mana semuanya hampir terasa terlambat," kata Jack.

Orang Asing
Jack menekankan tidak selamanya bakat menentukan seseorang menjadi pemain sasando yang hebat.

"Sebab siapa pun yang punya keinginan dan punya niat pasti bisa," katanya.

Ia memiliki impian, sasando menjadi alat musik yang diakui secara universal. Karena alasan itulah ia hijrah ke Jakarta meninggalkan pekerjaannya di Yayasan Gereja di Kupang dan memilih sasando sebagai jalan hidup.

Di ibu kota, Jack membuka rumahnya bagi siapa pun yang ingin belajar sasando. Namun, ia kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa sebagian besar murid yang datang adalah justru warga negara asing.

"Hampir 90 persen orang asing dari mulai Jepang hingga Australia yang menjadi murid saya," katanya.

Saat ini, ia memiliki 100 orang murid yang seluruhnya perempuan. Karena masih sedikit kaum lelaki ingin belajar memetik sasando.

Yang membuat Jack sedih, suatu kali pernah mendapati buku terbitan Jepang yang dibawa muridnya, mengulas soal sasando.

"Di situ ada gambar sasando . Tapi semua tulisannya berhuruf Jepang dan ada lagu Bo Lele Bo di dalamnya," katanya.

Belajar keluar
Ia menyayangkan bila suatu saat kelak bangsa Indonesia terpaksa harus belajar ke luar negeri untuk sekadar memetik sasando.

Menurut Jack, memang sedikit rumit memainkan sasando karena harus mempunyai "feeling" kuat soal musik dan koordinasi gerak tangan yang harus seimbang. Pasalnya melodi ada di sebelah kiri dan bas ada di bagian bawah yang sulit dilihat.

Namun, jika belajar sungguh-sungguh tak sampai dua tahun orang akan bisa memetik dawai-dawai sasando untuk memainkan lagu.

Jack mengaku perhatian pemerintah sudah semakin besar terhadap sasando. Terbukti pada peringatan HUT RI 17 Agustus 2009 salah satu keponakannya didaulat untuk memainkan alat musik itu di depan Istana Merdeka.

Jack pun kerap kali diundang dalam berbagai kesempatan termasuk kampanye kebudayaan di luar negeri oleh sejumlah departemen.

Namun soal bantuan dalam bentuk lain termasuk materi, Jack mengaku belum pernah mendapatkan dari manapun.

Padahal Ditjen Nilai Budaya, Seni, dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), pada dasarnya telah menyediakan program khusus bernama maestro seni tradisi berupa pemberian bantuan tunjangan Rp1 juta per orang setiap bulan hingga seumur hidup.

"Sudah sejak beberapa tahun lalu, kami menggalakkan program maestro," kata Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Film Depbudpar, Tjetjep Suparman.

Sementara itu, Direktur Promosi Luar Negeri Depbudpar, I Gde Pitana, mengatakan, sasando merupakan salah satu hasil karya maestro seni tradisi yang potensial untuk "dijual" di dunia internasional.

"Semua orang yang mendengarkan musik sasando hampir pasti tertarik," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya kerap mengundang pemain sasando untuk turut berpartisipasi dalam ajang "consumer selling" ke beberapa target pasar utama pariwisata Indonesia.

"Ini juga bagian untuk melestarikan sasando dari ancaman kepunahan," katanya.

Dengan demikian Jacko H.A. Bullan tidak akan pernah menjadi generasi terakhir yang memetik dawai-dawai sasando.(*)

Oleh Hanni Sofia
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2009

Tradisi merawat alam di tengah komunitas sayyid

Komentar