Kuala Lumpur (ANTARA News) - Sejumlah aktivis Indonesia dan Malaysia bersatu untuk menyatakan keprihatinan atas ketegangan hubungan kedua negara bertetangga itu dan meminta pemerintah dan elemen masyarakat lainnya ikut meredakan suasana tegang tersebut.

Keprihatinan aktivis pemuda dan LSM Indonesia-Malaysia itu dituangkan dalam naskah keprihatinan bersama di sebuah hotel di Subang Jaya, Selangor, Malaysia, Senin.

Yang ikut serta dalam penandatanganan pernyataan itu antara lain Ketua Eksekutif Indonesia Malaysia Strategic Center Ismail Awab, Sekjen Indonesia Strategic Center Bagus Satriyanto, Eksekutif Yayasan Generasi Baru Nusantara Mohamad Ezam Mohd Nor, dan Direktur Eksekutif Yayasan Generasi Baru Nusantara Imam Nur Azis.

Kemudian Direktur Eksekutif Center For Indonesia Reform Sapto Waluyo, dosen Fakultas Ilmu Budaya UI Yon Machmudi, dan Deputi Sekjen Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia Chairul Anhar.

Ismail Awab mengatakan, pemerintah Indonesia dan Malaysia harus segera mengambil langkah-langkah cepat dalam menyelesaikan ketegangan hubungan kedua negara beberapa bulan terakhir ini.

"Kalau tidak segera ditangani oleh pemerintah dan LSM Indonesia dan Malaysia maka isu-isu ini memang ibarat virus yang akan menghancurkan dan mengadu domba dua negara serumpun," kata Ismail dalam jumpa pers bersama beberapa NGO Indonesia dan Malaysia.

Dia mengatakan, kawan-kawan NGO dari Indonesia dan Malaysia sangat menyadari bahwa sebagai negara serumpun tentu kadang-kadang muncul pertikaian-pertikaian sosial, ekonomi, kebudayaan, kemasyarakatan, dan juga batas-batas negara yang belum tuntas diperbincangkan oleh kedua pemerintahan.

"Kami sebagai NGO dari kalangan muda dua negara ini mengimbau kepada seluruh komponen bangsa di Malaysia dan di Indonesia, marilah jadikan pertikaian ini untuk kita ambil hikmahnya sebagai rahmat agar lebih dekat lagi membincangkan permasalahan yang ada hari ini dan masa depan dua bangsa serumpun ini," katanya.

Ismail Chairul yakin rakyat Indonesia dan Malaysia yang sudah terikat dengan sejarah panjang dalam bingkai Nusantara tidak akan mudah terpecah belah oleh segelintir rakyat yang emosional.

Mohamad Ezam Mohd Nor menambahkan, ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia yang muncul belakangan boleh jadi disebabkan adanya kepentingan pihak ketiga yang tidak menginginkan hubungan baik terjalin antara Indonesia dan Malaysia.

Kepentingan itu bisa bersifat politik ataupun ekonomi.

"Kami memang tidak punya alat yang dapat memastikan adanya pihak ketiga tersebut. Tapi kami melihat ada indikasi itu. Karena itu kami meminta kepada pemerintah kedua negara untuk melakukan kajian lebih lanjut mengenai kemungkinan tersebut," kata Ezam

Salah satu indikasinya menurut dia, meningkatnya hubungan sosial dan ekonomi Indonesia-Malaysia secara signifikan dalam 2 tahun terakhir.

"Boleh jadi ada pihak yang tidak suka dengan hubungan ini," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut juga dideklarasikan pembentukan Indonesia-Malaysia Strategic Center (IMSC). IMSC adalah gabungan beberapa NGO dari Indonesia dan Malaysia, antara lain Indonesia Strategic Center (ISC), Yayasan Generasi Baru Nusantara, Center for Indonesia Reform (CIR), dan Lembaga Persahabatan Indonesia-Malaysia.
(*)

Pewarta:
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2009