Jakarta (ANTARA) - Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Kemenpora di Cibubur, Jakarta rencananya akan difokuskan pada lima cabang olahraga Olimpiade sebagai upaya efektivitas serta peningkatan kualitas bibit atlet.

Asisten Deputi Pengelolaan Pembinaan Sentra dan SKO Kemenpora dr. Bayu Rahadian di Jakarta, Kamis menyebutkan lima cabang olahraga Olimpiade yang bakal difokuskan tersebut di antaranya bulu tangkis, angkat besi, dan atletik.

“Pada prinsipnya, PPLP dan SKO harapannya bisa ditingkatkan kualitasnya, dan mengenai cabangnya kita kerucutkan ke cabang Olimpiade yang lebih prioritas,” ujar Bayu saat dihubungi ANTARA.

Baca juga: Rekrutmen calon siswa SKO Kemenpora tertunda akibat pandemi
Baca juga: Kemenpora ikut cari penerus Kevin Sanjaya


Saat ini, sebetulnya PPLP dan SKO yang ada di Indonesia sudah berfokus ke cabang-cabang Olimpiade. Tetapi masih ada beberapa daerah yang memiliki terlalu banyak cabang serta mengandalkan cabang non Olimpiade, seperti sepak takraw dan pencak silat.

Namun bukan berarti cabang-cabang non Olimpiade itu akan dihilangkan karena sebagian cabang, kata Bayu cukup memberikan kontribusi berupa prestasi di kejuaraan internasional level ASEAN maupun Asia. Sementara cabang lainnya yang dinilai kurang berprestasi akan dievaluasi lagi.

Sayangnya, kondisi anggaran yang cenderung stagnan setiap tahun, menurut Bayu, menjadi kesulitan tersendiri untuk bisa meningkatkan kualitas calon atlet secara maksimal.

“(Anggaran) dari tahun ke tahun tidak berubah. Kita harus mengantisipasi untuk perkembangan (siswa). Konsumsi kan meningkat terus,” katanya menjelaskan.

Baca juga: Bappenas akan koordinasi dengan Kemendikbud untuk optimalkan SKO

Saat Ini total ada 13 cabang olahraga yang ada di SKO Kemenpora, yaitu angkat besi, atletik, bola basket, bola voli, bulu tangkis, gulat, panahan, pencak silat, renang, sepak bola, taekwondo, tenis meja, dan tenis lapangan.

Kemenpora sebelumnya telah memindahkan siswa-siswinya dari SKO Ragunan ke pusat pengembangan di Cibubur sehubungan dengan adanya keputusan Pemprov DKI Jakarta sebagai pemilik tanah untuk merenovasi kawasan tersebut.

SKO Ragunan juga saat ini hanya ditempati sebagai pusat pendidikan dan latihan pelajar atlet binaan DKI Jakarta.

Kondisi dan fasilitas SKO Cibubur diakui Bayu masih belum memadai jika dibandingkan dengan yang ada di SKO Ragunan. Minimnya fasilitas juga memaksa Kemenpora harus menyewa tempat pelatihan di lokasi lain.

“Kualitas pengelolaannya kurang lebih masih sama dan memang perlu ditingkatkan. Fasilitasnya kita sewa karena di situ yang ada hanya tenis dan gym. Ada ruang-ruang masih butuh peningkatan,” pungkasnya.

Baca juga: Witan Sulaiman wujudkan mimpi bermain di Eropa
Baca juga: Egy diharapkan lulus SKO sebelum gabung klub Eropa
Baca juga: Menpora berkomitmen kembalikan kejayaan olahraga Maluku

 

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Bayu Kuncahyo
Copyright © ANTARA 2020