Waspadai penyakit pernapasan legionnaire muncul selama COVID-19

Waspadai penyakit pernapasan legionnaire muncul selama COVID-19

Ilustrasi demam (Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Di saat pandemi COVID-19, ahli kesehatan mengingatkan potensi penyakit mematikan lainnya terutama di wilayah yang bangunannya tak dipakai selama beberapa waktu karena ditutup.

Bangunan yang sebelumnya ditinggalkan berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya penyakit legionnaire. Penyakit pernapasan penyebab pneumonia berat dan dapat mematikan bila pasien tak dirawat segera.

Legionnaire juga memiliki gejala yang sama dengan COVID-19, yakni demam, batuk kering, sesak napas dan nyeri otot.

Namun, orang tidak bisa mengenali penyakit legionnaire dari orang yang terinfeksi. Penyakit ini menginfeksi orang-orang melalui tetesan air inhalasi atau kabut yang membawa bakteri Legionella pneumophila.

Baca juga: Penyakit Legionnaires tewaskan tujuh orang di New York

Baca juga: Pilek alergi, salah satu gangguan pernapasan disebabkan polusi udara


"Legionnaires tidak menyebar dari orang ke orang tetapi menyebabkan wabah melalui tetesan air udara yang terkontaminasi dari sumber termasuk pancuran, keran, sistem pendingin udara, kolam spa, kolam air panas dan air mancur," menurut Anne Clayson, associate professor di bidang kesehatan dan kesehatan kerja di University of Manchester seperti dilansir Medical Daily.

Bakteri L. pneumophila umumnya hidup di lingkungan yang hangat dan mendapatkan makanan dari endapan pipa. Bangunan yang lama tidak dipakai memungkinkan bakteri berkembang biak dan akhirnya mencemari sistem air.

"Semua sistem air berisiko terhadap kontaminasi yang sebenarnya bisa dicegah ini, tetapi bangunan yang tidak aktif dan dinonaktifkan paling berisiko," kata Clayson dalam sebuah artikel yang diunggah di Conversation.

Clayson mengatakan orang-orang kemungkinan melihat penyebaran penyakit legionnaire secara tiba-tiba di negara-negara yang menutup sejumlah besar bangunan karena lockdown seperti Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris dan Belanda.

Sebelum pandemi, negara-negara tersebut sudah menghadapi masalah karena tingginya kasus penyakit legionnaire. Pada 2017, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris dan Belanda mencakup 70 persen dari semua kasus di Eropa.

Clayson mengatakan penyakit legionnaires juga menargetkan orang-orang yang berisiko tinggi tertular COVID-19. Kedua penyakit dapat dengan mudah mempengaruhi orang dewasa yang lebih tua, pria dan mereka yang memiliki kondisi paru-paru kronis dan penyakit lain, seperti diabetes.

Clayson menyarankan pejabat publik dan swasta perlu memeriksa komprehensif sistem air di kantor, sekolah, pabrik dan bangunan lain untuk mengurangi risiko penyakit legionnaire.

Baca juga: Delapan masalah kesehatan yang mengincar pria

Baca juga: Ahli : Penderita jantung jaga kondisi kesehatan saat pandemi

Baca juga: Stres corona? awas psoriasis bisa kambuh

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2020

3 strategi penanganan flu burung disarankan untuk tangani COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar