... sekaligus sinkronisasi persepsi antara aparatur industri di pusat dan daerah, terkait kebijakan pengembangan dan pembinaan industri pada masa pandemi COVID-19.
Denpasar (ANTARA) - Sebanyak 373 aparatur industri Dinas Pemerintah Kabupaten/Kota se-Indonesia bagian timur mengikuti bimbingan teknis (bimtek) dalam rangka menghadapi berbagai macam situasi dan kondisi, termasuk kondisi pandemi COVID-19 serta dalam menghadapi era new normal atau normal baru.

"Kegiatan ini merupakan upaya knowledge transfer sekaligus sinkronisasi persepsi antara aparatur industri di pusat dan daerah, terkait kebijakan pengembangan dan pembinaan industri pada masa pandemi COVID-19,"kata Kepala BPSDMI Kemenperin, Eko S.A. Cahyanto, saat pembukaan bimtek aparatur industri daerah secara virtual di Denpasar, Senin.

Ia mengatakan bahwa dengan adanya pelaksanaan bimtek ini, aparatur industri daerah yang juga bertugas sebagai pendorong kinerja industri diharapkan mampu mendampingi pelaku industri menghadapi situasi dunia usaha yang terus berkembang dan mampu berinovasi dalam implementasi kebijakan.

Bimtek bagi aparatur industri di tingkat kabupaten dan kota di Indonesia bagian timur diselenggarakan pada 15-16 Juni 2020 oleh Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar Kemenperin.
Baca juga: Kemenperin siapkan aparatur industri hadapi normal baru
Baca juga: Kiat bagi pelaku industri mode jelang fase normal baru


"Sektor industri memiliki peran strategis dalam memberikan kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian nasional. Aktivitas industri terbukti mampu memberikan peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal serta menambah penerimaan devisa negara," jelasnya.

Ia menjelaskan data kinerja sektor industri untuk periode Januari sampai Desember 2019, menunjukan nilai ekspor sebesar 126,57 miliar US Dollar dan menyumbang 75,5 persen dari total ekspor Indonesia.

Lima sektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor tersebut yaitu dari industri makanan sebesar 21,46 persen, logam dasar 13,72 persen, bahan kimia dan barang dari bahan kimia 10 persen, industri pakaian 6,56 persen, serta industri kertas dan barang dari kertas sebesar 5,74 persen.

Namun, saat ini pandemi COVID-19 memberikan dampak signifikan, termasuk bagi sektor industri di tanah air, termasuk salah satunya sektor industri manufaktur yang sedang mengalami tekanan berat akibat pandemi COVID-19 ini.

"Terlihat dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun pada bulan april 2020 hingga menyentuh angka 27,5. Dampak pandemi ini mempengaruhi penurunan permintaan pasar domestik, pengaruhnya sangat besar karena selama ini konsumsi domestik mampu menyerap hingga 70 persen dari total produksi industri manufaktur dalam negeri," katanya.

Adapun jumlah sektor industri yang terdampak pandemi COVID-19 yaitu industri yang suffer, moderat dan high demand. Industri yang masuk kategori high demand menjadi perhatian karena masih memiliki permintaan yang tinggi selama pandemi COVID-19.
Baca juga: Industri pariwisata Babel menuju era "new normal"
Baca juga: Kadin: Pengusaha tunggu normal baru, genjot PMI manufaktur


Pewarta: Ayu Khania Pranishita
Editor: Muhammad Yusuf
Copyright © ANTARA 2020