Artikel

Iptu Zainuddin Ashari siaga 24 jam tangani pasien COVID-19

Oleh Alfian Rumagit

Iptu Zainuddin Ashari siaga 24 jam tangani pasien COVID-19

Iptu Zainuddin Ashari (kiri) saat mendengarkan arahan dan petunjuk dari Kapolres Jayapura Kota AKBP Gustav R Urbinas (kanan) di RS Bhayangkara Polda Papua di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura. (ANTARA /HO-Iptu Zainuddin Ashari)

meski ada kata yang menyakitkan dari para keluarga dan warga
Jayapura (ANTARA) - Siaga 24 jam menangani pasien COVID-19. Kalimat ini yang terlontar dari mulut Komandan Tim (Katim) Unit Reaksi Cepat (URC) Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) Polresta Jayapura Kota Iptu Zainudin Ashari SH, A.Md.Kep bersama 10 personel yang dipimpinnya sejak dibentuk resmi oleh Kapolresta Jayapura Kota AKBP Gustav R Urbinas pada akhir Maret 2020.

Ia mengisahkan mulai dari menjemput pasien positif corona yang kebanyakan di antaranya terjadinya penolakan oleh keluarga atau warga sekitar hingga ikut menguburkan jenazah di kawasan Buper Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura tanpa dihadiri keluarga atau handaitaulan.

"Hal yang paling menyedihkan adalah saat kami akan mengambil jenazah salah satu kompleks atau perumahan, lalu ada penolakan dari pihak keluarga dan warga sekitar, sementara mereka sendiri enggan untuk menangani," kata pria kelahiran 11 Juli 1978.

Tidak sedikit warga yang melakukan perlawanan karena ada keluarganya yang dinyatakan positif virus yang awalnya ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir Desember 2019 itu.

Jika sudah begini, ayah dari lima orang anak ini bersama personilnya melakukan pendekatan secara humanis kepada sanak keluarga ataupun warga setempat, menjelaskan tentang bahaya penularan virus tersebut.

Terkadang ada yang bisa menerima, namun ada juga yang mengeluarkan kata atau kalimat yang tidak sepantasnya.

Namun, itulah tugas sebagai abdi negara dan rasa panggilan kemanusiaan yang harus dijalani untuk berikan edukasi yang baik dan benar kepada yang belum paham soal pandemi corona.

"Tentunya kami harus menangani persoalan seperti ini dengan sabar, meski ada kata yang menyakitkan dari para keluarga dan warga, tapi kami harus hadapi dengan santun dan senyuman termasuk menyampaikan soal protokol kesehatan dalam pencegahan corona," ujarnya.

Selain itu, bersama Tim URC pernah menjemput salah satu tahanan yang melarikan diri padahal positif corona hingga ke Sentani, Kabupaten Jayapura dan evakuasi seorang tahanan wanita yang alami pendarahan dan positif corona guna penanganan lebih lanjut.

"Kira-kira totalnya sejak awal bertugas di Tim URC, sekitar 40 pasien hingga 50 pasien yang kami tangani, baik pagi, siang atau malam. Jadi, kami bertugas itu sifatnya siaga di posko, kemudian menunggu panggilan dari nomor telepon yang sudah kami sebar sebelumnya," katanya.

Baca juga: Alita Karen, koordinator relawan pendamping wisata COVID-19

Baca juga: Bambang petugas kebersihan jalani masa COVID-19 berbekal doa orangtua


Nine nine zero zero

Alumni Sekolah Polisi Negara (SPN) Jayapura, Polda Papua pada 1999/2000 yang akrab disebut angkatan Nine nine Zero zero atau 9900 (NnZz) itu mengaku sempat menyelesaikan studi S1 hukumnya di Universitas Cenderawasih (Uncen) usai resmi menjadi anggota Polri beberapa tahun.

Kemudian mendapatkan beasiswa kedinasan untuk menempuh pendidikan D3 keperawatan di salah satu universitas ternama di Kota Makasar, Sulawesi Selatan selama tiga tahun.

Setelah kembali menyelesaikan beasiswa kedinasan, ayah dari lima orang anak ini mengaku langsung ditugaskan sebagai salah satu tenaga kesehatan di RS Bhayangkara Polda Papua yang terletak di Kotaraja, Distrik Abepura, Kota Jayapura pada 2005 atau baru setahun diresmikan pengoperasiannya.

"Saya kembali bertugas di Polresta Jayapura Kota bagian Urusan Kesehatan atau Urkes setelah dua tahun terakhir ini, hingga mendapatkan kepercayaan memimpin tim untuk menangani dan mencegah penyebaran virus corona di Kota Jayapura," katanya yang merupakan alumni Sekolah Inspektur Polisi pada 2014.

Sebagai anggota Bhayangkara dan segera menyandang balok tiga di pundaknya pada 2022, Ashari panggilan akrabnya sesama teman sejawat mengaku langsung menerima tugas tersebut ketika ditunjuk untuk memimpin Tim URC oleh pimpinan, sebagai bagian dari pengabdian kepada negara dan rakyat, karena memiliki bekal dan latar belakang sebagai perawat.

Hanya saja, sebagai manusia biasa pasti memiliki rasa khawatir karena mendengar beragam kabar bahwa virus corona sangat mematikan jika terjangkit, apalagi memiliki penyakit bawaan dan kurang penanganannya. "Sebagai manusia rasa khwatir pasti ada, tetapi selain ini sebagai tugas, juga menolong orang banyak merupakan pahala," ungkapnya.

Ashari juga mengaku selama melaksanakan tugas tersebut, istri dan beberapa anaknya sedang berada di Selayar, kampung halaman di Sulawesi Selatan karena imbas dari kebijakan penghentian sementara akses penerbangan dan pelabuhan laut di Jayapura. Sehingga komunikasi kebanyakan lewat telepon seluler atau aplikasi lainnya.

Meski begitu, lanjut dia, kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai petani dan keponakannya yang selalu menanti di rumahnya di Kelurahan Abepantai, Distrik Abepura, Kota Jayapura selalu menanyakan tentang resiko pekerjaannya yang sedang ditekuninya itu.

"Saya sampaikan bahwa virus ini memang mematikan, tetapi dalam bertugas tentunya sesuai standar operasi kerja, di antaranya menggunakan alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, sepatu boot dan lainnya. Termasuk cuci tangan pakai sabun dan mandi hingga bisa beberapa kali dalam sehari," ujarnya.

Selama melaksanakan tugas, bersama rekan-rekan di Tim URC, Ashari mengaku telah ikuti rapit test hingga beberapa kali, sebagai bagian dari pencegahan dari virus corona, meski ada resiko keraguan tertular sangat besar. "Alhamdulilah hingga kini saya bersama tim selalu dalam perlindungan Allah SWT," katanya.

Baca juga: Relawan PMI Jakpus wafat usai bertugas jalankan misi kemanusiaan

Baca juga: Petugas pemakaman di Jakarta Selatan kampanyekan patuhi PSBB


Sosialisasi

Hingga dua bulan lebih melaksanakan tugas sebagai bagian pendukung dari pencegahan virus tersebut, sosialisasi pencegahan virus corona juga terus dilakukan bersama personilnya, dengan harapan warga Port Numbay julukan lain Kota Jayapura bisa memahami bahaya dari penyakit yang belum ada obatnya itu.

Apalagi belakangan ini ada instruksi terbaru dari Pemerintah Provinsi Papua terkait waktu aktifitas warga yang semula hanya dari pukul 06.00 WIT hingga pukul 14.00 WIT kembali menjadi menjadi pukul 06.00 WIT hingga pukul 18.00 WIT serta menyambut kebijakan normal baru gaya Papua yang digaungkan oleh Wakil Gubernur Klemen Tinal, perlu gencar dilakukan.

Dimana masyarakat secara luas perlu memahami kebijakan yang digaungkan itu, bahwa normal baru di tengah pandemi corona sangat memperhatikan protokol kesehatan, di antaranya tetap jaga jarak, gunakan masker ketika keluar rumah dan selalu cuci tangan usai beraktivitas.

Lelaki yang lahir dan besar di Jayapura itu berharap warga bisa mengikuti anjuran pemerintah terkait protokol kesehatan, selain mencegah penyebaran virus corona, juga bisa menekan jumlah resiko tertular.

Hingga Senin (15/06) petang pukul 18.00 WIT, berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Gugus Tugas COVID-19 Kota Jayapura sebaran kumulatif positif sebanyak 590 orang, yang dirawat sebanyak 418 orang, sembuh 164 orang dan yang dinyatakan meninggal sebanyak delapan orang.

Baca juga: Menengok perjuangan petugas pemakaman COVID-19 di Surabaya
​​​​​​​

Baca juga: Kematian perawat akibat corona melonjak dua kali lipat bulan terakhir

Oleh Alfian Rumagit
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar