Sosok

Dr Asvin tidur dua jam sehari untuk pastikan hasil PCR

Oleh Nur Suhra Wardyah

Dr Asvin tidur dua jam sehari untuk pastikan hasil PCR

Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, Dr Asvin Nurulita MKes SpPK (k). ANTARA Foto/HO-Dr Asvin

Makassar (ANTARA) - Beragam respons diperlihatkan masyarakat saat menghadapi situasi pandemi COVID-19. Tidak sedikit dari mereka yang kesulitan beradaptasi di tengah situasi tidak normal ini.

Tidak sedikit pula yang bersikap acuh atas pengaruh virus baru itu.

Namun ada pula sebagian masyarakat yang memiliki jiwa sosial dan kepedulian tinggi untuk membantu sesama yang terdampak virus mematikan itu.

Salah satunya adalah sosok tenaga medis yang menjabat Kepala Instalasi Laboratorium Patologi Klinik RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, Dr Asvin Nurulita MKes SpPK (k).

Masa tidurnya yang seharusnya delapan jam setiap hari, harus direlakan hanya dua jam sehari sejak pandemi ini mewabah di Kota Daeng Makassar, Sulawesi Selatan.

"Masa ini memang sangat kompleks, bikin sedih itu karena waktu kerja sekarang tidak jelas. Saya sekarang hanya punya waktu tidur paling lama dua jam, bahkan di awal munculnya wabah ini saya sampai tidak tidur," katanya.

Menjadi kepala laboratorium di rumah sakit rujukan utama Sulawesi Selatan itu menjadi amanah besar bagi perempuan asal Kabupaten Soppeng ini.

Dr Asvin harus memastikan hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) pasien secara tepat tanpa kekeliruan untuk penentuan status positif atau negatif terhadap COVID-19, meski jam istirahat harus dikorbankan.

"Tidur maksimal setengah jam, satu jam, terus paginya saya harus ke kantor lagi, karena kita juga diburu untuk upload data, karena begitu kami selesai, saya harus kirim ke kepala dinas," ungkapnya.

Pulang ke rumah setelah bekerja sejak pukul 08.00 pagi hingga pukul 10.00 malam, bukan berarti ia harus mengambil waktu beristirahat.

Dr Asvin masih harus berjibaku dengan laporan hasil PCR masyarakat di Sulsel yang sebelumnya harus menunggu kiriman hasil uji sampel dari para tim nya.

Alasannya, agar laporan perkembangan kasus segera disampaikan ke Pemerintah Provinsi dalam hal ini Dinas Kesehatan Sulsel yang harus segera pula diteruskan ke Pemerintah Pusat, sebagai dasar penentuan kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19.
 

Analis Kesehatan RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar. ANTARA/Nur Suhra Wardyah

"Karena saya harus mengontrolnya, kadang setelah sampai rumah, saya tunggu mereka kerja yang masih menunggu sampel keluar dari alat itu pada pukul 11.00 malam," katanya.

Jika hasil itu tidak ada masalah, maka tidak jadi persoalan. Tetapi jika ada masalah maka semua proses pemeriksaan harus diulang dari awal.

"Kadang-kadang mereka menangis, ketika mereka kirimkan saya gambar lalu saya interpretasi dan ternyata ada yang keliru, karena semua harus diulang dari awal," ucap ibu dua anak ini.

Pengorbanan ini, ujarnya, harus dilakukan karena ada komitmen ingin menyelesaikan kasus ini dengan cepat dan tepat.

Keterlambatan mengerjakan sampel dipastikan akan berdampak pada semuanya, penyebaran virus akan semakin meluas dan malah tidak bisa dikontrol.

Sorotan masyarakat terhadap pasien COVID-19 menjadi hal yang disayangkan dr Asvin. Kendati hal itu sekaligus berubah menjadi motivasi tersendiri baginya untuk sangat berhati-hati mengerjakan sampel lalu menentukan status.

Hal ini pula yang menjadikan dr Asvin harus menguras waktu, tenaga dan kebersamaan dengan suami dan kedua anaknya, demi memastikan hasil pemeriksaan PCR tepat tanpa kesalahan.

Dengan mata berkaca-kaca, perempuan kelahiran 22 Agustus 1978 itu mengisahkan hanya bisa menyapa singkat anak-anaknya pada pagi hari sebelum ke kantor dan malam hari setiba di rumah.

Jaraknya pun tentu ia batasi, sebagai orang yang berisiko bisa menularkan virus itu. Karena itu, masuk kamar dan tidak keluar lagi menjadi rutinitas yang mulai dimaklumi anak-anaknya.

Dr Asvin sadar bahwa posisinya saat ini, mengharuskannya selalu hadir bagi 24 orang stafnya yang tergabung dalam tim uji sampel COVID-19. Ini pula yang mengakibatkan dirinya harus rela kehilangan berat badannya sebanyak 12 kilogram dalam dua bulan terakhir.

Dia mengaku bahwa mulai lupa seperti apa rasanya libur dan berakhir pekan. Senin hingga Minggu harus berada di kantor, mendampingi anggota timnya jika ada yang mengalami hambatan, seperti kurang sehat.

Perempuan berusia 41 tahun ini seolah menjadi "tameng" bagi 24 analis kesehatan yang bertugas bersamanya. Dia harus ikut memeriksa puluhan hingga ratusan spesimen setiap hari. Di sisi lain, masyarakat menunggu hasil pemeriksaan PCR-nya.

Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada itu lebih lanjut menguraikan bahwa hasil PCR tidak segampang yang diperkirakan khalayak saat ini. Karena tidak jarang, hasil uji lab "disertai" air mata, rasa lapar, rasa capek luar biasa selama proses pemeriksaannya.

"Karena itu kita mendiagnosis ini harus sangat berhati-hati, karena ini soal status sosial di masyarakat, apalagi ketika sampel yang kita periksa itu banyak sekali. Ada di antaranya sampel pejabat atau teman sejawat," ungkapnya.

Pilu, satu kata yang pas ia sematkan saat harus berhadapan dengan hasil positif COVID pada pemeriksaan PCR teman-teman sejawatnya, seperti para dokter yang terinfeksi virus corona.

Karena itu, dr Asvin mengaku kerap kali menangis bersama para pasien setelah menyampaikan hasil pemeriksaan. Dia kerap menjadi tempat curhat pasien yang tak lain adalah teman sejawat di ruang lingkup kerjanya maupun teman dekatnya.

Tim Hebat

Memiliki tim hebat yang dipilihnya sendiri menjadi kesyukuran luar biasa bagi Dr Asvin di tengah kondisi tidak normal dan nyaris mengubah interaksi hidupnya pada dua bulan terakhir.

"Jadi untungnya saya punya tim hebat, dan memang saya pikir bahwa orang-orang pilihan yang masuk di RS Wahidin, kita ada 28 orang dalam Tim COVID-19 ini," katanya.

Ia menyampaikan memang tidak mengambil tim dengan jumlah yang banyak sebab perawatan lain untuk uni lab penyakit lainnya juga mesti tetap berjalan, apalagi RS Wahidin Sudirohusodo juga tetap menerima pasien rawat inap dan rawat jalan.

Meski begitu, ia masih mampu berdiri tegak dengan keyakinan bahwa wabah ini bisa diatasi bersama-sama dengan solidaritas yang tinggi. Itu bisa ia lihat dari ketangguhan timnya menyelesaikan tugas tanpa mengabaikan spesimen lebih lama diketahui hasilnya oleh pemiliknya.

Belum lagi, pekerjaan ini didasari atas empati, kemanusiaan dan semua karena Allah.

Dr Asvin yang tampak meneteskan air mata mengaku bersyukur, timnya menjadi sebegitu kuat dan hebat mengerjakan tugas dengan risiko tinggi tanpa pamrih sedikit pun. Keluhan nyaris tidak pernah ia dengar dari 28 orang yang dipilihnya.

Karena itulah, Dr Asvin selalu menyampaikan ke masyarakat bahwa garda terdepan itu bukan hanya perawat dan dokter, tetapi ada juga Ahli Teknologi Laboratorium Medicine (ATLM) atau Analis Kesehatan.

"Karena merekalah yang mengerjakan spesimen semua pasien COVID-19 sampai diketahui hasilnya dan bisa membantu penatalaksanaannya," ujarnya.

Analis Kesehatan dalam timnya yang berjumlah 28 orang dibagi dalam dua tim, masing-masing 14 orang. Masa kerjanya pun dibagi dalam dua waktu yakni tanggal 1- 15 dan 16-30.

Ketika tim 1 masuk, maka tim 2 harus beristirahat selama satu periode masa inkubasi. Setiap pergantian tugas dilakukan uji swab sebelum masuk tugas dan setelahnya.

"Ini supaya kami yakin bersama-sama orang yang betul sehat. Karena jika ada yg positif, maka kami akan melaporkan ke RS untuk kemudian diberikan terapi. Begitu pula setelah tugas kita swab untuk meyakinkan bahwa mereka pulang dalam keadaan sehat," jelasnya.

Baca juga: Lima tenaga medis RSUD Daya Makassar terpapar COVID-19
Baca juga: Wakapolda Sulsel bagikan APD di RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar
Baca juga: Pasien COVID-19 di Sulsel berbagi cerita kesembuhannya

 

Oleh Nur Suhra Wardyah
Editor: Arief Mujayatno
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar