Politisi diharapkan terapkan komunikasi politik yang sehat

Politisi diharapkan terapkan komunikasi politik yang sehat

Pakar komunikasi dan pengamat politik Tjipta Lesmana mengatakan komunikasi memiliki peran sentral dalam aktivitas politik di berbagai tingkatan, dari pemerintah pusat hingga ke daerah. (Chrispol)

Komunikasi politik tidak mudah dilaksanakan dalam arti untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal. Butuh kecakapan, ketulusan, dan empati untuk menjadi komunikator politik yang cakap
Jakarta (ANTARA) - Para politikus di Tanah Air diharapkan menerapkan komunikasi politik yang sehat demi membangun atmosfer dunia politik yang baik di Indonesia.

Pakar komunikasi dan pengamat politik Tjipta Lesmana dalam keterangannya, diterima di Jakarta, Selasa, mengatakan komunikasi memiliki peran sentral dalam aktivitas politik di berbagai tingkatan, dari pemerintah pusat hingga ke daerah.

"Komunikasi politik tidak mudah dilaksanakan dalam arti untuk mencapai tingkat efektivitas yang optimal. Butuh kecakapan, ketulusan, dan empati untuk menjadi komunikator politik yang cakap," tuturnya.

Baca juga: Pakar komunikasi sebut penanganan COVID-19 melebar ke aspek politik

Tjipta menerangkan, komunikasi politik wajib dilakukan dengan cara yang benar demi menghindari tindak komunikasi politik yang kurang elok.

Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik itu menyarankan agar audiens berkomunikasi politik dengan didasari pada semangat kasih terhadap sesama.

Tjipta mengatakan, masalah komunikasi politik di Tanah Air sering timbul karena politik pada dirinya sendiri memiliki tiga aspek besar, yaitu usaha mendapatkan kekuasaan, mendistribusikan kekuasaan dan melaksanakan kekuasaan, yang meliputi mempertahankan dan mentransfer kekuasaan.

”Karena aspek kekuasaan yang menggiurkan inilah sebagian politikus lupa menggunakan prinsip komunikasi politik yang baik, dimana belakangan ini memang menunjukkan kenyataan komunikasi politik di Indonesia yang semakin rusak," ujarnya,

Tjipta mendorong politikus mempelajari sungguh-sungguh dasar ilmu komunikasi politik, agar tercipta sebuah atmosfer komunikasi politik yang baik dan memperbaiki kondisi saat ini yang sudah sangat terdegradasi.

Senada disampaikan Direktur Eksekutif Christian School of Culture, Politics, and Philosophy (Chrispol) Dhimas Anugrah yang mengatakan, komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik.

Baca juga: Pakar: Kritik pemerintah harus disertai solusi

"Di masa lalu ada pemimpin daerah yang sangat bagus dan terkenal bersih tapi terjungkal karena komunikasi politiknya yang buruk. Nah kita perlu belajar bersama tentang apa dan bagaimana komunikasi politik ini," ujarnya.

Dhimas mengaku prihatin terhadap banyaknya ujaran kebencian, hoaks, dan fitnah yang menghiasi dunia politik di Tanah Air. Hal itu seharusnya tidak boleh terjadi.

Ia mengajak semua pihak menghindari jenis komunikasi yang didasari rasa benci, kebohongan, dan fitnah.

Menurut dia, perkembangan teknologi digital pun turut mempengaruhi dinamika komunikasi politik dewasa ini. Dhimas berpendapat masyarakat sudah terbiasa mengirim pesan dan kritik langsung kepada para tokoh politik melalui media sosial mereka. Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri di masyarakat.

Hanya saja, Dhimas mendorong agar masyarakat tetap memperhatikan prinsip komunikasi yang elok dan menghindari serangan verbal terhadap SARA dan karakter seseorang.

"Menyampaikan pendapat itu lumrah, tapi jangan sampai menghina atau bahkan memfitnah pihak lain. Hindari ujaran kebencian dengan motivasi apa pun. Sesuai sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, mari kita berkomunikasi politik dengan baik," ucapnya mengajak.

Baca juga: NasDem: komunikasi politik bersama oposisi jangan dicurigai

Baca juga: Bambang Soesatyo: Lebaran jadi momentum lancarkan komunikasi politik

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar