Jakarta (ANTARA News) - Tanggal 1 Oktober merupakan hari bersejarah bagi China. Pada hari itu, tahun 1949, pemimpin besar negeri Tirai Bambu, Mao Zedong memproklamasikan berdirinya negara Republik Rakyat China.

Kini setelah 60 tahun, kondisi banyak berubah, meskipun ideologi partai tidak berubah. Pada sejumlah kota di China, termasuk Beijing, "tampang" borjuis (kelas masyarakat dari golongan menengah ke atas) ada di mana-mana.

Gedung kota yang menjadi landmark (penanda) tidak angker lagi. Mereka dipoles, berwajah modern. Tidak ada rona kaku, kolom tembok dingin, khas kota-kota di negara komunis.

Wajah kota Beijing kini tak ubahnya seperti kota metropolis di negara-negara kapitalis. Penuh warna, gaya dan penuh kaca. Bahkan, gedung pemerintah sekalipun terasa akrab di pandang mata, tetapi tidak saat memasukinya.

Jalan utama kota lebar-lebar, penuh bunga. Warna bunga favorit kota adalah merah dan kuning. Mungkin ini perlambang dari warna bendera negara, yakni berwarna dasar merah dengan lima bintang berwarna kuning.

Baliho besar berisikan pesan propaganda yang biasanya menghiasi kota, kini diganti dengan display layar lebar dengan pesan yang sama, meski harus berganti dengan iklan komersial.

Display
besar itu terdapat di sejumlah perempatan jalan. Gaya tradisional yang masih tersisa menghias Beijing adalah lampion berwarna merah dengan rumbai kuning yang digantung di lampu jalan. Selebihnya, Beijing, yang berpenduduk 17 juta, tak ubahnya kota metropolis dunia lainnya. Macet di mana-mana.

Jangan harap melihat rombongan besar penduduk bersepeda pergi dan pulang kerja. Mereka masih ada, tetapi harus bersaing dengan mobil pribadi yang memacetkan kota.

Dengan penduduk sebanyak itu, transportasi massal (bus, kereta dan subway) yang ada tidak mampu mengatasi kemacetan karena setiap hari 1.500 mobil baru meluncur di kota ini.

Menjelang perayaan hari jadi sebagai negara Republik Rakyat China, lapangan Tiananmen menjadi tempat yang tersibuk. Sejumlah persiapan sedang dilakukan di sana.

Ratusan pekerja tampak menyiapkan panggung dan membenahi setiap sudut lapangan. Meski, dalam tahap persiapan, minat warga kota dan turis untuk menyaksikannya sudah membesar.

Mereka menyaksikan tukang dan teknisi bekerja. Di depan gedung utama, tampak mencolok foto wajah Mao Zedong.

Sejarah Tiananmen

Lapangan ini memiliki sejarah yang berbeda. Dalam sejarah China, Tiananmen adalah nama bangunan pintu selatan kompleks Istana Kuno Dinasti Ming dan Qing di pusat kota Beijing.

Menurut Wikipedia, Tiananmen berarti harfiah Pintu Surga yang Damai. Pintu ini adalah pintu gerbang utama istana pada zaman pemerintahan Dinasti Ming dan Qing.

Bangunan pintu ini terletak di sebelah utara Lapangan Tiananmen. Di era komunis di tengah pintu terpasang foto besar Ketua Mao Zedong. Di samping kiri dan kanan terdapat plakat berdasar merah dengan tulisan putih yang berarti harfiah "Berjayalah selamanya Republik Rakyat Tiongkok dan Berjayalah selamanya persatuan dunia".

Bagi pemerintah komunis, lapangan ini menjadi tempat bersejarah dari banyak peristiwa. Di sini setiap tahun dirayakan hari jadi Republik Rakyat China.

Namun, bagi prodemokrasi, lapangan ini juga menyimpang kenangan sejarah yang menyesakkan, ketika ribuan (sumber lain mengatakan puluhan ribu) tentara menembak dan menggilas pengunjuk rasa yang menuntut reformasi di China, 3 Juni 1989.

Peristiwa ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah China modern. Terlepas dari itu semua, pendapat Asisten Menteri Luar Negeri RRC, Hu Zhenyue patut disimak, ketika menerima belasan wartawan Asia di kantornya, Senin (28/9).

Bagi Hu, negara tetangga tidak perlu khawatir dengan perkembangan tentara dan senjata yang dimiliki. Biasanya, saat parade 1 Oktober, sejumlah senjata modern China akan digelar.

Senjata yang dimiliki, kata Hu, lebih banyak digunakan untuk kepentingan dalam negeri. "Saat ini kami tidak melihat ancaman dari luar, termasuk dari negara tetangga," kata Hu.

Dia juga menyinggung latihan militer dengan negara tetangga, India, seakan ingin mengatakan, kekuatan itu digunakan untuk perdamaian dunia, juga pada negara tetangga.

Secara spesifik, Hu mengatakan yang terpenting saat ini menjaga perdamaian agar kerja sama ekonomi dapat meningkat pesat dan saling menguntungkan.

Ketika menjawab pertanyaan tentang perdagangan bebas ASEAN-China, Hu berharap rencana tersebut bisa direalisasi Januari 2010, sebagaimana kesepakatan sebelumnya.

Dia melihat kerja sama itu akan menjadikan ASEAN-China sebagai potensi pasar yang menguntungkan kedua belah pihak karena terdapat 2 miliar penduduk di dalamnya.

Wartawan Asing

Apapun kondisi hubungan kedua negara, China dengan kelompok negara ASEAN, peringatan 1 Oktober ini akan menjadi peristiwa yang menarik mata dunia. Meskipun China tidak mengundang pemimpin negara sahabat, tetapi mereka mengundang seratusan wartawan asing ke sana.

Jika, benar pena lebih tajam dari pedang, maka peringatan hari jadinya China modern akan tersiar di lebih seratusan negara, dan mata dunia mengarah ke sana.

Untuk itu, Beijing telah bersiap menjadi panggung pertunjukan kembang api terbesar di dunia pekan ini. Lebih dari 20.000 kembang api --dua kali lipat jumlah yang digunakan untuk pembukaan Olimpiade Beijing tahun lalu-- akan menerangi langit kota, demikian laporan surat kabar Global Times.

Tidak hanya itu, sekitar 60.000 burung dara, perlambang 60 tahun hari jadi RRC, akan dilepas pada hari yang sama.

Bandara Internasional Beijing juga akan tertutup untuk penerbangan lokal hari itu, sementara penerbangan internasional dijadwal ulang pada hari yang sama.

Dengan kondisi itu, Beijing agaknya siap merayakan 1 Oktober, hari jadi negara komunis yang kini berwajah kapitalis. (*)

Oleh Oleh Erafzon SAS
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009