COVID-19 dorong Indonesia tingkatkan kemandirian produksi barang

COVID-19 dorong Indonesia tingkatkan kemandirian produksi barang

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar menyampaikan pidato kunci dalam seminar daring berjudul “Smart Economic Partnership: Potentials for Cooperation between Indonesia and the American and European Region”, dari Jakarta, Jumat (1/5/2020). (ANTARA/Yashinta Difa)

Masing-masing negara ingin mengamankan kepentingan nasionalnya, ini terlihat dari keinginan memiliki akses terhadap bahan baku sampai barang jadi
Jakarta (ANTARA) - Krisis kesehatan akibat pandemi COVID-19 mendorong pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia untuk lebih mandiri mengamankan rantai pasokan barang, khususnya terkait perlengkapan kesehatan dan alat pelindung diri, kata Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Mahendra Siregar, saat menyampaikan kuliah umum pada ruang virtual, Rabu.

"Ini update saja, saat ini kita sudah punya industri manufaktur mulai dari bahan baku sampai bahan jadi sampai sudah mendapat sertifikasi internasional, termasuk WHO (untuk alat kesehatan)," kata Mahendra.

Menurut dia, langkah itu dilakukan oleh pemerintah bersama para pelaku usaha dalam jangka waktu sekitar tiga bulan sejak Indonesia mulai mengalami kelangkaan alat pelindung diri serta bahan baku saat pandemi.

Baca juga: Kemajuan industri pertahanan akan ikut dorong kemandirian ekonomi
Baca juga: Diplomasi topang kemandirian ekonomi nasional


"Dalam waktu tiga bulan, kita sekarang punya, tetapi ini baru tahap awal," ujar Mahendra.

Mahendra menjelaskan rantai pasokan barang dunia (global value chain), khususnya untuk alat kesehatan dan pelindung diri, terganggu akibat pandemi. Dampaknya, alat tersebut langka di banyak negara, termasuk di Indonesia.

Rantai pasokan terganggu karena banyak negara terlalu bergantung pada satu atau dua negara tertentu, utamanya untuk pengadaan bahan baku sampai produk jadi.

Contohnya, saat COVID-19 berdampak ke 216 negara dan wilayah, rantai pasokan barang-barang kesehatan paling terdampak, karena permintaan tinggi, tetapi bahan baku sampai produk jadi didominasi oleh sedikit negara, salah satunya China.

"COVID-19 membuat banyak negara melihat rantai pasok dunia yang terlalu bertumpu pada satu negara sebagai risiko yang tidak bisa diterima, karena pada saat tertentu, Januari, Februari, Maret, nyaris seluruh dunia kekurangan masker, alat pelindung diri, dan obat-obatan, karena bahan bakunya dari satu atau dua negara tertentu," terang dia.

"Saat negara itu lockdown (tutup), semua macet, padahal yang dihadapi kondisi genting di tengah COVID-19," tambah Mahendra.

Menurut dia, situasi demikian menyebabkan banyak negara, termasuk Indonesia, memikirkan pentingnya membuat perubahan pada rantai pasokan barang dunia.

"Masing-masing negara ingin mengamankan kepentingan nasionalnya, ini terlihat dari keinginan memiliki akses terhadap bahan baku sampai barang jadi," terang dia.

Mahendra menjelaskan bagi Indonesia kepentingan nasional itu merujuk pada pengembangan industri bernilai tambah , peningkatan pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, serta peningkatan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: Prabowo tawarkan strategi baru untuk bangun kemandirian ekonomi
Baca juga: Pemerintah dorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui wirausaha

Pewarta: Genta Tenri Mawangi
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Cerita Narsih tukang jamu keliling penerima bantuan pemerintah

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar