Emiten farmasi Phapros gandeng Unair kembangkan serum "anti-aging"

Emiten farmasi Phapros gandeng Unair kembangkan serum "anti-aging"

PT Phapros Tbk yang merupakan anak usaha dari PT Kimia Farma (Persero) Tbk terus berinovasi mengembangkan sayap bisnisnya dan salah satu produk hasil inovasi Phapros adalah Diafac extended release (Diafac XR) yang merupakan obat Diabetes Mellitus tipe 2. (Foto: Ist)

Ini merupakan salah satu dukungan kami terhadap hilirisasi riset. Dalam mengembangkan produk ini, kami juga telah mendapatkan pendanaan dari Kemenristek Dikti sebesar Rp20,2 miliar sejak 2017 ....
Jakarta (ANTARA) - Emiten farmasi PT Phapros Tbk (PEHA) menggandeng pusat pengembangan dan penelitian "stem cell" Universitas Airlangga dalam mengembangkan serum anti penuaan dini (anti-aging) berbahan dasar biologi atau non kimia.

Direktur Utama PT Phapros Tbk Barokah Sri Utami mengatakan kosmetik menjadi peluang pasar yang besar. Anak usaha PT Kimia Farma Tbk itu kian gencar melakukan ekspansi bisnis, salah satunya dengan mengembangkan portofolio produk kecantikan berbahan dasar biologi atau sekret metabolit stem cell.

"Ini merupakan salah satu dukungan kami terhadap hilirisasi riset. Dalam mengembangkan produk ini, kami juga telah mendapatkan pendanaan dari Kemenristek Dikti sebesar Rp20,2 miliar sejak 2017 sehingga, kami harapkan semester dua tahun ini sudah siap diproduksi," ujar Emmy, panggilan akrabnya, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Baca juga: Menko PMK tawarkan bantuan ke Unair dukung penelitian obat COVID-19

Emmy menambahkan, pihaknya membidik kalangan menengah ke atas sebagai target konsumen serum kecantikan berbahan dasar biologi pertama di Indonesia tersebut.

"Hal ini karena prosesnya yang cukup rumit, membutuhkan penelitian yang cukup lama dan menggunakan sel yang diambil dari tubuh manusia, sehingga produk ini dibandrol dengan harga di atas Rp1 juta per botol. Kami juga berencana bekerjasama dengan klinik kecantikan untuk memasarkan produk ini," kata Emmy.

Pendapatan yang ditargetkan oleh emiten yang pada 21 Juni mendatang genap berusia 66 tahun dari penjualan produk ini masih di bawah Rp 3 miliar. Namun ke depan Phapros optimistis jumlah tersebut akan meningkat seiring dengan tren kecantikan yang berkembang saat ini dan permintaan pasar.

"Serum ini masih diproduksi secara manual oleh Universitas Airlangga, Surabaya, sehingga, untuk saat ini kami belum mematok target yang tinggi untuk penjualan," ujarnya.

Baca juga: Permintaan naik saat COVID-19, Phapros produksi sejuta boks vitamin

Ke depan, Unair  berencana memproduksi sekret metabolit stem cell sebagai bahan baku produk ini di dalam mesin bioreaktor yang akan disertifikasi oleh Badan POM RI. Setelah itu Phapros akan melakukan formulasi bahan baku tersebut dengan memanfaatkan fasilitas produksi anak perusahaan, PT Lucas Djaja, yang terletak di Bandung.

Sebelumnya, pada akhir 2019, Universitas Airlangga dan BPOM RI telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di gedung Rektorat Unair, Surabaya, terkait pendampingan perizinan edar hasil risetnya.

Tiga produk hasil hilirisasi riset yang siap diproduksi adalah stem cell yang bisa digunakan sebagai produk kecantikan hasil hilirisasi riset bersama Phapros, cangkang kapsul dari rumput laut, dan allergen.

Rektor Universitas Airlangga Muhammad Nasih mengatakan produk hasil riset untuk masyarakat tidak cukup hanya skala laboratorium. Untuk produksi massal dan legalitas peredaran produk, dibutuhkan pendampingan dan dukungan dari BPOM.

Di sisi lain, Kepala BPOM RI Penny Lukito menjelaskan kerjasama yang dilakukan dengan Unair berupa pendampingan dan pembinaan dalam mempercepat perizinan, khususnya pendampingan uji klinis karena dalam proses mendapatkan izin edar ada beberapa produk yang harus diuji klinis dulu untuk melihat keamanan, khasiat, dan mutu.

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

UNAIR: Obat COVID-19 diracik dari obat-obatan di pasaran

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar