Pakar sebut JKN-KIS jadi contoh negara-negara lain

Pakar sebut JKN-KIS jadi contoh negara-negara lain

Pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Budi Hidayat dalam webinar tentang tata kelola JKN di Jakarta, Kamis. (tangkapan layar)

Jakarta (ANTARA) - Pakar kesehatan masyarakat menyebut program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia saat ini sedang menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam menerapkan jaminan kesehatan sosial di masing-masing negaranya.

"Justru saat ini kiblat dunia sedang meniru kenapa Indonesia bisa seperti itu," kata pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Budi Hidayat dalam webinar tentang tata kelola JKN di Jakarta, Kamis.

Budi menyebut negara-negara berpenduduk besar seperti India dan China saat ini mulai melirik dan meniru sistem jaminan kesehatan yang dilakukan di Indonesia. "India mulai berpikir seperti yang terjadi di Indoneisa, demikian juga China mereka pun sedang bermigrasi mengikuti pola yang ada di kita," kata dia.

Dia mengatakan Indonesia bisa menjadi satu-satunya negara terbesar di dunia yang menerapkan sistem jaminan sosial dengan sistem pembayaran tunggal. Namun Budi menilai masyarakat Indonesia sendiri saat ini masih menanggap remeh program JKN-KIS yang dilaksanakan oleh pemerintah melihat dari berbagai permasalahan yang ada.

Baca juga: Pasien puji proses mudah Kartu JKN-KIS

"Yang terjadi di masyarakat kita sering under estimate, kita nggak puas dengan apa yang terjadi," kata dia.

Menurut Budi sistem jaminan kesehatan yang dibangun oleh Indonesia ibarat membangun mobil merek Mercedez Benz dengan kualitas kelas atas dikarenakan memberikan manfaat hampir di seluruh pelayanan kesehatan.

Namun, Budi menganalogikan selama ini mobil Mercedez Benz yang dibangun tersebut hanya diberi bahan bakar bersubsidi yang tidak sesuai dengan kapasitas mesin. "Kalau mobil Mercedez bahan bakarnya premium, lama-lama bisa rontok mesinnya," kata Budi.

Budi menjabarkan bahwa sistem jaminan kesehatan dasar terbagi dua, yaitu jaminan kesehatan sosial dan jaminan kesehatan komersil. Jaminan kesehatan sosial memiliki persyaratan yaitu kepesertaannya wajib dan manfaat yang didapatkan dibatasi.

Sedangkan jaminan kesehatan komersil kepesertaannya sukarela seusai keinginan setiap orang namun biasanya berbiaya mahal. Di Amerika Serikat lebih mengedepankan sistem jaminan komersil di mana masyarakatnya harus membeli sendiri produk asuransi kesehatan sesuai kemampuan.

Akibatnya, sekitar 20 juta penduduk Amerika tidak memiliki jaminan kesehatan karena produk asuransi kesehatan komersil memiliki premi yang sudah terlampau tinggi sehingga tidak bisa dijangkau oleh sebagian masyarakat.

Baca juga: BPJS Kesehatan sepakati peningkatan kualitas SDM dengan Lemhannas

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Pendaftaran Dewas dan Direksi BPJS dibuka awal Oktober

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar