Inggris: Tingkat kematian COVID-19 di kelompok Muslim, Yahudi tinggi

Inggris: Tingkat kematian COVID-19 di kelompok Muslim, Yahudi tinggi

Para pekerja dengan memakai pakaian pelindung terlihat di halaman Central Jamis Mosque Ghamkol Sharif, sebuah tempat sementara pengurusan jenazah yang dibangun di dekat masjid di Birmingham, Inggris, Selasa (21/4/2020), saat penyebaran penyakit virus corona (COVID-19) terus berlanjut. ANTARA FOTO/REUTERS/Carl Recine/aww/cfo

London (ANTARA) - Tingkat kematian akibat COVID-19 di Inggris dan Wales di kalangan orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai Muslim, Yahudi, Hindu atau Sikh lebih tinggi dibandingkan kalangan Kristen atau yang tidak menyebutkan agama, kata kantor statistik Inggris, Jumat.

Data terbaru Kantor Statistik Nasional (ONS) itu juga mencerminkan studi sebelumnya, yang menunjukkan bahwa kalangan warga kulit hitam dan kelompok-kelompok etnik minoritas lainnya memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi daripada etnik kulit putih.

Menurut ONS, yang mengkaji data dari awal Maret hingga 15 Mei, tingkat kematian di kalangan Muslim lebih tinggi daripada kelompok lain,  sementara kalangan Yahudi, Hindu atau Sikh juga menunjukkan tingkat kematian yang tinggi.

"Jika aspek etnik diperhitungkan, (ini) menunjukkan bahwa sebagian besar dari perbedaan dalam tingkat kematian ... antara kelompok agama dijelaskan oleh kondisi kehidupan berbeda yang dijalani para anggota kelompok-kelompok ini; misalnya, tinggal di daerah dengan tingkat sosial-ekonomi yang jauh lebih terbatas dan perbedaan dalam karakteristik etnik," menurut laporan ONS.

"Namun, setelah disesuaikan dengan itu semua, laki-laki Yahudi berisiko dua kali lipat lebih rentan dibandingkan laki-laki Kristen, dan perempuan Yahudi juga berisiko lebih tinggi," kata Nick Stripe, Kepala Peristiwa Kehidupan di ONS.

Ia menambahkan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan untuk menjelaskan keadaan tersebut.

Tingkat kematian di kalangan pria Muslim adalah 98,9 per 100.000 sedangkan pada perempuan Muslim adalah 98,2 kematian per 100.000. Di kalangan mereka yang mengatakan tidak memiliki agama dalam sensus Inggris 2011, tingkat kematiannya adalah 80,7 per 100.000 pada pria dan 47,9 kematian per 100.000 pada wanita.

Temuan itu selaras dengan statistik yang menunjukkan bahwa orang kulit hitam dan Asia di Inggris dan Wales lebih rentan terhadap virus corona baru.

Angka menunjukkan bahwa tingkat kematian tertinggi terjadi di antara pria kulit hitam dengan 255,7 per 100.000 dibandingkan dengan 87 kematian per 100.000 pada pria kulit putih. Sementara itu pada perempuan kulit hitam, tingkat kematian adalah 119,8 per 100.000 dan 52 per 100.000 pada perempuan kulit putih.

Data-data itu menegaskan sebuah penelitian resmi awal bulan ini yang menemukan bahwa orang kulit hitam dan Asia di Inggris memiliki risiko hingga 50 persen lebih mungkin meninggal setelah terinfeksi COVID-19.

"Perbedaan signifikan juga terjadi pada pria Bangladesh, Pakistan dan India," kata Stripe.

Sumber: Reuters

Baca juga: Satu dari lima pasien COVID-19 di Inggris tertular di rumah sakit

Baca juga: Imperial College London di Inggris mulai uji klinis vaksin COVID-19

Baca juga: Inggris luncurkan studi penyebaran virus corona di sekolah



 

PM Inggris Boris Johnson positif COVID-19

 

Penerjemah: Gusti Nur Cahya Aryani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar