Kalimantan Selatan kekurangan stok bibit ayam potong, ini dampaknya

Kalimantan Selatan kekurangan stok bibit ayam potong, ini dampaknya

Ilustrasi: Peternak ayam potong di kawasan Cempaka Banjarbaru. (ANTARA/Firman)

Untuk kandang kami mungkin masuk bibit sekitar tanggal 20 Juli nanti.
Banjarbaru (ANTARA) - Melonjaknya harga ayam potong di pasaran dalam beberapa pekan terakhir di Kalimantan Selatan (Kalsel) ternyata disebabkan banyak peternak kehabisan stok bibit.

Menurut salah satu peternak ayam potong di kawasan Cempaka, Kota Banjarbaru, Mini Nor Awalia, kosongnya pasokan ayam potong dari peternak untuk para pedagang memang jadi pemicu utama kenaikan harga daging ayam di pasar.

"Memang sejumlah peternak termasuk saya belum mendapatkan pasokan bibit hingga sekarang. Ada juga yang belum usia panen," terang Mini di Banjarbaru, Jumat.

Diakui dia, kosongnya pasokan bibit untuk peternak  terjadi sejak sebelum Lebaran Idul Fitri lalu atau pertengahan Mei 2020.

"Untuk kandang kami mungkin masuk bibit sekitar tanggal 20 Juli nanti. Saat ini masih proses mempersiapkan kandang seperti kebersihannya, sehingga ketika bibit masuk kandang siap dan ayam tumbuh sehat hingga panen," jelasnya.

Baca juga: Mentan SYL ingin Makassar kembangkan bibit ayam DOC secara mandiri

Baca juga: Kementan bantu rumah tangga miskin dengan bibit ayam


Untuk itulah, ungkap Mini, naiknya harga ayam potong di tingkat pengecer lantaran berlakunya hukum ekonomi, di mana penawaran dan permintaan tidak seimbang yaitu pasokan dari peternak kurang sementara permintaan konsumen tinggi.

"Kondisi kenaikan harga ini terjadi sejak awal Juni seiring berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka pencegahan penyebaran COVID-19, sehingga permintaan tinggi dari masyarakat tidak seimbang dari pasokan ayam dari peternak ke pedagang," paparnya.

Namun begitu Mini memastikan harga ayam potong yang kini menembus Rp45.000 hingga Rp48.000 per kilogram di pasar tidak berpengaruh bagi peternak.

Hal itu, kata dia, karena antara peternak dan perusahaan atau pengepul sudah ada kontrak harga sebelumnya, sehingga naik atau turunnya harga di pasar tidak akan berdampak kepada peternak.

"Harga kontrak terakhir kami Rp20 ribu sewaktu harga di pasar kisaran Rp30 ribu. Jadi kalau kondisi kenaikan harga di pasar sekarang menjadi keuntungan berlipat bagi perusahaan yang memasok ke pedagang," pungkasnya.

Wanita berhijab ini memiliki ternak ayam potong yang sekali panen menghasilkan 6 sampai 7 ton dari masa pemeliharaan sekitar 28 hari sejak bibit datang.

Baca juga: Asosiasi peternak apresiasi kebijakan pembelian ayam ras di 6 provinsi

 

Pewarta: Firman
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar