Srinagar, India (ANTARA News/AFP) - Empatpuluh orang terluka ketika polisi India menembakkan gas air mata dan menggunakan tongkat untuk membubarkan masyarakat Kashmir yang memprotes terhadap kematian seorang anak laki-laki dalam satu unjuk rasa anti-India, kata polisi, Ahad.

Anak laki-laki berusia 12 tahun itu tewas Jumat dalam bentrokan antara polisi dan para pemuda pelempar batu yang berdemonstrasi terhadap pemerintah India di kota Baramulla, 35 Km di utara ibukota musim panas Kashmir, Srinagar.

Baramulla telah dihantam oleh protes keras setelah kematian itu.

Polisi Ahad menembakkan meriam gas air mata dan mengayunkan tongkat untuk membubarkan para pengunjuk rasa, yang meneriakkan: "Kami ingin kemerdekaan" dan "Darah untuk darah".

Pengunjuk rasa yang marah melempar batu pada polisi.

"Sekitar 30 polisi terluka dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa pada Sabtu dan Ahad," jelas seorang jurubicara polisi, yang menambahkan bahwa 10 pengunjuk rasa juga terluka dalam bentrokan itu.

"Pasukan keamanan yang memadai telah dikerahkan untuk mengatasi situasi," ujar seorang jurubicara polisi, yang menambahkan larangan unjuk rasa juga teah diterapkan.

Keamanan juga ketat di kota Sopore yang berdekatan, tempat unjuk rasa yang sama dilakukan terhadap pembunuhan itu.

Separatis veteran Yasin Malik dan 12 anggota partainya telah ditahan oleh polisi Sabtu tepat di luar Srinagar ketika mereka menuju ke Baramulla, kata jurubicara polisi itu.

"Mereka ditetapkan bebas pada malam hari ini," tambahnya.

Sentimen anti-India telah menembus dalam di wilayah yang didominasi-Muslim itu, yang telah dalam cengkeraman pemberotakan dua dasawarsa lamanya terhadap pemerintah India yang telah menyebabkan lebih dari 47.000 orang tewas menurut hitungan resmi.

Tahun lalu wilayah Himalaya yang indah itu menyaksikan beberapa dari demonstrasi anti-India terbesarnya.

Sejak Mei, ada lebih banyak unjuk rasa seperti itu di wilayah tersebut karena yang diduga pemerkosaan dan pembunuhan dua perempuan Muslim yang jenasahnya diselamatkan dari sebuah sungai.(*)

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2009