Wall Street berakhir turun tajam, tertekan peningkatan kasus COVID-19

Wall Street berakhir turun tajam, tertekan peningkatan kasus COVID-19

Ilustrasi - Para pialang sedang bekerja di Bursa Efek New York, Wall Street, Amerika Serikat. ANTARA/REUTERS/pri.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 710,16 poin atau 2,72 persen menjadi ditutup di 25.445,94 poin. Indeks S&P 500 jatuh 80,96 poin atau 2,59 persen menjadi berakhir pada 3.050,33 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 222,20 poin atau 2
New York (ANTARA) - Tiga indeks utama Wall Street mengalami penurunan persentase harian terbesar mereka dalam hampir dua minggu pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah lonjakan kasus virus corona meningkatkan kekhawatiran putaran lain penguncian pemerintah dan memburuknya kerusakan ekonomi.

Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 710,16 poin atau 2,72 persen menjadi ditutup di 25.445,94 poin. Indeks S&P 500 jatuh 80,96 poin atau 2,59 persen menjadi berakhir pada 3.050,33 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 222,20 poin atau 2,19 persen menjadi 9.909,17 poin.

Nasdaq, yang telah mencatat rekor penutupan tertinggi kelima pada Selasa (23/6/2020), mengakhiri kemenangan beruntun selama delapan hari, yang merupakan terpanjang sejak Desember 2019.

Baca juga: Wall Street berakhir menguat, Nasdaq mencapai rekor tertinggi baru

Sesi ini menandai penurunan persentase terbesar untuk ketiga indeks, termasuk penurunan 2,6 persen untuk S&P 500, sejak 11 Juni ketika S&P anjlok 5,89 persen.

S&P 500 menyelesaikan sesi sekitar 10 persen di bawah rekor penutupan tertinggi 19 Februari, sementara Dow Jones Industrials sekitar 14 persen dari rekor penutupan 12 Februari.

Amerika Serikat telah mencatat kenaikan infeksi terbesar kedua sejak krisis kesehatan dimulai, dengan peningkatan kasus di negara-negara bagian di mana pembatasan yang dimaksudkan untuk menahan penyakit tersebut dicabut lebih awal.

Baca juga: Kematian akibat virus corona lampaui 100.000 di Amerika Latin

Gubernur New York, New Jersey dan Connecticut mengumumkan bahwa pengunjung dari negara-negara bagian dengan tingkat infeksi virus corona yang tinggi harus melakukan karantina sendiri selama 14 hari pada saat kedatangan.

"Hari ini, akhirnya hari pasar berdamai dengan fakta bahwa meningkatnya kasus COVID-19 dapat berarti pemulihan yang lebih lambat dalam perekonomian," kata Art Hogan, kepala strategi pasar di National Securities di New York.

Pandemi tersebut tampaknya menyebabkan kerusakan yang lebih luas dan lebih dalam pada aktivitas ekonomi daripada yang diperkirakan sebelumnya. IMF mengatakan sekarang memperkirakan output (PDB) global menyusut sebesar 4,9 persen, dibandingkan dengan kontraksi 3,0 persen yang diprediksi pada April.

Baca juga: Indef nilai kondisi ekonomi nasional lebih baik dibanding negara lain

Ekonomi negara-negara maju telah sangat terpukul, dengan output AS sekarang diperkirakan akan menyusut 8,0 persen, lebih dari dua poin persentase lebih buruk dari perkiraan April.

Saham maskapai penerbangan, resor, dan operator kapal pesiar AS merosot karena perjalanan terpukul oleh kuncian. Royal Caribbean Cruises Ltd, Norwegian Cruise Line Holdings Ltd dan Wynn Resorts semuanya jatuh bersama dengan indeks NYSE Arca Airline.

Operator pelayaran Carnival Corp jatuh 11 persen karena juga menghadapi penurunan peringkat kredit dari Standard & Poor's untuk obligasinya menjadi status sampah.

Baca juga: Minyak anjlok saat stok AS capai rekor baru dan kasus corona meningkat

Sebelum aksi jual Rabu (24/6/2020), serentetan laporan ekonomi yang lebih baik dari yang ditakutkan, mengurangi penguncian dan langkah-langkah stimulus besar telah mendorong Nasdaq ke tertinggi sepanjang masa dan menempatkan patokan S&P 500 di jalur untuk kinerja kuartalan terbaik sejak 1998.

“Pasar tampak cukup percaya diri bahwa kami akan berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dalam 4-6 bulan dari sekarang. Dengan kebangkitan kasus, mereka mulai mengabaikan itu," kata Shawn Cruz, manajer senior untuk strategi pedagang di TD Ameritrade di Jersey City, New Jersey.

Penurunan terbesar di antara 11 sub-sektor S&P utama adalah energi, jatuh 5,5 persen karena harga minyak mentah merosot tertekan berita rekor penyimpanan dan kekhawatiran tentang permintaan.

Baca juga: Saham Inggris terperosok, indeks FTSE 100 kehilangan 3,11 persen

Sektor utilitas turun 0,9 persen, menunjukkan penurunan persentase terkecil karena dipandang sebagai sektor defensif dengan pendapatan yang dapat diprediksi.

Volume transaksi di bursa AS mencapai 13,35 miliar saham berpindah tangan dibandingkan dengan rata-rata 13,31 miliar selama 20 sesi terakhir.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar